Seorang ibu tengah asyik memegang  headset audionya di sebuah  Staman. Sayup-sayup terdengar  alunan musik klasik dari gadget itu.  Meski terhanyut, tapi sang Ibu tetep  bisa dengar dengan jelas celoteh  anak-anak yang lagi bermain mengisi libur  sekolahnya. Kok bisa ya? Apa sang  Ibu termasuk bionic women yang  punya daya pendengaran fantastis?  

Jawabannya mutlak bukan. Lantaran  headsetnya dia taro di perutnya yang tengah  hamil. Bukan dikedua telinganya.  Hehehehe… Yup, sebuah penelitian pernah bilang,  musik klasik bagus untuk perkembangan otak  janin. Tapi itu dulu. Sekarang, ternyata  penelitian terbaru menyatakan kalo musik  klasik tidak memiliki pengaruh apapun  terhadap kemampuan kognitif seorang anak.  Itu artinya, mendengarkan musik klasik tidak  mencerdaskan anak sebagaimana yang  selama ini sering digembor-gemborkan  selama lebih dari 15 tahun!

Salah seorang ibu bertutur “Dulu,  sebelum saya mengenal banyak keajaiban Al-Qur’an, saya cenderung memegang  pendapat bahwa musik klasik dapat  merangsang perkembangan otak janin dan  mencerdaskan anak. Tapi, beberapa tahun  kemudian, saya mulai berpikir, jika mozart  yang ciptaan manusia saja bisa  mencerdaskan anak, maka tentu Al-Qur’an  yang merupakan mukjizat yang telah Allah  berikan kepada kita ini lebih dapat  mencerdaskan anak.” Musik Klasik Bukan yang Terbaik Pada tahun 1998, Don Campbell,  seorang musisi sekaligus pendidik, bersama  Dr. Alfred Tomatis yang psikolog,  mengadakan penelitian untuk melihat efek  positif dari beberapa jenis musik.

Hasilnya  dituangkan dalam buku mereka yang di  Indonesia diterbitkan dengan judul ‘Efek  Mozart, Memanfaatkan Kekuatan Musik  Untuk Mempertajam Pikiran, Meningkatkan  Kreativitas dan Menyehatkan Tubuh’. Banyak fakta menarik yang diungkap  Campbell dan Tomatis. Diantaranya, adany hubungan yang menarik antara musik  dan kecerdasan manusia. Musik (klasik)  terbukti dapat meningkatkan fungsi otak  dan intelektual manusia secara optimal.  

Campbell kemudian mengambil  contohkarya Mozart, Sonata in D major K  488 yang diyakininya mempunyai efek  stimulasi yang paling baik bagi bayi. Sedangkan menurut Dra. Louise,  M.M.Psi., psikologi sekaligus terapis musik  dari Present Education Program RSAB  Harapan Kita, Jakarta, sesungguhnya bukan  hanya musik Mozart yang dapat digunakan.  Semua musik berirama tenang dan  mengalun lembut memberi efek yang baik  bagi janin, bayi dan anak-anak. Lebih sering  disebut efek Mozart sebab musik-musik  gubahan Mozart-lah yang pertama kali di  teliti. Dan ternyata itu benar.

Beberapa  orang peneliti dari University of Vienna,  Austria yakni Jakob Pietschnig, Martin  Voracek dan Anton K. Formann dalam riset  mereka yang diberi judul “Mozart Effect”  mengemukakan kesalahan besar dari hasil  penelitian musik yang melegenda ini.  Pietschnig dan kawan-kawannya  mengumpulkan semua pendapat dan  temuan para ahli terkait dampak musik  Mozart terhadap tingkat intelegensi  seseorang kemudian mereka membuat  riset terhadap 3000 partisipator.

Hasilnya  ternyata sangat mengejutkan! Berdasarkan  penelitian terhadap ribuan partisipator itu,  Pietschnig dan rekan-rekannya  menyimpulkan bahwa tidak ada stimulus  atau sesuatu yang mendorong peningkatan  kemampuan spasial seseorang setelah  mendengarkan musik Mozart. Senada dengan Jacob Pietschnig dan  kawan-kawannya, sebuah tim peneliti  Jerman yang terdiri atas ilmuwan, psikolog,  filsuf, pendidik, dan ahli musik  mengumpulkan berbagai literatur dan fakta  mengenai efek mozart ini.

Mereka  mengemukakan bahwa sangat tidak  mungkin mozart dapat membuat seorang  anak menjadi jenius. Penelitian terbaru ini  membantah habis-habisan hasil riset  psikolog Frances Rauscher dan rekan-rekannya di University of California pada  tahun 1993 yang mengemukakan bahwa  musik Mozart ternyata dapat meningkatkan kemampuan mengerjakan soal-soal  mengenai spasial.

