Bintang di Langit antara sains dan Ramalan | Majalah Remaja Islam DRise
Friday, September 22nd, 2017
Breaking News
You are here: Home >> Amazing Islam >> Bintang di Langit antara sains dan Ramalan
Bintang di Langit antara sains dan Ramalan

Bintang di Langit antara sains dan Ramalan




Majalahdrise.com – Bintang yang berkelap-kelip di langit memang memancarkan pesona. Sejak jaman baheula bintang-bintang di langit selalu diperhatikan umat manusia dan selalu mengundang decak kagum akan keindahannya. Karena perkembangan pengetahun manusia, bintang-bintang di langit juga banyak digunakan sebagai penunjuk waktu dan arah. Hingga kemudian muncullah sebuah bidang ilmu tentang dunia perbintangan yang disebut astronomi (jangan sampe ketuker sama astrologi ya, kalau astrologi itu meramal nasib dengan merujuk pada bintang).

Manusia telah mengenal astronomi sejak lama, dan jejaknya bisa dilacak sejak jaman Sumeria kuno dan Babilonia kuno yang tinggal di kawasan Mesopotamia (sekitar 3500-3000 SM). Bangsa Sumeria telah mengetahui gambaran konstelasi bintang sejak 3500 SM. Mereka pun menggambar keindahan pola-pola rasi bintang pada segel, vas, dan papan permainan. Nama rasi Aquarius yang amat dikenal saat ini berasal dari bangsa Sumeria.

Peradaban-peradaban besar lain di dunia pun telah mengenal astronomi, seperti bangsa Cina, Yunani, dan India. Mereka menggunakan bintang-bintang untuk membuat kalender dan menghitung kapan waktu menanam dan memanen.

Islam pun memberikan sumbangsih yang amat besar terhadap perkembangan dunia astronomi. Pada sekitar abad ke-8 hingga 15 M, terjadi perkembangan pesat dunia astronomi di tengah-tengah umat Islam. Berbagai karya astronomi Islam banyak ditulis dalam bahasa Arab dan dikembangkan para ilmuwan di Timur Tengah, Afrika Utara, Spanyol, dan Asia Tengah. Nama-nama bintang yang kita kenal saat ini pun sebenarnya berasal dari para astronomer Islam. Pada saat itu umat Islam-lah yang menamai bintang-bintang di langit. Beberapa diantaranya sebut saja Aldebaran dan Altair, Alnitak, Alnilam, Mintaka (tiga bintang terang di Sabuk Orion), Algol, dan Betelgeuse.

Banyak banget pencapaian ilmuwan Islam yang sangat penting di bidang astronomi. Al-Khawarizmi selain dikenal sebagai ahli matematika yang menyusun Aljabar, beliau juga ternyata membuat tabel-tabel untuk digunakan menentukan saat terjadinya bulan baru, terbit-terbenam matahari, bulan, planet, dan untuk prediksi gerhana.

Astronomer Islam lainnya seperti Al-Batanni berhasil mengoreksi perhitungan Ptolomeus mengenai orbit bulan dan planet-planet tertentu. Dia juga berhasil memprediksi kemungkinan gerhana matahari tahunan dan menghitung secara lebih akurat sudut lintasan matahari terhadap bumi. Dialah yang berhasil menghitung bahwa setahun itu 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik.

Buku karya Al-Batanni yang amat terkenal tentang astronomi diterjemahkan oleh ilmuwan barat menjadi “De Scienta Stelarum De Numeris Stellarum”. Dan buku ini sampai sekarang masih disimpan di Vatikan lho. Bahkan seorang astronomer zaman Rennaisance seperti Nicolaus Copernicus menyatakan amat berterima kasih kepada Al-Batannia di dalam bukunya yang berjudul “De Revolutionibus Orbium Coelistium”.

Selain al-Khawarizmi dan al-Battani, masih banyak ilmuwan Islam yang ikut mengembangkan ilmu pengetahuan astronomi dunia. Kini, tugas kita untuk meneladani dan meneruskan sekarang adalah terus mengkaji Islam dan terus mengkaji ilmu pengetahuan, agar kelak kita bisa memberikan sumbangsih besar kepada umat. Jangan mau jadi selebritis. Yuk ngaji!!! [@SayfMuhamadIsa]

 

BOX

Observatorium Ulugh Beg

Tempat pengamatan benda-benda angkasa dikenal dengan sebutan observatoriuim. Observatorium pertama di dunia dibangun astronom Yunani bernama Hipparchus (150 SM). Namun, di mata ahli astronomi Muslim abad pertengahan, konsep observatorium yang dilahirkan Hipparcus itu jauh dari memadai. Sebagai ajang pembuktian, para sarjana Muslim pun membangun observatorium yang lebih moderen pada zamannya.

Sejumlah astronom Muslim yang dipimpin Nasir al-Din al-Tusi berhasil membangun observatorium astronomi di Maragha pada 1259 M. Observatorium itu dilengkapi perpustakaan dengan koleksi buku mencapai 400 ribu judul. Observatorium Maragha juga telah melahirkan sejumlah astronom terkemuka seperti, QuIb al-Din al-Shirazy, Mu’ayyid al-Din al-Urdy, Muiyi al-Din al-Maghriby, dan banyak lagi.

Ahli astronomi Barat, Kevin Krisciunas dalam tulisannya berjudul The Legacy of Ulugh Beg mengungkapkan, observatorium termegah yang dibangun sarjana Muslim adalah Ulugh Beg. Observatorium itu dibangun seorang penguasa keturunan Mongol yang bertahta di Samarkand bernama Muhammad Taragai Ulugh Beg (1393-1449). Dia adalah seorang pejabat yang menaruh perhatian terhadap astronomi.

Ghirah astronomi di Samarkand mengalami puncaknya ketika Ulugh Beg mulai membangun observatorim pada 1420. Menurut Kriscunas, berdasarkan laporan yang ditulis ahli astronomi pada saat iru, Al-Kashi aktivitas pengkajian astronomi di Observatorium Ulugh Beg didukung oleh tujuh puluh sarjana. Para ahli astronomi itu mendapatkan perlakukan istimewa dengan fasilitas dan gaji yang luar biasa besarnya.

Observatorium ini beroperasi selama 50 tahun. Sayangnya, setelah Ulugh Beg meninggal, obeservatorium itu pun mengalami kehancuran. Sejumlah astronom telah lahir dari lembaga itu yakni, Giyath al-Din Jamshid al-Kushy, Qadizada al-Rumy dan `Ali ibn Muhammad al-Qashji. Observatorium yang terakhir milik Islam dibangun di Istanbul tahun 1577, di zaman kekuasaan Sultan Murad III (1574-1595) yang didirikan Taqi al-Din Muhammad ibn Ma’ruf al-Rashyd al-Dimashqiy. (Dikutip dari Harian Republika)

Di muat di majalah Remaja Islam drise Edisi #43




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

eleven − 4 =