Pria kelahiran tahun 1973 ini telah menghabiskan saparuh usia dewasanya di negeri Paman Sam.Bukan sebagai TKI tapi justru pelajar dengansegudang prestasi. Beliau berbagi ceritamenarik tentang pendidikan di luar negeri,perjalanannya meraih gelar doktor, hinggadunia remaja. Asli menarik dan inspiratif. Gakpake lama, silakan nikmati tetesan hikmahhasil interview kang Hafidz dengan pakarpenyakit kanker ini. Monggo…!

Gimana ceritanya Pak Rusdan bisameraih predikat Doktor di usia relatifmuda?


Sebenarnya merupakan kombinasiantara cita-cita, kesempatan, dan ijin Allahta’ala. Doktor usia muda (dibawah 30 tahun)bukan hal aneh di pendidikan tinggi amerika.Karena gelar doktor bukan puncak capaianakademik. Gelar doktor baru sebatas ijazahbahwa ia telah menjalani programpendidikan yang mestinya membuat diamampu berpikir secara independen danmestinya mampu menghasilkan ilmu barudengan melakukan aktifitas penelitian. Makakeberhasilan akademik akan diukur 10-20tahun setelah dia meraih gelar doktor,seperti seberapa banyak mahasiswa S3 yangdia bimbing, berapa banyak publikasi yang iabuat, dlsb. Jadi sejak sma, hingga S3 sayatidak jeda untuk bekerja dulu. Saya baru’semi bekerja’ sebagai postdoc seusai S3.Emang udah cita-cita Bapak meraihgelar doctor hingga ke luar negeri?


Alhamdulillah saya bersyukur sayadilahirkan di keluarga yang menghargaiprestasi ketimbang kekayaan materi. Sayajuga bersyukur memiliki guru-guru SMA yangsangat membangun motivasi. guru kami dulusangat peduli dengan moto ‘otak bolehjerman tapi hati tetap mekah’ dan selaluditekankan ke kami. Guru biologi saya punsangat taat dalam ibadah dan seringbercerita tentang kemajuan sains terutamabidang biologi molekuler.Awalnya saya memang fokus untukmenjadi dokter karena kebetulan saya inginmembantu orang dengan mengobatinya.Sains meski menarik tetapi saya di masaremaja di indonesia belum terpapar dengankehidupan saintis. Namun sejak saya gagalmasuk fakultas kedokteran UNDIP dan UI,saya lalu memutuskan untuk meneruskan keluar negeri.

Waktu SMA saya sempatmenjadi pertukaran pelajar sebelum sayapulang ke indonesia saya sempat mendapatijazah SMA di amerika dan mendaftar keuniversitas di sana. Namun setelah gagalmasuk universitas di indonesia, saya kembalike amerika untuk menemukan kata-kataguru biologi saya dulu.Dan subhanallah, selama S1 sayamagang di MD Anderson Cancer Center (kotaHouston negara bagian Texas, USA). Sayamendapat tugas untuk meneliti mekanismegenetik penyebab kanker. Dari situ sayabelajar bahwa memahami sains danmelakukan eksperimen dalam memahamipenyakit tidak kalah pentingnya denganmengobati penyakit. Dengan penelitian kitabisa menemukan inovasi untukmengendalikan bahkan mencegah kankersebelum terjadi.Paparan magang tersebut menjadibekal untuk bisa melamar S3.Kenapa S3 tidak S2 dulu?


karenadi amerika, tidak ada beasiswauntuk S2 biologi molekuler,tetapi banyak kesempatan untukmendapatkan beasiswa S3. Tapibagi saya bukan sekedar S3,tetapi saya memang memilihpembimbing S3 yangkepakarannya di bidang genetikkanker diakui dunia. Saat itu diindonesia bidang seperti inibelum pernah saya dengar, makasesuai dengan perintah quran utk ‘fasalu alaahl dzikr’ maka saya harus berguru ke luarnegeri. Di jaman saya mayoritas orang indolebih suka belajar bisnis dan engineering diluar negeri. Jadi pilihan saya memangtermasuk langka. Tetapi pilihan itupunkarena termotivasi oleh tantangan quranuntuk memperhatikan bagaimana untadiciptakan, menguasai sains sehingga kitabisa mengapresiasi sang Pencipta.Gimana kesan Bapak cukup selamatinggal di luar negeri sambilmengenyam pendidikan?


Saya tinggal di amerika selama 17tahun (1 tahun sma, 4 tahun S1, 8 tahun S3,4 tahun postdoctoral fellowship). Kira-kiraseparuh umur dewasa saya di sana. Diamerika saya banyak belajar mengenaikeragaman umat islam, problema dandinamikanya. Umat islam di amerika adalahkomunitas yang unik, terbelah antara arusuntuk integrasi (berbaur) atau untuk separasi(memisahkan diri). Generasi awal muslimcenderung untuk separasi dengan membuatkomunitas ‘eksklusif’. Tapi anak-anaknyayang tidak pernah hidup di negeri asal orangtuanya, cenderung untuk integrasi karenabagaimanapun mereka adalah ‘remajaamerika’. Maka di masjid, diskusi seputarintegrasi dan separasi selalu mewarnaiprogram kerja komunitas muslim di sana.Seperti apa sih kehidupan remaja diluar negeri sana?


