Anak mami mau mandiri Tapi masih nodong papi Dikit-dikit nyari mami Anak mami pulang lagi

Ini adalah penggalan syair dari lagu  ‘Anak Mami’ yang dinyanyiin group Slank.  Yang ngerasa anak mami boleh tunjuk  hidung. Menurut psikolog Tika Bisono,  konotasi anak mami sampai saat ini  memang buruk, yakni pria manja, tidak  mandiri, segala sesuatu berorientasi pada  ibunya. Nah, menurut Tika, cowok ‘anak  mami’ ada 3 tipe:

  1. Cowok ‘anak mami’ tipe pertama: cowok yang memang sangat perhatian pada sang ibu, tapi masih bisa  bertanggung jawab secara individu,  alias masih bisa mandiri.
  2. Cowok ‘anak mami’ tipe kedua: cowok yang tidak hanya berorientasi pada sang ibu dalam hal pemenuhan domain  needs, tapi juga sudah sampai pada  urusan pekerjaan.
  3. Cowok ‘anak mami’ tipe ketiga: cowok yang out of proportion. Cowok jenis ini amat tergantung pada persetujuan  ibunya, baik untuk keperluan pribadi,  urusan sekolah, sampai pada  hubungannya dengan orang lain.

Heum, tentu kalo Driser sepakat  maka cowok ‘anak mami’ tipe yang ketiga  itulah yang pantas untuk tidak diingini  siapapun, termasuk lawan jenisnya, dan itu  yang akan kita bahas disini. Karena jujur  aja, tipe cowok yang seperti itu masih ada,  bahkan bisa jadi tambah banyak seiring  dengan cara mendidik atau mengasuh yang  salah. Jangan salah asuh “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.  Kedua orang tuanya lah yang  menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau  Majusi” (HR. Bukhari Muslim)

Pada faktanya memang seseorang  yang masih kanak-kanak nggak bisa  menentukan arah hidupnya kecuali atas  bimbingan orang tuanya. Cara orang tua  mengasuh anak ketika masih kecil yang  akan menentukan perilaku anaknya  dikemudian hari. Sementara itu, pada  umumnya porsi yang lebih banyak  mengasuh anak adalah seorang ibu  dibanding ayahnya. Nah, pada kasus anak cowok yang  jadi ‘anak mami’ ini pun begitu. Tapi hal ini  terjadi nggak serta merta ataupun sebagai  sebuah sebab-akibat. Artinya, nggak setiap  anak cowok yang selalu diasuh ibunya akan  otomatis jadi ‘anak mami’. Sekali lagi,  tergantung cara mengasuh dan  mendidiknya. Kalo si ibu sudah semacam ibu  diktator memaksakan cara mendidiknya  yang cenderung feminim, ditambah lagi  dengan porsi memanjakan si anak yang  terlalu berlebihan, maka bisa jadi anak  cowoknya akan jadi anak mami. Karena  memang cowok itu mahluk maskulin, tentu  sifat kelelakiannya ditunjukkan dengan  kemandiriannya. Nah, kalo cara mengasuh  anaknya model begituan berlangsung  sampe anak gedhe bahkan dewasa, maka  peluang anak cowok untuk jadi anak mami  kayak lagunya Slank, jadi lebih besar. Cowok yang menyandang predikat  anak mami sudah jelas menghabiskan  waktunya lebih banyak dengan ibunya.  Sejak kecil dia terbiasa bercerita dan  mendengar banyak cerita dari ibunya.  Fenomena ini akan lebih parah di era  kapitalisme sekarang ini, ketika orang tua  khususnya ayah, lebih banyak sibuk bekerja  diluar, dan menyerahkan sepenuhnya  urusan anak kepada ibunya. Pun  keadaannya akan sama, kalo ternyata si ibu  juga sibuk diluar rumah, entah bekerja atau  aktivitas sosial, sementara urusan anak  diserahkan kepada pembantu, maka segala  fasilitas dan keinginan anak akan dipenuhi.  Saat itulah peluang jadi anak manja yang  merupakan ciri dari anak mami, jadi makin  terpenuhi. Cowok Harus Bisa Diandalkan “Kan bagus, kalo dekat dengan  mami, berarti menghormati mami, apalagi  sama pasangannya nanti”. Iya, kalo pada  sisi itu bisa jadi ada positifnya. Tapi jika  porsi ibu terlalu dominan memperhatikan  detil pada persoalan anak cowoknya, dan  lebih terkesan mendikte, maka si anak  cowoknya akan jadi anak mami. Akibatnya,  si anak merasa tidak mandiri atau tidak  pernah belajar berdikari. Segalanya  ditentukan oleh ibunya, bahasa ekstremnya  ‘pokoke apa kata ibu’. Nah, sebagai anak cowok, tentu  Driser nggak pengin dan nggak boleh jadi  anak mami seperti yang diuraikan tadi.  Kenapa?

Pertama: Secara umum, cowok  ataupun cewek, akan dimintai  pertanggungjawaban atas perbuatannya  sendiri-sendiri. Tidak ada dosa warisan  dalam Islam, sehingga segala perbuatan  kita yang melakukan, kita yang harus  mempertanggungjawabkan.  

Kedua: Apa yang kita lakukan dalam  hidup ini adalah karena hasil pilihan kita,  bukan pilihan orang lain, pun juga orang  tua kita.

Ketiga: Laki-laki dalam pandangan  Islam adalah pemimpin. Bukan sebagai  bentuk dominasi cowok kepada  perempuan, tapi ini sebagai sebuah  kewajiban dan kefitrahan.  

Keempat: Anak cowok adalah calon  penanggungjawab pemimpin bagi  keluarganya, pencari nafkah buat anak  istrinya, maka anak cowok kudu belajar  mandiri.

Kelima: Secara pandangan fikih,  ketika anak cowok sudah baligh maka  pertangungjawaban mencari nafkah sendiri  ada ditangannya. Berbeda dengan anak  cewek, yang akan ditanggung nafkahnya  ketika dia menikah. Makanya dalam Islam  kewajiban bekerja itu ada di pihak laki-laki,  sedangkan bagi perempuan tidak harus  alias mubah-mubah saja. So, jadi cowok itu kudu bisa  diandelin. Kalo emang sayang sama ibu,  nggak harus jadi anak cupu. Kalo deket  sama mama, tak perlu jadi anak manja. Be  gentle! Catet! [LBR]