Majalahdrise.com – Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW sering berkunjung ke kediaman Ummu Haram binti Milhan ra. Beliau merupakan salah satu bibi Rasulullah SAW dari pihak ibu, dan termasuk orang-orang yang pertama kali memeluk Islam. Suatu hari, ketika Rasulullah SAW sedang beristirahat siang di kediaman Ummu Haram, beliau terbangun dan tersenyum sendiri.

Penasaran, Ummu Haram pun bertanya “Apa yang menyebabkan engkau tertawa, wahai Rasulullah?”. Rasulullah SAW menjawab “Aku diperlihatkan sekelompok ummatku yang sedang berjuang di jalan Allah dengan menaiki ombak laut (dengan perahu). Mereka begitu gagah perkasa bak para raja yang sedang duduk-duduk di atas singgasananya“. Ummu Haram pun berkata: “Ya Rasulullah, doakan aku agar Allah menjadikanku bagian dari pasukan tersebut”. Rasulullah pun menjawab “Engkau termasuk orang pertama yang ikut serta pada pasukan tersebut”.

Setelah Rasulullah SAW wafat, wilayah kekuasaan Islam semakin meluas hingga mencapai wilayah Syria. Muawiyah ra. yang ketika itu menjadi wali/gubernur wilayah Syria menghadapi rongrongan pasukan Bizantium (Romawi Timur), yang menyerang wilayah kaum Muslimin dari laut, dengan pulau Cyprus (Qubrus) sebagai batu loncatan mereka. Demi mengatasi hal itu, Muawiyah pun memohon izin kepada Khalifah Umar bin Khattab ra. untuk menyerang pulau Cyprus. Tapi Khalifah Umar tidak memberikan izinnya karena memperhitungkan bahaya dan minimnya pengalaman kaum Muslimin dalam perang laut.

Barulah pada masa Khalifah Utsman bin Affan ra., Muawiyah mendapat lampu hijau untuk menyerang pangkalan angkatan laut Bizantium di Cyprus. Muawiyah kemudian menyiapkan pasukan untuk menjalankan misi berbahaya tersebut yang diikuti oleh para shahabat, salah satunya yaitu Ubadah bin Shamit ra. Pasukan ini tercatat sebagai angkatan laut Islam yang pertama, dan penyerangan Cyprus (649 M/27 H) merupakan serangan laut pertama dalam sejarah Islam.

Termasuk yang ikut serta dalam serangan ini adalah Ummu Haram, yang merupakan istri dari Ubadah bin Shamit. Setelah kaum muslimin mengalahkan pasukan penjaga pantai dan mendarat di Cyprus, Ummu Haram terjatuh dari hewan tunggangannya sehingga beliau gugur syahid karena cedera. Ummu Haram pun dimakamkan di tempat beliau meninggal.

Sementara itu, kaum Muslimin berhasil meraih kemenangan dalam penyerangan Cyprus, padahal pengalaman kaum muslimin dalam perang laut bisa dibilang sangat minim. Cyprus akhirnya menyerah dan bersedia membayar jizyah per tahun sebesar 7000 dinar. Lima tahun kemudian Cyprus pun masuk ke dalam wilayah kekuasaan Islam.

Setelah menaklukkan Cyprus, armada kapal kaum Muslimin kemudian bertolak menuju pulau-pulau lain di Laut Mediteran, di antaranya yaitu pulau Kreta, pulau Rodos dan sebagian besar pulau Sisilia. Dengan hadirnya angkatan laut kaum Muslimin ini, Laut Mediteran menjadi medan perang antara Daulah Khilafah Rasyidah dengan Kekaisaran Bizantium. Padahal, pada saat itu Kekaisaran Romawi Timur memiliki armada angkatan laut yang hebat dan kuat di Laut Tengah. Mereka merupakan salah satu kekuatan militer terkuat di dunia pada zamannya.

Salah satu perang laut yang krusial antara pasukan Islam dengan Bizantium adalah Perang Tiang Kapal atau Battle of the Masts yang juga disebut Ma’rakah Dzatus-Sawariy pada tahun 655 M. Perang ini dianggap sebagai salah satu peperangan kaum Muslimin di laut yang paling menentukan. Sekitar 200 kapal kaum Muslimin yang dipimpin Abdullah bin Sa’ad melawan 500 kapal Bizantium yang dipimpin langsung oleh kaisar Constans II. Berkat pertolongan Allah SWT, pasukan Bizantium hancur lebur bahkan sang kaisar sendiri pun hampir saja tewas kalau tidak melarikan diri.

Kemenangan-kemenangan armada Islam menunjukkan bahwa kaum Muslimin tidak hanya kuat di darat, tapi juga berjaya di lautan. Armada angkatan laut Islam di seluruh Laut Tengah pun menjelma menjadi pasukan terkuat dan tak terkalahkan hingga dua abad berikutnya. Subhanallah…. Dan itu semua terjadi saat kaum Muslimin hidup di bawah naungan Islam dan bingkai daulah Khilafah Islamiyah. Catet![]

di Muat Di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 45