Majalahdrise.com – Di dalam kamar Rahmat sedang mengenakan sebuah topi bewarna hitam milik ayahnya. Dia mengenakannya dengan bangga dan gagah. Sebenarnya dia tidak tahu topi itu untuk pekejaan apa.

“Siap grak!” perintahnya pada dirinya sendiri dan langsung saja dia membusungkan dadanya. Topi yang ia pakai hampir menutupi matanya karena topi itu terlalu besar.

“Hormat grak!” perintahnya lagi namun tak hanya dia saja yang mengikuti aba aba itu seseorang tiba tiba datang dan berdiri tepat dibelakangnya juga ikut hormat

“ Ayah” sahut Rahmat.

“Wah anak ayah gagah sekali dengan topi itu.” puji Ayahnya Rahmat pada anaknya itu.

“Rahmat kan ingin menjadi seorang jendral.”

“Oh ya?” tanya beliau. Tiba tiba Ayah Rahmat berdiri dengan tegak.

“Kepada jendral Rahmat hormat grak!” Beliau hormat pada anaknya itu dan sang anak pun membalasnya.

“Ayah itu rantang untuk siapa?” tanya Rahmat penasaran sambil menunjuk rantang berwarna putih yang berada tepat disamping kaki ayahnya.

“Ini untuk kakek Udin.”

“Siapa kakek Udin itu Ayah?”

“Kamu mau ikut Ayah untuk mengantarnya tidak ?”

“Mau!” jawab Rahmat antusias.

7 tahun yang lalu Ayah rahmat bekerja menjadi seorang satpam di salah satu mall ternama di kota itu namun semenjak istrinya meninggal dia berhenti dari pekerjaannya dan beralih profesi menjadi seorang penjual keripik singkong walau pun penghasilannya bisa di bilang kurang tapi dia tetap bersyukur karena ada kebahagian lain yang tidak bisa ia dapatkan saat bekerja menjadi satpam yaitu bisa besama lebih lama dengan anaknya itu.

Perjalanan ke rumah kakek Udin tidak terlalu jauh karena itulah mereka memutuskan untuk melakukan perjalnan hanya dengan berjaln kaki. 15 menit kemudian merekapun sampai didepan sebuah rumah yang kumuh, dinding nya ditumbuhi tanaman parasit, jendela dan pintunya pun sudh hampir lapuk.

“Assalamu’alaikum kakek Udin ” Ayah Rahmat memanggil sang pemilik rumah, tak lama orang itupun keluar hanya dengan menggunakan sarung berwarna coklat dan baju kaos oblong, dia tersenyum dan menyambut dengan ramah.

“Wa’alaikum salam eh Imam dan Rahmat, ada apa?”

“Karena ada sedikit rezki belebih saya dan Rahmat ingin memberi sedikit makanan kepada kakek , ini” Ayah Rahmat memberikan rantang itu dan di sambut oleh kakek Udin dengan senyum yang dari tadi tak pernh hilang dari wajahnya. Senyum itu membuat jiwanya tidak seperti kakek-kakek.

“Ini banyak sekali, saya jadi merepotkan” ucap beliau malu.

“Terimakasih ya Imam semoga dagangan nya makin laris.” tukas kakek.

“Terima kasih kembali, kami pulang dulu ya kek assalamu’alaikum.” Rahmat dan Ayahnya pun pulang.

“Ayah kasihan sekali ya kakek itu, rumahnya kumuh”

“Makanya kita harus selalu bersyukur atas apa yang sudah di beri Allah kepada kita caranya ya bisa seperti tadi, saling berbagi.”

“Ayah, Rahmat ngak mau jadi jendral Rahmat maunya jadi seperti ayah saja menjadi pedagang keripik singkong biar bisa berbagi seperti tadi” Rahmat berbicara dengan polos.

“Pekerjaan kamu nanti harus lebih hebat dari Ayah tetapi jadi apapun kamu nanti kamu tetap harus saing berbagi.”

“Iya ayah Rahmat janji.”

“Anak pintar” beliau memelai rambut anaknya dengan lembut.

“Habis ini temanin Ayah ke pasar beli singkong ya.”

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 45