Apakah seperti difilm-film yang keren, modern, danmaju?
Gambaran remaja dalam film-filmholywood memang tidak jauh berbeda darikehidupan nyata. Perilaku casual sexmemang seperti itulah. Tapi ada beberapahal yang menarik. Remaja di sana dibesarkandalam lingkungan yang menuntut merekauntuk mengekspresikan passion mereka danmempertanggungjawabkannya. Mereka jugadilatih untuk tidak bergantung kepada orangtua. Maka sejak sma mereka sudah bekerjapart-timer di gerai fastfood seperti macdonald sehingga bisa punya uang sakusendiri.

Mereka juga punya kepercayaan diriyang tinggi dengan pribadi mereka.Mereka pun sangat kompetitif dandisalurkan ke banyaknya ajang kompetisibaik olah raga, adu debat, seni, drama,musik. Pendanaan ajang-ajang tersebutditarik dari pajak dan para remaja tidak perlucari dana utk ikut kompetisi-kompetisitersebut, sehingga mereka cukup fokusuntuk mengekspresikan diri mereka secarakompetitif. Jadi peradaban sekuler memangmereka yakini benar-benar bahwa hidup inijangan terlalu di kekang oleh agama.Apakah remaja di sana juga samahebohnya dalam perayaan tahun baruatau valentine days?


Tentu saja, karena kehidupan merekabermuara ke pandangan hidup sekuler danmanisnya hidup adalah dengan bersenangsenang.Merekatidak memiliki konsep’sweetnessof iman’. Bagi merekaiman(faith) justru membosankan tidak menyenangkan sama sekali. Sebisa mungkinmerekamenjauhi agamakecualidalamtradisiritual komunal.Kunjungangerejapunlebihdipentingkanaspek komunalnya(kumpul2)bukanibadahnya.Makabagimerekatidak penting’asal muasal’

tahunbaru(yangmerupakanpraktikpaganyngbertentangandenganagamamerekasendiri).Valentin pun yang asalnya merupakanpenghormatan terhadap ‘wali’ mereka santovalentin, justru di artikan sebagai momenberbagi hawa nafsu. Jadi agama bagi merekasebisa mungkin disesuaikan untukkesenangan hidup, bukan hidup sesuaiagama, jadi kebalik-balik. Yah tapi wajarlah,ini kan mabda’nya sekuler, jadi begitulah.Menurut Bapak, apa masalah yangdihadapi remaja muslim di negerikita?


Krisis jati diri dan hilangnyapanutan. Mungkin mereka menganggapjadi aktifis itu ndak keren, dan jugabarometer kesuksesan sangat kentaldengan akumulasi materi (gadget, gayahidup).Gimana ya biar remaja muslimbisa berprestasi baik dari sisiakademis maupun skill nonakademis?


Memiliki komunitas yang memilikipandangan hidup islam ideologis sangatpenting. Remaja perlu pede bahwa taqwasebenarnya adalah kunci sukses. Merekajuga ndak boleh nge-les kalo prestasiakademik jeblok karena aktif ngaji. Salahbesar itu. Justru mereka harus ingat sabdanabi bahwa sebaik-baik muslim adalahmuslim yang kuat, termasuk kuat dalamakademik dan kuat dalam prestasi nonakademik(olah raga,seni, dan ekskullainnya).

Tapi di sisi lain mereka sebenarnya jugaperlu mentor, semacam ‘kakak’ yang ngertibahasa mereka dan bisa mengarahkan. Itusebabnya komunitas menjadi penting supayabisa saling menguatkan.Banyak remaja yang pengen bangetkuliah di luar negeri. Kayanya hebatdan pasti sukses. Menurut Bapak?

Sukses perlu di definisikan dulu barometernya apa dulu. Karena jangan sampai dalam mengejar kesuksesan jati diri sebagai muslim pun hilang. Maka niat awal itu penting banget. Kalau kita berangkat dengan niat untuk memperkuat barisan dakwah, membuat jaringan dengan anak2 muda muslim, tentu akan dahsyat sekali, karena di luar negeri wawasan kita terbuka tidak hanya di bidang yang kita ingin kuasai, tapi lebih dari itu kesempatan untuk bertemu dengan umat islam dengan berbagai ragam madhab dan pemikiran. Terakhir, ada pesan yang ingin disampaikan ke pembaca drise. Jadikan islam sebagai sumber inspirasi dan motivasi, jadilah ‘orang asing’ (ghuraba) dan bergeraklah dalam barisan pengemban da’wah. []