By Salman Ikandar

Bagi sebagian orang, menulis adalah aktivitas yang merepotkan, menyusahkan, bahkan,  memberatkan. Mereka beralasan bahwa menulis membutuhkan ide, tema, metode, karakter, teori, bahkan alat-alat tulis yang harus setia setiap saat. Ada yang bilang bahwa aktivitas menulis membutuhkan keterampilan khusus yang jauh lebih sulit dibandingkan dengan aktivitas mendengar, membaca atau bicara. Komentar lain juga ikut nimbrung, bahwa menulis memberatkan karena seorang penulis kudu cerdas alias berilmu.

Nah, soal cerdas inilah yang jadi masalah karena gak semua orang suka belajar, doyan baca, hobi diskusi ato  demen meneliti. Sesungguh nya menulis bukanlah perkara yang sulit, repot ataupun berat karena semua orang yang ”normal” dibekali kemampuan  untuk menulis, selama dia mampu berpikir dengan baik. Menulis layaknya ”berbicara”, menyampaikan pesan, gagasan, ilmu ataupun pengetahuan kita kepada orang lain, melalui media. Menulis adalah menyampaikan pesan secara tidak langsung. Jadi, selama kita mampu berpikir dan berbicara maka sesungguhnya kita mampu untuk menulis!

Bahkan, kalo mo jujur, sebagian besar di antara para pembaca D’Rise, tentu pernah menulis, paling gak, nulis pe-er, nulis surat cinta, nulis catatan harian ato diary. Ayo ngaku! Bagi seorang Mukmin, menulis adalah karakteristik yang tak terpisahkan dari dirinya. Pada masa kenabian, para shahabat nabi berlomba untuk menghapal dan menulis alwahyu ataupun al-hadits dari nabi saw.  Hingga pada masa berikutnya, menulis telah  menjadi tradisi intelektual bagi kaum Muslim. Hingga lahir kalangan intelektual Muslim dari rahim peradaban Islam, seperti Imam Hasan al-Bashri, Imam Ja’far ash-Shodiq, Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Ghozali, Imam Bukhori, etc.  Keren!

Nah, kita mengenal dan ngeh sama keilmuan mereka yang mumpuni itu, dari karya-karya kreatif yang mereka wariskan untuk generasi kita saat ini. Melalui buku yang mereka tulis, kita dapat belajar Islam. Inilah yang dikatakan nabi sebagai ilmu bermanfaat yang amal kebaikannnya terus mengalir, sekalipun jasad telah lama dikebumikan. Ilmu yang jadi garansi memasuki surga-Nya. Nah, kalo kita Mo jadi ahli surga, ikuti jejak mereka. Menulis!  

Trus, kalo kita mo serius menggeluti dunia kepenulisan ini, gak sekadar bentuk aktualisasi diri. Aktivitas kepenulisan juga menawarkan prestasi dunia bagi para aktivisnya. Seorang penulis yang karyanya pernah dipublikasikan, tentu dia dapet duit dari karya kreatifnya yang dibaca orang. Bahkan, dia bakal digadang-gadang oleh penerbitnya bak selebriti. Mo contoh kongkret? Liat aja para penulis beken di negeri Si Komo ini, ada Kang Abik, Mbak Asma, Bunda Helvy, Mas Tasaro, Anwar Fuady, Andrea Hirata, Agnes Davognar atau bahkan yang sudah ngepop duluan kek Dewi  Lestari ama Raditya Dika.  

Karya-karya mereka gak hanya nampang di toko buku, diburu para penggemarnya, dibicarakan dalam banyak event tapi juga diangkat ke layar sinetron atau bahkan layar lebar. Asyik banget, kan? Saya sendiri telah merasakan bagaimana melalui aktivitas menulis, saya dapat melepaskan beban stressing ataupun kepenatan dalam menjalani kehidupan. Asyik banget. Ya, menulis seperti mengeluarkan unek-unek, meluapkan angan, meluahkan asa, atau bahkan sekadar curahan hati dan jiwa dalam berkontemplasi.  

Kita dapat melihat pada fakta sejarah, banyak para pejuang yang tetap konsisten dan penuh energi dalam memperjuangkan ide dan ideologinya melalui buku-buku yang mereka  tulis. Ada Syaikh Abu Ibrahim bin Ismail dari al-Quds, Palestina yang konsisten berjuang untuk membangun kembali peradaban Islam dengan banyak menulis kitab islam ideologis, sekaligus dalam upayanya membesarkan partai yang didirikannya.

Di negeri ini, kita pun dapat memetik pelajaran dari para pendiri bangsa, seperti Tan Malaka yang menulis booklet Naar de Republiek Indonesia atau Menuju Republik Indonesia pada 1925, Soekarno yang menulis risalah Mentjapai Indonesia Merdeka pada 1928 atau Mohammad Hatta yang menulis pledoi Indonesia Vrije atau Indonesia Merdeka pada 1933. Para pendiri bangsa ini memiliki visi yang sama yaitu kemerdekaan bangsanya dari semua bentuk penjajahan.  

Tokoh-tokoh yang disebutkan tadi telah menjadikan aktivitas menulis sebagai sarana perjuangan dalam meraih apa yang mereka cita-citakan. Mereka merasa tetap “hidup” dan “dihidupkan” dengan karya-karya yang mereka tulis hingga melampaui zaman. Buktinya, kita yang hidup di zaman high-tech android ini dapat mengenal mereka, kan?    

Selain itu, aktivitas menulis juga dapat menyembuhkan lho. Tuh liat, J.K. Rowling adalah buktinya! Saat dia nulis buku fenomenalnya yang menyabet megabestseller di seluruh dunia, Harry Potter itu, J.K. Rowling tengah mengalami depresi karena sulitnya mendapatkan pekerjaan. Selama sekian lama, J.K. Rowling menghabiskan waktunya di salah satu kedai kopi di pinggiran kota London, Inggris untuk melepaskan beban psikisnya hingga suatu ketika ia mendapatkan ide liar, menulis kisah fiksi imajinasi yang merambah rayah dunia sihir.

Hasilnya, kini, kekayaan materinya diperkirakan melampaui kekayaan Ratu Elizabeth II sekalipun! Menulis tidak hanya mengasyikan bagi J.K. Rowling, namun juga sekaligus jadi psiko ventilasi alias jalan keluar bagi masalah mentalnya yang sedang down! Menulis telah menyembuhkan jiwanya yang tertekan. Nggak percaya? Coba aja Kalo kita lagi suntuk ato tengah sumpek, ayolah… menulis?! Dijamin lega, deh?!     So, menulis itu bukanlah sesuatu yang menyulitkan apalagi memberatkan. Tetapi, aktivitas yang menyenangkan, mengasyikan, sekaligus menyembuhkan! Ayo kita menulis?![]