zaky bersiap-siap pergi ke kampusnya di kota hujan.  Wajahnya suntuk sebab ia menggunakan waktu  Zmalamnya untuk mengerjakan proposal sebuah  kegiatan BEM-nya. Sebagai sekretaris dalam kegiatan rutin  tiap bulan Ramadhan itu, Zaky ingin benar-benar  menyukseskan acara yang kata beberapa temannya itu, sia-sia.

Mahasiswa udah gak mempan lagi dikasih acara  Ramadhan seperti itu. Otaknya udah mampet sama kegiatan  hura-hura yang hedonis. Zaky hanya tersenyum  mendengarnya. Tidak semua mahasiswa menganut paham  hedonisme. “Kapan kamu pulang? Lama sekali kita gak  ketemuan. Waktu kamu pulang beberapa bulan lalu, kamu  gak sempet ke rumahku, Zaky!” suara Willy terngiang di  telinganya. Semalam Willy meneleponnya.

Willy adalah  sahabat kental Zaky sejak SD. Mereka tinggal di perumahan  yang sama. Sampai SMA mereka terus bersama, bahkan selalu  satu kelas. Sampai guru-guru dan teman-temannya sukar  membedakan antara keduanya bahkan seperti saudara  kembar. Memiliki hoby yang sama yakni bersepeda keliling  kompleks.

Mereka sudah seperti saudara yang tak  terpisahkan. “Maaf Wil, kemarin itu aku buru-buru. Jadi pulang  Cuma ngambil printer. Sekarang aku lagi sibuk buat acara  Ramadhan tahun ini. Doakan ya Wil semoga acaranya  lancar…” Zaky merasa bersalah tidak bisa bertemu sahabatnya  itu. Willy tak seberuntung Zaky yang masih bisa merasakan  bangku kuliah. Sebagai anak sulung, Willy harus menopang  kebutuhan keluarganya, apalagi ayahnya sudah meninggal.  Dua orang adiknya masih sekolah. Beberapa bulan lalu Willy  bekerja di sebuah pabrik kimia di kotanya.  

“Ya, sudah kalau begitu. Trus kapan kamu pulang  nih? Aku pengen bersepeda lagi sama kamu. Pengennya sih ke  ujung dunia. Hahaha…” “Ya nanti aku kabari lagi deh ya…” Zaky terhenyak. Sepanjang perjalanan menuju  kampusnya yang terletak di kampus dalam, ia menekuri tiap  jejak yang terlewat. Jalan yang berdebu, penuh hiruk pikuk  manusia yang beraktivitas tanpa henti. Bogor bagai kota sibuk  yang tak pernah mati. Jutaan orang datang ke kota ini untuk  menimba ilmu.  Sebentar lagi puasa… Zaky bergumam. “Zaky!”  

seseorang memanggilnya dari belakang. Zaky menoleh,  dilihatnya Ipan tengah berlari menyongsongnya. “Ada apa Pan?” tanya Zaky setelah Ipan berdiri di  sampingnya lalu mereka berjalan beriringan menuju kampus. “Proposal udah selesai belum? Kita harus segera  nyebarin!” kata Ipan.  “Iya, iya, semalam aku begadang buat  menyelesaikannya.” jawab Zaky. Ipan mengacungkan jempol  sambil tertawa.

***

  Tanpa sengaja, pada suatu  pagi Zaky menemukan album  kenangan SMA-nya. Ia buka tiap  lembarannya dengan seksama. Setelah  kelulusan, ia belum pernah  memerhatikan album itu seperti apa  isinya. Ia melihat profil sekolah dan biodata para gurunya.  Juga biodata para murid seangkatannya. Teman-temannya  yang pernah bersamanya selama tiga tahun. Yang pernah ia  pimpin ketika ia menjadi ketua OSIS dan Willy hanya  mendukungnya tanpa terlibat dalam kegiatan organisasi  apapun.  Zaky termenung, hingga ia tersadar saat HP-nya  berbunyi.

