MajalahDrise.com – Tak terasa Ramadhan tahun ini sudah memasuki 10 hari terakhir. Mengingat kembali bagaimana tahun lalu (2013), pada waktu itu adalah pengalaman pertama saya menjalani puasa di negeri yang terkenal dengan julukan Matahari terbit, Jepang. Tahun 2013, saya tiba di Hakodate, Hokkaido Jepang, pada bulan Januari, untuk mengikuti suami yang sedang meneruskan pendidikan s3 nya di Hokkaido University. Saat itu Hakodate diselimuti salju tebal yang turun setiap harinya. Sebuah kondisi cuaca yang sangat ekstrim bagi saya dan anak-anak yang baru pertama kali melangkahkan kaki keluar dari tanah air tercinta. Menyesuaikan diri dengan perubahan empat musim yang terjadi di Hakodate adalah tuntutan pertama yang harus dijalani saat itu.

Bulan berganti bulan, bulan April, Hakodate mulai menghangat. Hingga tibalah bulan Ramadhan pertama saya di sini. Bulan Juli, sebagai pemula masuknya bulan puasa, Hakodate sudah memasuki musim panas (summer). Entah mengapa, saya merasa suhu musim panas di Hakodate,  terasa lebih panas dibandingkan dengan panasnya suhu di Indonesia. Padahal suhu udara pada saat summer di Hakodate hanya berkisar maksimal 20 derajat celcius. Bandingkan dengan Indonesia yang bisa 10 derajat lebih panas. Inilah salah satu tantangan terberat saya menjalani puasa di sini. Menurut sesama foreigner di sini, mungkin karena kelembaban udara Hakodate sangat tinggi sehingga menyebabkan udara terasa lebih panas, meskipun suhunya sebenarnya tidak terlalu tinggi.

Serunya menjalani puasa pertama di sini juga adalah karena faktor rentang waktu untuk menahan makan dan minum yang 4 jam lebih lama dibandingkan dengan puasa yang biasa saya jalani di Indonesia. Pada saat summer, waktu subuh berdentang mulai pukul 1.55 waktu Jepang, yang artinya saya dan suami harus melakukan sahur sekitar satu jam sebelumnya (12.55). Sementara Maghrib baru akan berkumandang sekitar 19.17 waktu Jepang. Wow, awalnya saya khawatir apakah tubuh saya siap menjalani kondisi ekstrim seperti ini. Namun berbekal keyakinan, Allah tak akan membebani hambanya dengan beban yang melampaui kemampuan si hamba, saya menjalani juga ibadah puasa dengan kemantapan hati. Hasilnya, hehehehe….hari pertama puasa, tubuh lemas! Baru memasuki pukul 7 pagi, perut sudah memberontak mengeluarkan suara-suara protes dan kerongkongan terasa kering. Rupanya tubuh belum sepenuhnya siap diisi dengan makan sahur yang terlalu dini dan harus menahannya selama kurang lebih 18 jam tak terisi lagi. Tapi saya dan suami berusaha istiqomah tak berniat membatalkannya. Saya berkeyakinan, ini adalah proses penyesuaian tubuh dengan perubahan kondisi yang baru. Beberapa hari kemudian, Alhamdulillah tubuh mulai terbiasa. Bahkan pernah satu hari, kami terlambat bangun sahur, hingga sudah memasuki waktu subuh, sehingga kami harus berpuasa tanpa bersahur. Namun ternyata, kami bisa juga melewatinya, meski harus mengurangi beberapa aktivitas untuk menjaga kondisi badan tidak drop.

