Majalahdrise.com – Koneksi internet sudah jadi kebutuhan primer di era digital saat ini. Gimana nggak, hampir semua aktifitas keseharian kita digiring untuk selalu terhubung dengan dunia maya. Mulai dari pertemanan, kerjaan kantor, tugas sekolah, sampe pesan makanan juga bisa online. Kita tinggal klik, diam di rumah, tunggu kurir datang, bayar, beres. Gak pake macet dan buang waktu. Asyik guys! Nggak heran kalo orang rela nggak makan yang penting bisa ngenet.

Segitunya… tapi memang faktanya banyak yang bete bin uring-uringan kaya kaum hawa lagi dapet kalo ketinggalan ponsel atau kehilangan sinyal. Serasa kehilangan separuh jiwa gitu. Apalagi penyebabnya sepele, blank spot! Tahu kan blank spot? Itu lho tempat pembuangan air kecil. Ups, itu mah pispot atuh. Hehehe..blank spot itu titik kosong alias daerah yang nggak kebagian sinyal internet. Biasanya di tempat yang banyak gedung tinggi, nggak ada tower BTS, atau malah di wilayah yang masih berhutan. Handphone keren, tapi nggak ada sinyal. Ngenes!

Solusi Blank Spot

Demi menjawab masalah blank spot, raksasa search engine dunia bikin balon internet google yang dikenal dengan nama Project Loon. Mulai diuji coba pada tahun 2013 di New Zealand, Project Loon sejatinya berawal dari program incubator Google X di mana terlibat sejumlah ahli riset terbaik yang dimiliki Google. Konsep awal dari Project Loon terbilang sederhana, yakni menerbangkan router wireless untuk mencari tahu apakah dengan jarak setinggi apakah sinyal yang dipancarkan dari router masih bisa diterima. Ini bukan balon biasa yang mudah menyusut atau diledakan hanya dengan tusukan jarum.

Baloon buatan Google ini memiliki bagian yang mampu menampung udara alias bisa ditiup yang bernama balloon envelope (sampul balon). Bagian sampul ini terbuat dari lembaran plastik polyethylene yang ringan dan fleksibel namun kuat. Dari publikasi resmi Google, jika dalam keadaan digembungkan, ukuran lebar sampul balon Loon mencapai 15 meter dengan tinggi 12 meter. Sampul ini sifatnya kritis, sebab ia yang membuat balon bisa bertahan selama 100 hari di stratosfer. Pada versi pertama, balon udara internet tersebut memiliki diameter 15 meter, di mana setiap balon memerlukan sekitar 12 tangki helium.

Pada tahap awal pengujian, balon yang siap memancarkan Wi-Fi tersebut diterbangkan dengan ketinggian sekitar 10 km dari atas laut. Untuk dapat menerima sinyal Wi-Fi yang dipancarkan maka dipasang sebuah antenna khusus pada rumah-rumah penduduk. Adapun jika dibanding dengan cara kerja ponsel dalam menerima sinyal dari BTS atau menara pemancar selular, maka konsep dari Project Loon berkebalikan dari itu. Yup, jika ponsel yang kita miliki akan menerima sinyal dari satu menara ke menara lain ketika dalam keadaan bergerak sehingga ponsel tetap terhubung. Lewat Project Loon, Google mengganti router wireless yang memancarkan Wi-Fi menjadi jaringan 4G LTE.

Nah, balon-balon tadi justru bergerak secara bergilir untuk terhubung dengan ponsel yang kita gunakan. Bicara mengenai kemampuannya, setiap balon internet tersebut mampu mengudara selama lebih dari 100 hari dengan wilayah cakupan yang mencapai 5000 km per segi. Sementara untuk kecepatan 4G LTE yang bisa diterima oleh pengguna ponsel bisa mencapai hingga 15Mbps. Untuk perangkat Wi-Fi, balonbalon internet tersebut bisa memberikan kecepatan akses yang disebut bisa menyentuh angka 40Mbps. Bila pada tahap awal balon Project Loon diterbangkan dengan ketinggian 10 km dari permukaan laut. Namun, untuk menghindari balon tersebut menggangu lalu lintas pesawat di udara, maka Google menyatakan bahwa balon-balon tadi akan diterbangkan dengan ketinggian 60.000 kaki atau sekitar 20 km dari atas permukaan laut atau dua kali dari ketinggian maksimal pesawat komersial. Mengudara di ketinggian 20 km, balon Project Loon berada di lapisan stratosfer. Mengapa stratosfer?

Dari publikasi resmi di blog Google, angin di stratosfer sifatnya berlapis-lapis, di mana tiap lapisannya memiliki variasi kecepatan dan arah. Nah, dengan bergerak bersama angin, balon Loon dirancang agar bisa membentuk satu jaringan komunikasi yang besar. Tiap balon akan memancarkan koneksi internet 4G LTE ke permukaan dengan jangkauan 40 kilometer dari tempat balon tersebut berada. Balon itu akan mengantar teknologi Long Term Evolution (LTE) dari perusahaan telekomunikasi yang telah bermitra dengan Google Project Loon, yaitu Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata. Rencananya Project Loon akan memasukan masa percobaan pada tahun 2016 dengan pelaksanaan komersial akan memakan waktu 2-3 tahun selanjutnya.

Uji coba Project Loon ini akan melalui 4G LTE di frekuensi 900 Mhz. Google dan para operator akan berbagi spektrum seluler agar masyarakat bisa mengakses internet melalui perangkat ponsel pintar dan perangkat yang sudah mendukung teknologi LTE. Balon Loon menggilirkan trafik nirkabel dari perangkat mobile kembali ke internet global menggunakan link berkecepatan tinggi. Yang jelas, jika satu balon sudah mulai terbang ke luar jalur, maka balon Loon lainnya akan bergerak menggantikan posisinya. Selamat tinggal blank spot! [@Hafidz341]