“Zaky! Pulang Zak!”

suara Mamanya di seberang  telepon terdengar begitu khawatir. “Ada apa Ma?” tanya Zaky dengan dada  bergemuruh. “Cepat pulang Nak, Mama dapat kabar kalau Willy  kambuh penyakitnya. Tadi si Bayu adiknya itu nelpon Mama,  katanya Willy sedang….” “Iya Ma! Zaky pulang sekarang!” kata Zaky terburu-buru tanpa mendengar kelanjutan kalimat Mamanya. Ia  bergegas mengambil ranselnya lalu melesat pagi itu juga ke  terminal Baranangsiang. Ia cemas memikirkan Willy.  Sahabatnya itu sejak dulu menderita paru-paru basah.

Setiap  saat, telapak tangan Willy selalu berkeringat. Namun ia tak  pernah mengeluh akan penyakitnya itu. Bahkan ia masih aktif  merokok. Dengan bersepeda, ia dapat melupakan rasa sakit  yang ia derita.  Maafkan aku Wil… Sabar….aku akan datang Wil…  Kita akan bersepeda bersama-sama lagi… Di tengah jalan, ketua OC acara meneleponnya,  menanyakan di mana Zaky simpan proposalnya. Zaky  mendadak kalut. Acara itu tinggal sebulan lagi, sedangkan ia  harus pulang menjenguk Willy. “Kamu ke kost-an aku aja. Di sana ada proposalnya,  tapi belum dijilid.

Nanti kamu yang jilid ya. Aku mau pulang  sebentar, temenku sakit!” jawab Zaky panik. “Jangan lama-lama ya!” pesan sang ketua.  Zaky merasa perjalanan yang ia tempuh kini lambat.  Ditambah lagi dengan kemacetan di Jakarta, yang  membuatnya cemas pada keadaan Willy. Ia bahkan tak berani  melihat HP-nya, takut jika ada kabar buruk yang sampai  padanya.

Deringan ponselnya kian keras memanggil. Akhirnya  Zaky mengangkatnya.  “Zak, Willy…udah nggak ada….” Suara Mamanya  terdengar serak. Zaky tak dapat berkata-kata. Kini harapannya untuk  dapat bersepeda bersama-sama lagi musnah sudah. Tak dapat  lagi ia tertawa-tawa dengan sahabat yang sudah layaknya  saudara kembar itu. Ia menyesal sebab tak ada di  samping sahabatnya selama ia menderita melawan  penyakitnya.

Ia tak dapat melihat kepergiannya demi  mengucapkan selamat jalan. Kini satu-satunya harapan adalah  agar ia dapat menyaksikan jenazah Willy untuk terakhir kali  sebelum dikuburkan. Willy, tunggu aku Willy…! Laju bus terasa semakin lambat. Zaky cemas dengan  perasaan yang bercampur aduk dalam hatinya. Airmata  sempat pula ia teteskan tanpa ia kehendaki. Bayangan Willy  terus bermain di pelupuk matanya. Mengajaknya bercanda. Ia  lemparkan pandangan keluar jendela, hanya ada pohon-pohon yang tampak bergerak meninggalkannya, padahal  dirinyalah yang meninggalkan pepohonan itu. Seperti itulah  dunia.

Terasa bahwa dunia yang meninggalkan kita, padahal  kitalah yang meninggalkannya tanpa kita sadari. Lagi-lagi,  wajah Willy pun menari-nari di setiap tempat yang ia lihat. “Tampaknya kamu gelisah sekali…” seseorang di  sampingnya menegurnya. Zaky sangat kaget melihat orang itu.  Ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya.  “Ada apa?” tanyanya lembut. Zaky terpana. Nggak mungkin! Nggak mungkin!  Willy udah meninggal, kenapa sekarang dia ada di sini!  Gumam Zaky seraya mengucek-ucek matanya. Ia melihat Willy  dengan pakaian favoritnya, kaos bergambar anak-anak remaja  yang bersepeda, dan senyumnya masih seperti dulu. Ah,  mungkin dia mirip Willy, atau aku yang berimajinasi! “Kamu tidak berimajinasi Zak. Ini aku, sengaja  datang kepadamu… Zak, kapan kita bersepeda lagi?” lelaki itu  membuat Zaky seperti hendak terlempar keluar jendela bus  yang kini melaju kencang di jalan tol.

