hajar Aswad kayanya bagian Ka’bah yang paling populer dan  menyedot banyak perhatian, khususnya pada puncak ibadah haji.  Bayangin aja, jamaah haji yang berduyun-duyun tawaf di sekeliling  H ka’bah berlomba-lomba agar bis mendekati Hajar Aswad dan menciumnya.  

Ada yang berhasil, tapi tak sedikit yang tersingkir. Untung-untungan gitu  deh. Ampe segitunya jamaah haji rebutan mencium Hajar Aswad alias batu  hitam. Emang apa keistimewaannya?  Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, Hajar Aswad  turun dari surga berwarna lebih putih dari susu lalu berubah warnanya jadi  hitam akibat dosa-dosa bani Adam. Dan konon cahayanya bisa menerangi  seluruh zajirah Arab.

Subhanallah! Hajar Aswad kini ada di salah satu sudut Ka`bah yang mulia yaitu di  sebelah tenggara dan menjadi tempat start dan finish untuk melakukan  ibadah tawaf di sekeliling Ka`bah. Dinamakan juga Hajar As`ad, diletakkan  dalam bingkai dan pada posisi 1,5 meter dari atas permukaan tanah. Batu  yang berbentuk telur dengan warna hitam kemerah-merahan. Di dalamnya  ada titik-titik merah campur kuning sebanyak 30 buah.

Dibingkai dengan  perak setebal 10 cm buatan Abdullah bin Zubair, seorang shahabat  Rasulullah SAW.  “Hajar Aswad yang sekarang tidak seperti masa nabi Ibrahim ketika  pertama kali membangun ka’bah , namun sekarang hanya beberapa  fragmen,” begitulah yang dikatakan Dr Ahmad Moraei, profesor dari Umm  al-Qura University, seperti dimuat situs Al Arabiya. Lantas, kemana pecahan  batu yang lainnya? Awalnya, Hajar Aswad adalah sebuah batu yang utuh berdiameter  sekitar 30 centimeter tapi pada musim haji tahun 317 H.

Bani Qarmati  mengambil batu itu dan menguasainya hingga 22 tahun. Baru pada tahun  339 H  batu itu dikembalikan ke Mekah oleh Khalifah Abbasiyah Al-Muthi’  lillah setelah ditebus dengan uang sebanyak 30.000 Dinar.  Kisah menarik tentang batu ini adalah ketika masa Rasulluwlah ketika  beliu belum di angkat menjadi nabi. Ketika itu usia beliau 35 tahun. Waktu  itu kota Makkah dilanda banjir besar yang meluap sampai ke Masjidil  Haram. Orang-orang Quraisy menjadi khawatir banjir ini akan dapat  meruntuhkan Ka’bah. Selain itu, bangunan Ka’bah dulunya belumlah  beratap. Tingginya pun hanya sembilan hasta. Oleh karena itu bangsa  Quraisy akhirnya sepakat untuk memperbaiki bangunan Ka’bah tersebut  dengan terlebih dahulu merobohkannya.  

Nah, ketika pembangunan sudah sampai ke bagian Hajar Aswad,  bangsa Quraisy berselisih tentang siapa yang mendapatkan kehormatan  untuk meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya semula. Mereka berselisih  sampai empat atau lima hari. Perselisihan ini bahkan hampir menyebabkan  pertumpahan darah. Abu Umayyah bin Al-Mughirah Al-Makhzumi kemudian memberikan saran kepada  mereka agar menyerahkan keputusan kepada  orang yang pertama kali lewat pintu masjid.  Bangsa Quraisy pun menyetujui ide ini. Allah swt  kemudian menakdirkan bahwa orang yang  pertama kali lewat pintu masjid adalah  Rasulullah saw.

Orang-orang Quraisy pun ridha  dengan diri beliau sebagai penentu keputusan  dalam permasalahan tersebut. Rasulullah pun kemudian menyarankan  suatu jalan keluar yang sebelumnya tidak  terpikirkan oleh mereka. Beliau mengambil  selembar selendang. Kemudian Hajar Aswad itu  diletakkan di tengah-tengan selendang tersebut.  Beliau lalu meminta seluruh pemuka kabilah  yang berselisih untuk memegang ujung-ujung  selendang itu. Mereka kemudian mengangkat  Hajar Aswad itu bersama-sama. Setelah mendekati tempatnya, Rasulullah  saw-lah yang kemudian meletakkan Hajar Aswad tersebut.  Driser, Hajar Aswad menjadi simbol kebesaran Islam. Bayangin aja,  dari jamannya Nabi Ibrahim sampe hari gini, batu hitam itu masih eksis.  Malah meski sudah milyaran mulut menciumnya, tak menghilangkan bau  harumnya. Inilah salah satu kebesaran Allah yang patut kita syukuri dan  makin mendekatkan kita pada-Nya. Amin. [Ridwan]

MISTERI JENIS BATU HAJAR ASWAD

Banyak yang menduga tentang jenis batuan  Hajar Aswad  ini. Ada yang menyebutnya sebagai batu basalt, batu  Bagate atau akik, kaca alami, atau yang paling populer,  meteorit. pada tahun 1974, Robert Dietz dan John McHone  mengajukan pendapat, Hajar Aswad adalah batu akik atau agate.  

Mereka mendasarkan hiopotesisnya pada atribut fisik dan  laporan ahli geologi Arab. Sedangkan Paul Partsch, kurator koleksi  mineral kekaisaran Austria-Hungaria yang menerbitkan catatan  sejarah komperehensif tentang Hajar Aswad pada tahun 1857.

Ia  condong pada dugaan, itu adalah meteorit.  Namun dugaan ini terbantah oleh laporan tentang seputar  pemulihan Hajar Aswad pasca mengalami kejadian pencurian  pada tahun 951 Masehi. Ada laporan, bahwa batu suci itu bisa  mengapung, jika itu akurat, maka itu akan menepis dugaan  bahwa Hajar Aswad adalah batu basalt atau meteorit, sebaliknya  daftar dugaan bertambah, ia adalah kaca atau sejenis batu  apung.

 Apapun jenis batu itu bisakah berbau harum  selamaribuan tahun. Mungkin inilah kebenaran dari hadist  Rasullulah saw bahwa batu ini dari surga. Wallahu a’lam. []