ANTHURIUM CINTA 2 | Majalah Remaja Islam DRise
Monday, September 25th, 2017
Breaking News
You are here: Home >> Monogatari >> ANTHURIUM CINTA 2
ANTHURIUM CINTA 2

ANTHURIUM CINTA 2




Majalahdrise.com – Pertengkaran sore itu masih melekat dalam benakku. Entah apa yang aku rasakan setiap kali aku mengingat kejadian itu. Sejak saat itu, hubunganku dengan kak Raihan benar-benar renggang.Terlebih lagi sekarang kak Raihan mulai sibuk dengan urusan kuliahnya di Makassar.Begitupun denganku yang juga sangat sibuk dengan urusan sekolah dan eskul nge-band.Tak ada komunikasi di antara kami. Sebenarnya aku tidak suka dengan keadaan seperti ini.Tapi, mau gimana lagi semua telah terjadi.

“Kak Raihan… aku merindukanmu,” ucapku dalam hati. Mungkin ia benar-benar lupa denganku. Ia tak pernah lagi mengirimkan sepot bunga Anthurium kesukaanku. Bunga Anthurium pemberiannyapun mulai layu karna akhir-akhir ini aku mulai jarang merawatnya.Ya h… karena kesibukanku.

“Tiitt… tiitt… tiitt…” Nada dering handphone-ku mengagetkanku. Ternyata itu telpon dari mama. “Assalamu’alaikum Via,” sapa mama yang mendahuluiku.

“Wa’alaikumsalam, ma,” jawabku.

“Via, mama sama papa minta maaf yah soalnya hari ini mama sama papa nggak bisa pulang karna mau terus ke Makassar, ada urusan mendadak lagi. Nggak apa-apakan?” tanya mama dengan nada agak ragu-ragu.

“Hmm… Iya, no problem Mom.Kan aku sudah biasa ditinggal sendiri”,

“Baguslah. Kalau begitu sudah dulu yah! Kamu hati-hati,yah! Assalamu’alaikum”,

“Wa’alaikumsalam,” jawabku dengan sedikit kesal. Akhir-akhir ini mama sama papa memang sering ninggalin aku sendiri di rumah karna ada urusan mendadak di Makassar. Jadi, aku merasa sangat kesepian di tambah lagi kegalauanku dengan kak Raihan. Ingatanku kembali pada kak Raihan. Aku merasa aneh karna sebulan terakhir ini ia tidak pernah pulang dan lebih memilih tinggal di Makassar. Ia juga tak pernah ada kabar baik itu di sosmed maupun sms langsung darinya.

“Ah, kak Raihan lebih mentingin urusannya daripada aku,” batinku kesal.

“Kok aku mikirin kak Raihan?Bukannya aku harus marah karna ia menyuruhku keluar dari eskul band yang sudah terlanjur aku cintai itu,” pikirku. *** Pagi itu, rumahku terasa sepi.Sarapan sendiri, tak ada yang menemani.

“Huufftt…” hela nafasku. Aku terburu-buru berangkat ke sekolah karna hari ini aku akan lomba band antar kelas. Semua telah kupersiapkan dengan matang dan aku sangat optimis akan menang. Yah… walaupun tanpa ada dukungan dari kak Raihan.

“Eh, Via. Semua sudah kamu persiapkan , kan?” tanya Irsyad, gitaris bandku.

“Iya, semua sudah siap.Aku yakin kita akan menang!” jawabku optimis. Lima belas menit sebelum acara dimulai. Kulihat seorang wanita berjalan mengarah kepadaku dengan raut wajah yang cemas dan ternyata itu adalah mamaku.

“Via!Kamu harus pulang sekarang.Ada yang harus mama katakan padamu,” ujarnya tergesa-gesa.

“Tapi, acaranya sudah mau dimulai.Ntar aja, yah,” jawabku membujuk.

“Nggak bisa!Harus sekarang!” ujarnya seraya menarikku meninggalkan keramaian. “Kakakmu… Raihan, sekarang ada di rumah sakit di Makassar. Sekarang dia sedang koma,” ujar mama ragu-ragu. Pikiranku terasa kaku dan beku.Tak ada yang dapat kukatakan.Bibirku ikut kaku untuk bertanya lebih banyak lagi mengenai kakakku.

Mungkin sekarang teman-teman bandku mencariku dan mungkin mereka akan marah karna aku, sang vokalis tak ada di sana saat acara. Tapi, aku tak peduli lagi akan hal itu. Pikiranku tertuju pada kak Raihan yang sekarang sedang koma di rumah sakit.Mama yang sedang menyetir juga kelihatan cemas. Kami berdua bungkam, dan tak ada pembicaraan hampir 2 jam di perjalanan. Ketika kami hampir sampai, aku membuka pembicaraan.

“Ma, kok kak Raihan bisa koma, sih?Kan sebelumnya ia sehat-sehat saja, kan?” tanyaku cemas. “Sebenarnya sudah sebulan terakhir kakakmu dirawat di rumah sakit.Tetapi, mama dan papa merahasiakan ini darimu karna kakakmu yang minta agar tak memeritahukan kondisinya kepadamu, ia tak mau kamu terus-terusan sedih,” jawab mama dengan raut wajah yang terlihat sedih.Aku kembali bungkam mendengar jawaban itu.Ternyata sudah sebulan kak Raihan di rumah sakit dan aku baru mengetahuinya sekarang?