“Ka…kamu…Wil…a…a… kamu….” Zaky tergagap, ia  tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Lelaki yang mengaku Willy itu hanya tersenyum,  membuat bulu kuduk Zaky berdiri. Mana mungkin Willy yang  dikabarkan telah meninggal itu kini ada di sampingnya,  dengan senyum seperti dulu dan masih dengan kata-kata yang  sama. Kapan kita bersepeda lagi? “A!” seseorang menepuk bahunya. Zaky berjingkat  kaget. “Permisi A, ongkosnya!” kondektur bus itu membuat  Zaky terkaget-kaget.  “Man…mana…laki-laki yang tadi ada di sini?” tanya  Zaky heran. “Laki-laki? Dari tadi Aa cuma sendirian di sini, gak  ada siapa-siapa lagi.” Zaky terkesiap. “Trus, yang dari tadi ngobrol sama  saya itu siapa!” “Meneketempe!” kata kondektur bus itu sambil  tertawa.

“Makanya A, jangan kebanyakan tidur! Jadi mimpi  yang aneh-aneh kan? Ongkos dulu A!” kondektur itu  mengacungkan beberapa lembar uang sebagai tanda bahwa ia  adalah kondektur bus. Zaky mengeluarkan dua lembar sepuluh ribuan dan  selembar lima ribuan. Pikirannya masih dibayangi oleh  pertemuannya dengan Willy tadi. Ah, mungkin saja aku  bermimpi… Mana mungkin ada Willy? Tapi, kenapa tadi  rasanya seperti nyata? Seolah Willy hendak mengatakan  selamat tinggal untuk terakhir kalinya

***  

Akhirnya Zaky sampai di Serang, namun ketika  sampai di rumah Willy, rumah itu telah sepi. Orang-orang  sudah mengantarkan jenazah Willy ke “rumah baru” nya. Zaky  belum sempat menyolatkan apalagi memandikannya. Belum  sempat pula ia lihat wajah sahabatnya buat yang terakhir kali.  Ia segera berlari ke pemakaman tempat tinggalnya, dan  dilihatnya para pengiring jenazah sudah mulai kembali ke  rumah masing-masing. Tanah merah sudah berupa gundukan  bertabur bunga. Batu nisan telah tertancap dan keluarga Willy  berada di sekitar makam itu.

Perlahan, Zaky menghampiri gundukan tanah merah  itu. Ia jongkok dan menggenggam tanah itu. Lagi, tanpa ia  kehendaki airmatanya menetes deras. Ia sesali karena selama  ini terlalu sibuk pada kegiatannya tanpa meluangkan waktu  untuk orang-orang terdekatnya. Kini setelah Willy pergi tanpa  sempat baginya mengantarkan jenazahnya hingga ke liang  lahat, Zaky hanya bisa menekuri tanah merah yang bisu itu.  Satu-satu daun kamboja berjatuhan di area makam. Zaky  mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Willy.

“Selamat jalan sahabat…” gumamnya lirih. “Tak ada  lagi sakit. Tak ada lagi yang menjadi bebanmu, Willy… Semoga  kamu tenang di sisi-Nya…” lalu menetes lagi airmata yang tak  mampu ia bendung itu meski ketabahan dan keikhlasan telah  ia tanamkan sedalam hatinya. “Kak Zaky! Sekarang kan Kak Willy udah nggak ada,  Kak Zaky sering-sering main ke rumah ya!” ucap Bayu, adik  Willy yang mewarisi wajah polos Willy.  

Zaky mengusap kepala bocah berusia sepuluh tahun  itu dengan perasaan haru. Ia hanya tersenyum tanpa mampu  menjawab. Ia teringat album kenangan yang belum sempat ia  tutup tadi pagi. Nampaknya ia harus memasukkan nama Willy  dalam daftar orang yang sudah pergi. Dan dirinya masih  berada dalam waiting list untuk menyusulnya.  

Angin sore berhembus. Beberapa teman SMA-nya  datang ke pemakaman dan bersedih seperti dirinya. Gak ada  yang tahu betapa aku sangat berduka hingga merasa bagai  kehilangan setengah jiwaku… Willy… semoga amal baikmu  diterima Allah…[] Teruntuk: semua jiwa yang pasti akan mati…