sebagai perempuan, apa perasaan D’Riser jika melihat Ibu-Ibu  lusuh, kumal, kemudian bernyanyi di dalam bus sambil  menggendong seorang bayi dengan suara yang tak begitu  S merdu? Atau pemandangan anak perempuan usia sekolah yang juga  mengamen dan hidup di jalanan?

Mereka membiarkan dirinya tak  terurus dengan baik demi mendulang rasa iba dan mendapatkan  uang receh yang tak seberapa. Namun bagi mereka receh itu pun  berharga. Sangat. Sebagai perempuan, apa perasaan D’Riser jika melihat ada  seorang karyawati yang mendapat tuntutan di kantor untuk memakai  busana seronok demi menggaet pelanggan lebih banyak?

Mereka  dihargai hanya karena paras wajah dan elok tubuhnya saja. Seperti  yang terjadi pada waitress di resto-resto cepat saji, sales promotion  girls di berbagai mall, sekretaris, cashier, teller, operator, dlsb.  Kebanyakan dari mereka diwajibkan untuk tampil semenarik  mungkin dengan dempul kosmetik juga busana super ketat dan mini. Sebagai perempuan, apa perasaan D’Riser jika melihat banyak  sekali perempuan yang saat ini diperdagangkan oleh negara secara  sengaja? Perempuan yang sudah merasa kehabisan kesempatan di  negerinya sendiri untuk mendapat rezeki, sehingga dengan sangat  terpaksa mengadu nasib di negeri orang lain dengan menjadi TKI.  

Banyak dari mereka yang tak memiliki keahlian cukup bahkan hanya  bermodalkan pendidikan ala kadarnya. Sehingga di luar negeri, hanya  bisa menjadi ‘budak’ yang siap diperlakukan apa saja oleh  majikannya. Sedih D’Riser. Sedih sekali. Belum lagi dengan fenomena remaja putri yang sudah tak  peduli lagi dengan kesuciannya. Banyak yang jual diri menjadi PSK,  rela ditiduri oleh pacarnya, melakukan aborsi, menjadi lesbi, atau  menjadi single parent karena hamil diluar nikah.

 Ada  juga Ibu rumah tangga yang lebih banyak di luar rumah,  melalaikan kewajibannya sebagai ummun wa rabbatul  bayt (Ibu/pendidik anak-anak dan Istri/pengatur rumah  tangga). Belum lagi dengan perempuan yang ada di  industri hiburan. Karena tuntutan pekerjaan, mereka  menggadaikan kehormatannya dengan mejeng di  sampul di majalah-majalah dalam tampilan fashionable  yang mengumbar aurat, sexy dan hot pants, kontes-kontes kecantikan, dan masih banyak lagi. Perempuan  negeri ini bahkan dunia, mayoritas sedang tak sadar  sedang berada pada JURANG KEBODOHAN! Jangan Jadi Korban.

 Jadilah Solusi! Kita semua mampu menyebutkan apa-apa saja  ketidakberesan yang saat ini menjangkiti sekitar. Lantas,  apakah kita salah satu korbannya? Bisa jadi. Meski tak  separah dengan saudara-saudara kita yang lainnya  mungkin. Namun sebagai kesatuan masyarakat,  setidaknya kita pun pastilah terkena imbasnya. Sulit  melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, harus bekerja keras  memenuhi kebutuhan hidup, ini-itu serba mahal, yeah, begitu,  dlsb. Merasa pula, “Iya. Gue ini juga korban. Korban sistem!”  

Tak salah terbersit bahwa kita ini korban. Sebab siapa  saja yang terzholimi adalah korban. Sistem yang memisahkan  hukum ALLAH dari kehidupan bernegara ini sudah begitu  menzholimi manusia dunia bahkan yang belum lahir sekali  pun. Namun, ingatlah! Kita ini seorang Muslimah. Mukminah.  Paham mana takdir mana nasib. Hidup di bawah sistem  sekulerisme-kapitalisme adalah nasib. Bukan takdir. Sehingga  sangat jelas itu sangat bisa dirubah. Merujuk firman ALLAH  surah Ar-Ra’du ayat 11. So, yes! Posisikan diri sebagai solusi. Gunakan marah  pada tempatnya. Dan disinilah marah kita dihalalkan oleh  ALLAH.

Marah karena Islam sebagai aturan terbaik dipisahkan  dari kehidupan. Jangan mau terpengaruh dan ikut pada arus  kesesatan yang sudah kadung membiak, tetapi segera  bertindak dengan dakwah. Merubah keadaan! Insyaa ALLAH.  Berjuanglah! Berontaklah! [Hikari

keep calm and carry on!

ini adalah quotes dari Tetsuya Ogawa sebenarnya. Bassist  Laruku yang mengukir kata-kata tersebut di gitarnya. Tapi  bisa juga menjadi inspirasi.

Karena memang menjadi seorang  I fighter dan revolter, bukan berarti harus menjadi pribadi  yang tak mengenal kelembutan, ketenangan, kedamaian. Justru  seorang fighter dan revolter adalah seseorang yang memiliki  wibawa dan kecakapan dalam setiap tindakannya. Dakwah  pemikiran bukan kekerasan. Bukan anarkisme. Mochiron desu.  So, asah terus senjatamu! Senjata itu adalah tsaqofah, do’a dan  karya.

>> Tsaqofah: Sehari dirutinkan membaca buku, up date berita  seputar dunia keIslaman, tilawah-tadabbur Al-Qur’an, disiplin  mengikuti halqoh.

>> Do’a: Di setiap usai shalat wajib mau pun sunnah, di sela  waktu shaum, di penghujung adzan, setiap waktu, berdo’alah  dengan sabar dan sungguh-sungguh.

>> Karya: Menyebarkan Islam lewat berbagai media. Dengan  segala potensi, kemampuan, kebisaan. Selamat muhasabah, selamat memperbaiki diri, selamat  bekerja keras, selamat menjadi manusia yang lebih dekat  padaNya! Raih kemenangan! Be Fighter, Be Revolter! Keep Calm  And Carry On! [Hikari]