“Adik macam apa aku ini?” batinku kesal.

“Kakakmu menderita penyakit 3Meningitis… Kakakmu menderita penyakit ini sudah hampir setahun dan ternyata mama sama papa baru tahu saat kakakmu sudah sangat parah,” sambung mama sambil meneteskan air mata.Tubuhku benar-benar kaku mendengar itu.Akupun ikut larut dalam kesedihan itu.Dan percakapan kami berhenti saat tiba di rumah sakit. Aku merasa deg-degan saat ingin memasuki kamar perawatan kak Raihan.Tapi, ternyata sudah tidak sempat lagi.Kak Raihan sudah tidak ada.Kak Raihan… aku sudah tak dapat berkata-kata lagi.

“Nak, kakakmu sudah meninggal,” sahut papa sambil memelukku. Kulihat seseorang yang sudah tak bernyawa berbaring dengan berbagai peralatan yang masih melekat pada tubuhnya.Orang yang selalu menyemangatiku sekarang berbaring tak bernyawa dihadapanku.

“Kak… maafkan aku yang tak mendengarkanmu. Kak… sekarang aku di sini, aku akan selalu patuh dengan apa yang kakak katakan. Aku tak akan membantahnya lagi. Aku akan keluar dari eskul band, kalau itu yang kakak mau. Kak Raihan… bangun! Aku sudah mau keluar dari eskul band…! Kak Raihan!”. Aku tak sanggup lagi membendung air mataku.Aku menangis sejadijadinya dihadapan kak Raihan.

Aku merasa bersalah dengan kak Raihan.Aku belum sempat mengucap maaf padanya. Dia belum sempat melihatku memakai sebuah jilbab yang dipadukan kerudung, dia juga belum sempat melihatku duduk manis merasakan nikmat dan segarnya berada dalam majelis-majelis ilmu, seperti yang pernah aku janjikan dahulu. Kak Raihan…

“Via… sabar yah!Do’akan kak Raihan agar tenang di sana,

” bujuk mama kepadaku dengan raut wajah yang sangat sedih.

“Via, empat hari yang lalu kak Raihan menitip sesuatu untukmu.Tapi, mama baru ingat sekarang,” ujar mama sambil memberikan sebuah amplop hijau.

Aku mengambil amplop itu dan membacanya di bawah pohon samping rumah sakit.

Assalamu’alaikum, Via sayang! Maafkan kakak yang sudah membuatmu sedih, yang sudah melarangmu ikut eskul band.Tapi, itu untuk kebaikanmu juga.Di dalam Islam ngeband itu dilarang apalagi jika ada unsur ikhtilatnya.Sekarang kondisi kakak tidak mendukung untuk menemui kamu. Mungkin saat kamu membaca surat ini, kakak masih sedang sakit, atau sudah sembuh dari penyakit Meningitis, ataukah mungkin kakak sudah tak ada di dunia ini. Tapi, yang jelas kakak mau minta maaf karna kakak nggak bisa menemani kamu merawat bunga Anthurium kesayanganmu. Oh, iya! Kakak akan mengirimkanmu bunga Anthurium lewat teman kakak. Maaf, yah kalau bunganya terlambat dikirim soalnya kakak baru merasa sehat dan bisa nulis saat ini. Via… Kamu baik-baik, yah! Kakak selalu mendoakanmu di sini.Do’akan kakak agar cepat sembuh, yah.Supaya kita bisa samasama merawat bunga Anthurium lagi.Rawat bunganya baik-baik, yah. Sudah dulu, yah! Jaga diri Salam rindu dari kakakmu Kak Raihan

Kupeluk surat itu dan aku menangis mengingat kak Raihan. Bisa-bisanya dikondisinya yang tak berdaya itu, ia masih mengingat bunga kesukaanku.

“Mengapa kak Raihan yang meminta maaf?Justru harusnya aku yang meminta maaf karna tak mau mendengarkan kakak.Kak raihan, maafkan aku!” ujarku sambil menangis.

***

Saat hari pemakaman kak Raihan, seseorang datang membawa dua pot bunga Anthurium kesukaanku. “Via… perkenalkan saya Fatih, sahabat dekat kakakmu. Ini ada bunga dari Raihan, ia memesan ini untukmu. Tapi, maaf karna saya ada di luar kota beberapa hari yang lalu jadi saya baru sempat memberikannya sekarang,” ujarnya sambil memberikan dua pot bunga Anthorium kepadaku.

“Iya, nggak apa-apa, kak.Terima kasih,” jawabku.

“Hmmm,,, kak Raihan, aku akan menjaga semua bunga Anthurium termasuk Anthurium terakhir yang kakak berikan ini padaku. Aku akan menjadi Via yang kakak inginkan. Aku akan selalu taat pada agama. Terima kasih atas semua perhatian, semangat, dan segala yang pernah kakak berikan padaku. Kan kusimpan dan kan kukenang semua hal yang pernah kita lewati dalam bingkai sanubari. Aku menyayangimu, kak…”[]

 

*Catatan kaki: 1. sejenis bunga tanaman hias; 2. campur baur antar laki” dan perempuan; 3. kanker selaput otak TAMAT

Di muat di majalah remaja islam drise edisi 53




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

eight − 8 =