drise-online.com – Muhammad al-Fatih. Pastinya udah nggak asing lagi nama sultan ke-7 Daulah Utsmaniyah ini di telinga kita. Kisah perjuangannya menaklukkan kota Konstantinopel begitu inspiratif bin amazing. Siapa saja yang mengikuti kronologis ceritanya, bakal dibuat tercengang binti melongo.

Setelah hampi dua bulan pengepungan, benteng Konstantinopel yang dijaga tembok tebal bin kokoh dengan ketinggian 18 M itu tak kunjung tembus. Serangan via daratan dan lautan udah dijabanin, hasilnya masih nihil. Panglima perang yang sejak baligh nggak pernah ketinggalan shalat tahajud ini berhasil menyebrangkan 70 kapal perang yang super guede dalam satu malam via daratan. Akhirnya, pada tanggal 29 Mei 1453 M Kota yang selama 11 abad tak bisa ditembus musuh ini menyerah pada bertekuk lutut pada Muhammad al-Fatih.

Sastrawan Yoilmaz Oztuna : “Tidaklah kami pernah melihat atau mendengar hal ajaib seperti ini. Muhammad Al Fatih telah menukar darat menjadi lautan dan melayarkan kapalnya dipuncak gunung. Bahkan usahanya ini mengungguli apa yang pernah diilakukan oleh Alexander The Great”

Driser, kisah penaklukkan Konstantinopel ngasih banyak inspirasi bagaimana menjadi seorang juara. Be the winner. Simak!

Pertama, yakin you can. Keyakinan yang kuat akan suatu hal, bakal keliatan dari perilaku kita. Penaklukkan Konstantinopel adalah bisyarah alias kabar gembira yang disampaikan Rasul melalui sabdanya, ““Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”(H.R. Ahmad)

Al-Fatih diyakinkan oleh gurunya, Aaq Syamsuddin bahwa dialah yang dimaksud dalam hadits rasul di atas. Dengan bermodalkan keyakinan kuat akan janji Allah dan kabar gembira dari Rasul, Al-Fatih pantang menyerah dalam menaklukkan Konstantinopel.

Seorang pemenang akan meyakinkan dirinya bahwa dia bisa. Sehingga tak ada prestasi yang mustahil untuk dicapainya. Keyakinan yang kuat akan sebuah keberhasilan, akan mendorong diri dan lingkungan kita untuk berusaha sampe mentok demi meraih cita-citanya.

Kedua, mengubah hambatan jadi tantangan. Penaklukkan Konstantinopel bukan cuman halangan secara fisik yang dihadapi al-Fatih. Tapi juga secara psikis dan mental. Bayangin aja, udah perang hampir 2 bulan, itu benteng masih kokoh aja berdiri. Bukan cuman itu, korban dari pasukan al-Fatih juga udah banyak berjatuhan. Sampe seorang menteri bernama Khalil Pasya menyarankan al-Fatih dan pasukannya untuk kembali. Namun seorang komandan muallaf bernama Zughanusy Pasya menolak, “Tidak, sekali lagi tidak wahai Sultan! Saya tidak akan menerima apa yang dikatakan oleh Khalil Pasya. Kami datang ke sini tidak ada tujuan lain kecuali untuk mati dan bukan untuk pulang kembali.”

Seorang pemenang akan melihat hambatan sebagai tantangan, bukan batu sandungan. Sehingga dia berusaha mencari cara bagaimana cara mengatasi masalah yang dihadapi sesuai dengan kemampuannya. Nggak ada ceritanya, mundur dari medan perang atau kalah sebelum bertanding. Namanya tantangan, datang untuk ditaklukkan bukan ditinggalkan. Catet tuh!

Ketiga, memantaskan diri. Kemenangan nggak datang dengan sendirinya. Tapi mesti disambut dengan persiapan matang untuk meraihnya. Ibaratnya tamu istimewa, sebelum kemenangan datang menghampiri udah disiapkan sambutan meriah plus karpet merah. Itulah proses memantaskan diri untuk menjadi pemenang. Seperti yang ditunjukkan oleh Sultan Muhammad al-Fatih.

Sebelum penaklukan Konstantinopel, berbagai persiapan matang guna memantaskan diri menjadi pemenang dilakukan Al-Fatih. Mulai dari pribadinya yang getol beribadah sampe gak pernah ketinggalan shalat tahajjud. Sejak kecil, beliau sudah digembleng dengan ilmu agama dan ilmu militer yang mumpuni hingga menguasai 7 bahasa. Persiapan pasukannya juga gak main-main. Beliau mempersiapkan 250 ribu pasukan terpilih yang sudah terbina kepribadiannya untuk menjadi saksi penaklukan Konstantinopel. Biar tambah pantas, amunisi perang juga disiapkan dengan maksimal. Diantaranya dengan menyiapkan meriam tercanggih bin terdahsyat saat itu. Meriam Sultan Mehmet II (Berat : 15 ton / Berat Canon Ball : 285 kg) yang sukses menghancurkan benteng pertahananan Konstantinopel. Dengan persiapan yang sangat matang bin serius, wajar jika Konstantinopel berhasil ditaklukkan al-Fatih.

Seorang pemenang, akan memantaskan bahwa dirinya memang layak untuk menyandang predikat the winner. Sehingga mengurangi hal-hal yang menjauhkannya dari kemenangan dan gencar mempersiapkan segala hal untuk mendekatkannya pada kemenangan. Yup, itu namanya memantaskan diri.

Driser, tiga inspirasi dari kisah penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad al-Fatih di atas bisa diteladani untuk menjadikan diri kita seorang pemenang. Pemenang dalam banyak hal yang positif. Prestasi akademis, dalam dakwah, atau pengembangan diri menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungan. Lets be the winner! [@Hafidz341]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #39