drise-online.com – Hari gini, remaja mana yang gak punya akun di sosial media. Entah itu twitter, facebook, path, instagram, pinterest, atau linkedin. Kalo pun ada yang belum punya, mungkin tempat tinggalnya emang belum tersentuh peradaban dunia digital. Pasti dia termasuk kategori Pejabat alias Pemuda Jaman Batu. Wkwkwk….Emangnya Flinstone?

Sosial media udah jadi rumah kedua bagi remaja. Tempat mereka berbagisuka, duka, dan pastinya curhat ala one line status. Karakter sosial media yang terbuka tanpa harus bawa surat keterangan domisili dari kelurahan saat mendaftar, memancing penggunanya untuk seenak udel nyantumin identitasnya. Walhasil, identitas palsu merajalela di jagat sosial media.

Akun palsu

Akun palsu maupun duplikat yang ada di Facebook terus bermunculan dan bertambah. Mulai dari menduplikat nama akun yang asli hingga membuat akun dengan nama yang aneh. Padahal akun-akun itu tidak dalam keadaan aktif, tetapi tetap eksis bila dicari di Facebook. Jumlahnya pun begitu fantastis.Pihak Facebook mengatakan, telah memiliki lebih dari 100 juta akun palsu maupun duplikat. Jumlah itu cukup mengejutkan karena angkanya mewakili hampir 8% pengguna aktif bulanan yang dimiliki Facebook.(http://agc.my.id/05092598/akun-palsu-di-facebook-capai-100-juta/)

Seolah biasa, pengguna sosial media ngerasa wajar aja membokis ria di dunia maya. Mulai dari penggunaan namanya yang dibikin secentil mungkin seperti “CantiCemungudhCelalu…”. Ada juga yang pasang foto profil punya orang maen comot aja biar keliatan keren. Tampang yang pas-pasan tapi foto-foto yang diuploadnya menawan. Ini modus penjahat kelamin.

Aslinya pengangguran, tapi profilnya ditulis pemilik usaha jual beli smartphone online. Biar pada yakin, statusnya dijejali gambar gadget terbaru dengan harga miring hampir terguling. Smartphone sekelas Galaxy S5 seharga 10 juta cuman dibandrol 3 juta. Bilangnya barang Black Market, jadi murah. Padahal modus penipuan. Sialnya, ada aja yang jadi korban. #TepokJidat

Banyak alasan orang pake identitas palsu di sosial media. Pertama, agar kehidupan nyatanya gak terganggu oleh perilakunya di sosial media yang suka ngebully atau bikin rusuh. Kedua, dalam rangka memuluskan cybercrime alias kejahatan online. Ketiga, untuk kepentingan marketing. Soalnya ada akun-akun sosial media yang dibuat emang buat pemasaran suatu produk atau jasa.

Nggak heran kalo di negerinya Jet Lee, pemerintah merapikan pengguna weebo (sosial media sebangsa facebook) agar daftar ulang dengan mencantumkan nama asli sesuai kartu identitas. Kaya masuk sekolah aja pake daftar ulang. Gitu deh. Kata pemerintah China, biar gampang diciduk kalo ada yang tengil ngomongin pemerintah di sosial media. Malah di Rusia muncul wacana undang-undang untuk mendenda pemilik akun palsu social media. Jumlah dendanya pun tak main-main. Pemilik akun ‘aspal’ terancam denda USD 150 ribu atau setara Rp 1,8 miliar.Nah lho?

Buat kita sebagai remaja muslim yang imut bin istiqomah, banggalah dengan nama pemberian orang tua. Sosial media tempat kita nyari pahala. Jangan dikotori dengan perilaku bokis alias berbohong ria. Biar kata orang lain nggak tahu siapa kita, tapi Allah dan Malaikat selalu melihat dan mencatat setiap amal kita. Be your self! [@Hafidz341]

 

BOX:Budaya Bokis Sosial Media - DRISE-ONLINE.COM

Hukum Membuat Akun Palsu di Facebook

Membuat akun palsu pada dasarnya adalah membuat akun bukan dengan nama sebenarnya. Misalnya seseorang bernama A tapi di Facebook membuat akun dengan nama B.Hukumnya secara syar’i bergantung pada faktanya (manath), berhubung faktanya tidak tunggal, melainkan ada beberapa macam, yakni sebagai berikut :

Pertama, hukumnya makruh jika nama yang digunakan tujuannya untuk menyembunyikan nama asli dan nama itu bukan nama atau panggilan sehari-hari. Misalkan seseorang bernama asli “Yono”, sehari-hari dipanggil “Yono”, tapi di Facebook membuat nama baru dengan akun “Simbah Maridjon”.

Kedua, hukumnya mubah dan tidak apa-apa, jika nama yang digunakan bukan nama asli tetapi nama itu sudah menjadi nama baru bagi yang bersangkutan dan digunakan sebagai panggilan dalam kehidupan sehari-hari. Misalkan seseorang bernama asli “Sigit”, tapi di Facebook namanya “Shiddiq”, dan nama “Shiddiq” ini sudah menjadi nama baru bagi orang itu dan juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, hukumnya haram jika nama itu adalah nama atau identitas orang lain, baik orang itu sudah meninggal atau pun masih hidup. Hal itu tidak dibolehkan karena termasuk kedustaan (al kadzib) atau penipuan (al ghisy) yang telah diharamkan oleh syara’.Sabda Rasulullah SAW :”Barangsiapa menipu kami, maka dia bukan golongan kami.”(HR Bukhari no 164).

Sumber: www.syariahpublications.com

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #39