Majalahdrise.com – Pada abad ke 14 Masehi, dunia dihantam suatu wabah penyakit terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Wabah mengerikan itu menyebar di sebagian wilayah Asia termasuk di Timur Tengah, namun, wilayah yang menderita paling parah adalah di Eropa.

Puncak wabah terjadi tahun 1347-1351 yang memusnahkan 2/3 penduduk Eropa, dan terus berulang selama puluhan tahun hingga korban wabah ini mencapai 100 juta orang di seluruh dunia. Wabah inilah yang kini dikenal dengan “Black Death”. Hiii… Seraam…

Black Death memasuki Eropa tahun 1347 ketika 12 kapal dagang dari Genoa mendarat di pelabuhan Messina, Sisilia, setelah perjalanan panjang melalui Laut Hitam. Tapi, rakyat yang ada di pelabuhan dikejutkan dengan kondisi kapal-kapal tersebut. Mayoritas kru kapal ditemukan dalam kondisi mati bergelimpangan, sedangkan yang masih hidup, sakit parah dan mengerang-erang kesakitan. Selain demam tinggi, tubuh mereka juga dipenuhi bengkakan hitam yang mengeluarkan darah, karena itulah penyakit misterius ini disebut “Black Death”.

Menyadari bahaya yang mengancam, armada kapal ini pun dibuang ke tengah laut, namun sayang sudah terlambat. Penduduk Eropa yang tak siap dengan wabah ini pun terjangkiti, dan dalam jangka waktu 5 tahun kemudian menelan korban hingga 20 juta orang Eropa. 16 d’rise #54 februari 2016 Naudzubillah…. Sastrawan Italia, Giovanni Boccaccio, menuliskan gejalagejala penyakit ini, yaitu pembengkakan di sekitar paha atau ketiak, yang ratarata sebesar telur sampai buah apel. Nanah dan darah merembes keluar dari bengkakan hitam ini, yang disertai dengan demam, muntahmuntah, diare dan rasa sakit, dan beberapa hari kemudian penderita meninggal.

Penyakit ini juga sangat menular, orang yang di pagi hari sehat dan bugar, bisa tertular di malam hari dan besoknya sudah menjadi mayat. Menurut penelitian, penyebab wabah ini diduga kuat adalah bakteri yang disebut Yersina pestis. Bakteri ini menginfeksi kutu dan tikus dan bisa menular melalui gigitan, bahkan melalui udara. Tapi, yang membuat penyebaran wabah sangat cepat adalah tikus-tikus yang ada dalam kapal laut yang hinggap dari pelabuhan ke pelabuhan.

Tak lama setelah membantai penduduk Messina, wabah ini menyebar ke pelabuhan di Mersailles, Perancis, dan pelabuhan Tunis di Afrika Utara, kemudian mencapai Roma dan Florence, yang merupakan pusat perdagangan. Di pertengahan tahun 1348, Black Death sudah mewabah di paris, Bordeaux, Lyon dan London. Tak banyak yang bisa dilakukan pada orang yang sudah terlanjur ketularan selain menunggu ajal. Yang bisa dilakukan penduduk adalah mengumpulkan mayatmayat untuk dikubur secepatnya di kuburan masal yang ada di setiap gereja.

Banyak juga mayat yang jadi santapan anjing karena ada kuburan yang terlalu dangkal. Sementara itu, orang-orang yang panik mengurung diri di rumah, bahkan tak sedikit yang kabur ke luar kota. Kakak meninggalkan adik, istri meninggalkan suami, bahkan bapak ibu pun meninggalkan anak sendiri yang sakit. Tapi kemanapun mereka lari, wabah Black Death selalu menyusul. Bukan cuma manusia, wabah ini pun menjangkiti sapi, kambing, domba, babi dan ayam.

Bahkan sangat banyak domba yang kena wabah sampai-sampai Eropa mengalami kelangkaan wool. Dahsyatnya wabah ini membuat orang Eropa percaya bahwa ini adalah semacam hukuman Tuhan atas segala dosa manusia. Ada yang pasrah total, bahkan menganggap berobat itu dosa karena melawan kehendak tuhan. Ada juga yang bertobat dengan menyiksa diri.

Bahkan yang paling gila adalah dengan menyalahkan dan membasmi para pelaku “bid’ah dan churafat” (menurut ajaran Kristen). Akibatnya ribuan orang Yahudi dibantai oleh Kristen di tahun 1348-1349, dan ribuan lainnya terpaksa kabur ke timur. Antara abad 14 sampai 17 M, Black Death datang dan pergi menghantui Eropa. Salah satu faktor yang mempengaruhi terhentinya penyebaran wabah adalah kesadaran akan kebersihan yang semakin meningkat.

Kita patut bersyukur lahir di masa ketika ilmu kedokteran dan pengobatan sudah berkembang pesat. Walau penyakit itu sendiri belum punah, tapi infeksi yang terjadi bisa ditangani dengan antibiotik bila terdeteksi cukup dini. So, tetap waspada dan jaga kebersihan![]

Dimuat di majalah remaja islam drise 54