Wow…padahal, selama  ini kita sudah terlanjur percaya pada  legenda musik klasik ini, ya? Ayat Suci Al-Qur’an, Yang Terbaik! Al-Qur’an adalah mukjizat yang telah  Allah jamin kemurniannya hingga hari  kiamat kelak. Ada banyak kemuliaan dan  kebaikan yang ada dalam Al-Qur’an. Salah  satunya adalah Al-Qur’an dapat  merangsang perkembangan otak anak dan  meningkatkan intelegensinya. Setiap suara  atau sumber bunyi memiliki frekuensi dan  panjang gelombang tertentu. Nah,  ternyata, bacaan Al-Qur’an yang dibaca  dengan tartil yang bagus dan sesuai dengan  tajwid memiliki frekuensi dan panjang  gelombang yang mampu mempengaruhi  otak secara positif dan mengembalikan  keseimbangan dalam tubuh.

Bacaan Al-Qur’an memiliki efek yang  sangat baik untuk tubuh, seperti;  memberikan efek menenangkan,  meningkatkan kreativitas, meningkatkan  kekebalan tubuh, meningkatkan  kemampuan konsentrasi, menyembuhkan  berbagai penyakit, menciptakan suasana  damai dan meredakan ketegangan saraf  otak, meredakan kegelisahan, mengatasi  rasa takut, memperkuat kepribadian,  meningkatkan kemampuan berbahasa, dsb. Pada asalnya, milyaran sel saraf  dalam otak manusia bergetar secara  konstan. Sel ini berisi program yang rumit  dimana milyar sel-sel di sekitar berinteraksi  dalam sebuah koordinasi yang luar biasa  yang menunjukkan kebesaran Allah. Sebelum bayi lahir, sel-sel otaknya  mulai bergetar berirama secara seimbang.  

Tapi setelah kelahirannya, tindakan masing-masing akan mempengaruhi sel-sel otak  dan cara mereka bergetar. Jadi jika  beberapa sel otak tidak siap untuk  mentoleransi frekuensi tinggi, ini dapat  menyebabkan gangguan dalam sistem getar otak yang pada gilirannya  menyebabkan banyak penyakit fisik dan  psikologis. Seorang peneliti bernama Enrick  William Duve menemukan bahwa otak  bereaksi terhadap gelombang suara  tertentu. Dan gelombang tersebut dapat  berpengaruh secara  positif dan negatif.  Ketika beredar  informasi bahwa  musik klasik  berpengaruh  terhadap  perkembangan  otak  manusia,  banyak  kalangan  menggunakan  musik klasik sebagai obat terapi.

Tapi, Al-Qur’an tetaplah obat yang  terbaik. Terapi dengan Al-Qur’an terbukti  mampu meningkatkan kecerdasan seorang  anak, menyembuhkan berbagai penyakit,  dsb. Ini dikarenakan frekuensi gelombang  bacaan Al-Qur’an memiliki kemampuan  untuk memprogram ulang sel-sel otak,  meningkatkan kemampuan, serta  menyeimbangkannya. Satu lagi, Al-Qur’an diturunkan  dengan bahasa Arab, yakni bahasa yang  memiliki nilai sastra yang tinggi, dan  bahasa nomor satu yang paling sulit untuk  dipelajari. Kita tahu, bahwa tidak ada  satupun dari kita yang mampu menandingi  keindahan bahasa Al-Qur’an. Namun,  tahukah Anda, bahwa ternyata jika kita  mampu berbahasa Arab dapat  memudahkan kita untuk menguasai  bahasa asing lainnya? Anak-anak yang terbiasa membaca  Al-Qur’an disertai dengan memahami  maknanya, ternyata memiliki  kemampuan berbahasa yang lebih baik  daripada anak-anak lain.

Bahkan meski  bahasa tersebut masih asing, ia tidak  membutuhkan waktu yang lama untuk  kemudian menguasainya, insya Allah. Driser, janin usia 7 bulan sudah dapat  merespon suara-suara di sekitar ibunya.  Nah, untuk itulah, penting bagi ibu hamil  untuk banyak-banyak memperdengarkan  Al-Qur’an kepada janinnya. Kita tidak  mengharapkan mereka mengerti dan  memahami apa yang kita baca. Namun,  membiasakannya mendengarkan Al-Qur’an  sejak dalam kandungan, membantunya  untuk tumbuh dengan intelegensi tinggi,  kemampuan berbahasa yang baik, dan  kepribadian yang baik pula. Dan kalo buat  kita yang udah remaja en remaji, pastinya  al-Qur’an gak sekedar bacaan dong. Tapi  dijadikan panduan untuk jalani kehidupan.  Biar hidup jadi lebih hidup! [341, dari  berbagai sumber]