Tantangan berikutnya berpuasa di Hakodate adalah tentang makanan. Ya, namanya juga bukan negeri sendiri, pastilah jenis makanan yang ada di sini betul-betul berbeda dengan di Indonesia. Baik dari sisi jenis,jumlah,harga dan rasanya. Masakan Jepang sangat ringan dalam bumbu. Mereka cukup dengan shouyu (soysauce)saja pun akan dikatakan oishii (hehehehe). Kalau saya yang makan, seperti tak ada rasa apa-apa. Sehingga pilihan memasak sendiri menu sahur dan berbuka harus dilakukan. Jangan dibayangkan masakan Indonesia yang saya buat akan berasa sama. Sebab saya harus berkompromi dengan bumbu-bumbu yang sangat minim bisa saya dapatkan di sini. Tak ada bawang merah, kemiri, rempah2 segar yang biasa digunakan dalam masakan Indonesia. Jadi bisa dikatakan masakan Indonesia rasa Jepanglah, hambar, hahaha.

Isu kehalalan juga menjadi perhatian serius. Hampir semua produk makanan jadi di Hakodate mengandung bahan-bahan makanan yang dikhawatirkan terdapat unsur pork (babi). Sebab sepertinya daging mamalia yang satu ini sangat disukai di sini. Jadi jangan harap kalau malas masak kami bisa seenaknya melenggang ke restoran terdekat buat bersantap sahur atau berbuka, seperti yang biasa saya lakukan di kampung sendiri (ketahuan malas masak, hehehhee). Hanya beberapa restoran recommended dari teman-teman Indonesia muslim yang sudah terlebih dahulu tiba di Hakodatelah yang berani kami datangi sekali-sekali. Menu seafood atau vegetable saja yang ingredientnya sudah dipastikan tak mengandung bahan-bahan yang diharamkan (seperti daging babi dan alkohol/mirin, sake merah yang biasa digunakan dalam masakan jepang) yang bisa kami santap. Kalaupun kami ingin membeli makanan jadi yang tersedia di su-pa (supermarket), pilihan menunya hanya produk laut dan sayuran juga. Itupun dalam ‘dosis’ sekali makan dan perhitungan harga yang bisa dua kali lipat cost yang harus dikeluarkan dibanding memasak sendiri. Yah, paling aman memang dengan memasaknya sendiri.

Beruntungnya kami, ada toko online yang berada di Tokyo, yang menyediakan bahan-bahan masakan Indonesia (meskipun tak lengkap), yang membantu saya melengkapi rasa masakan Indonesia yang saya buat. Seringnya juga memesan bumbu jadi yang siap olah, untuk mengurangi dan mengefisienkan waktu memasak dan biaya. Daging, tempe dan mie instanpun tersedia, sehingga perut kami tak hanya dimanjakan dengan produk laut saja. Tapi juga bisa sesekali merasakan lagi nikmatnya tempe, yang dulu kalau di Indonesia, sering dicibir-cibir (menyesal, hiks). Karena harga yang mahal , sekali order saya harus bisa mengolah tempe, daging sapi dan ayam, cukup untuk satu bulan ke depan.

Bayangkan tempe yang hanya sekotak (sekitar 275 gram) harus bisa cukup untuk empat perut selama sebulan. Saat mengirisnya, saya pastikan setipis mungkin dan di celup dengan tepung agar menjadi tebal (huhuhu, nangis saya). Tapi apapun itu, saya rasa ini merupakan keberkahan dari Allah buat kami sekeluarga. Bila tak pernah merasakan pengalaman seperti ini, bagaimana bisa kami mengingat untuk selalu bersyukur dengan nikmat dilahirkan di Indonesia yang kaya kuliner dan berlimpah jenis bahan makanan. Ya kan!Tempe tahu, yang katanya makanan rakyat, adalah barang mewah di Hakodate. Harga tempe satu kilo bisa lebih mahal daripada daging ayam dengan berat yang sama.

Masih ada keseruan lain yang bikin ramadhan di negeri matahari terbit makin asyik untuk disimak. Mulai dari masyarakatnya yang terpesona dengan ajaran Islam hingga keseruan summernya. Tungguin sambungannya ya di edisi berikutnya![]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise edisi 48