AWAS SIHIR PENGHIBUR | Majalah Remaja Islam DRise
Monday, September 25th, 2017
Breaking News
You are here: Home >> Drise Online >> AWAS SIHIR PENGHIBUR
AWAS SIHIR PENGHIBUR

AWAS SIHIR PENGHIBUR




Majalahdrise.com – ajang pencarian bakat di televisi kian eksis. Telah melahirkan alumnialumni ngetop. Seperti Indonesian Idol, X-Factor, Indonesia Mencari Bakat, Indonesia Got Talent, dan Dangdut Academy. Setiap musim pencarian bakat dibuka, nggak tanggung-tanggung peminatnya. Ribuan, bahkan puluhan ribu. Audisi diadakan di kota-kota besar di Indonesia. Dan setiap audisi, antreannya mengular.

Kebanyakan, tentu kaum muda. Mereka mimpi terkenal dengan cara instan. Seperti Dangdut Academy, yang daftar pada musim ketiga tahun ini mencapai puluhan ribu. “Daftar peserta jika biasanya hanya tiga ribuan, ini sudah puluhan ribu. Apalagi pendaftaran dibagibagi juga, ada yang lewat online juga. Mudah-mudahan kami sebagai juri bisa power full, lebih high class lagi,” kata salah satu juri Dangdut Academy, Inul Daratista. (liputan6.com, 22/10/15). Saking suksesnya, Dangdut Academy bahkan akan dibawa ke level Asia. Jadi pesertanya datang dari seluruh negara di Asia. Kemasannya akan makin spektakuler. Duh!

Sihir Hiburan

Kamu tahu nggak, dari mana asal muasal ajang pencarian bakat kayak gitu? Nggak salah lagi, dari Barat sono. Yup, negeri kita ini memang follower sejati. Benerbener lemah dari sisi kreativitas dan inovasi. Makanya, bisanya cuma ngekor. Apa yang lagi ngetop di Barat, langsung deh diadopsi tanpa malu-malu. Contohnya Indonesian Idol yang menyontek American Idol.

Ternyata, American Idol ini juga nyontek Pop Idol yang awalnya adalah acara kompetisi musik asal Inggris yang dibuat oleh Simon Fuller. Disiarkan pertama 2001 di ITV, tujuannya mencari seorang penyanyi pop dimana bagus atau tidaknya ditentukan oleh jumlah suara dukungan dari para penonton. Acara ini menjadi acara yang paling top dalam format TV dengan munculnya berbagai adaptasinya seperti “American Idol”, “Latin American Idol”, “Indian Idol” dan beberapa internasional “Idol” lainnya. Fenomena ajang pencarian bakat pastinya sangat menyedot perhatian masyarakat. Energi mereka habis untuk mengarahkan pandangan ke sana. Apalagi kalo punya jagoan-jagoan yang lagi berlaga, pasti nggak mau ketinggalan berita.

Tentu saja kondisi ini tanpa sadar telah membenamkan pola pikir buruk di benak remaja. Ajang seperti ini telah mengubah orientasi hidup generasi muda. Para kontestan akhirnya beralih dari cita citanya semula, puas menjadi juara penghibur. Nggak lagi ngejar pelajaran sekolah atau kuliahan. Wong udah tenar, dikejar uang, buat apa sekolah? Sementara bagi kawula muda yang nggak bisa jadi kontestan, jadi penonton pun puas. Yang terbenakkan hanya hiburanhiburan yang menyenangkan. Mereka diarahkan jadi generasi-generasi pemuja kesenangan. Mengagumi panggung hiburan. Mereka terjebak pada aktivitas bersenangsenang.

Nggak jauh-jauh dari dunia hiburan seperti musik, film, artis dan tetek bengeknya. Generasi muda kayak gini kagak ngerti persoalan-persoalan serius bangsa. Nggak peka dan peduli dengan fakta-fakta di sekitarnya yang jauh dari kondisi ideal. Remaja nggak biasa mikir serius, karena otaknya udah diarahkan pada kesenangan. Have fun. Itu aja. Ironisnya, itu juga mayoritas terjadi pada remaja muslim. Na’uzubillahi minzalik.

Remaja, sadar dan bangkitlah!

Tampaknya, Barat emang berhasil mengalihkan umat Islam umumnya dan remaja-remaja muslim khususnya agar mengekor gaya hidup Barat. Salah satunya, yakni memuja dunia hiburan. Maka itu, Barat menciptakan permainan-permainan yang terorganisir atau lahwun munadhamun. Permainan-permainan itu di-setting demikian rapi dan detail untuk membuat umat terlena. Panggung hiburan menjelma menjadi industri besar yang menggerakkan roda perekonomian Barat. Negeri-negeri muslim pun dipaksa untuk mengimpornya. Tak ayal, muatan ideologi dan gaya hidup Barat pun diadopsi besar-besaran di dunia Islam.

Tanpa filter. Remaja yang jauh dari nilai-nilai agama, ikut terlena. Buktinya, nggak sedikit ajang-ajang tersebut juga diikuti muslimahmuslimah berhijab. Udah nutup aurat, tapi kok sengaja masuk kubangan industri hiburan. Sedikit demi sedikit karakter remaja muslim pun luntur oleh sihir permainan dan hiburan. Lantas, mau jadi apa generasi mendatang jika saat ini hanya fokus pada hiburan? Remaja usia belasan tahun yang saat ini terinveksi virus hiburan, adalah caloncalon generasi bangsa untuk 10, 20 dan 30 tahun mendatang. Apa yang bisa diharapkan jika saat ini tidak membekali diri dengan keilmuan, keahlian dan agama yang kuat?

Padahal, kondisi masyarakat saat ini sudah benar-benar rusak. Makin nggak beradab gara-gara menerapkan peradaban Barat. Moral merosot, kejahatan kian kejam, nyawa kian tak berharga, pornografi merajalela, kemaksiatan makin meningkat, dst. Semua itu harus segera diatasi. Dihilangkan. Diganti dengan masyarakat yang beradab. Masyarakat yang berpedoman pada Islam, sehingga hidup penuh kebaikan. Itu jadi tugas kalian juga, para pemuda calon pemimpin masa depan.

Jadi, remaja mustinya menjadi pribadi-pribadi yang sangat serius memikirkan masa depan. Menyiapkan segala potensi diri untuk menjadi calon pemimpin. Calon pengubah keadaan (agent of change). Mengubah peradaban Barat yang rusak jadi peradaban Islam. So, jangan terlena dan tenggelam dalam dunia hiburan yang membius. Sadar dan segera bangkitlah!(*)

Di muat di majalah remaja islam drise edisi 52




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

2 × two =