“Ada satu kota kecil/kecamatan di Miyagi-ken (Minamisanri-ku) di mana  penduduknya hilang dan lenyap tanpa bekas akibat tersapu Tsunami  setinggi 10 Meter tersebut. Jumlah penduduk sekitar 10.000  jiwa hingga  saat ini belum ditemukan.” [Japan Aftershock hlm 64]

Buku yang sangat menarik untuk dibaca. Di buku ini banyak banget  kisah-kisah inspiring yang bisa membuat jiwa-jiwa orang  BIndonesia yang letoy jadi menegap. Karena memang saya sendiri,  ngerasain ada banyak energi kebaikan yang bisa didapat usai  membacanya. Mulai dari halaman pertama ajah udah bikin ritme jantung  saya menggelegak. Jepang yang luluh lantak akibat sapuan gelombang  Tsunami 9 SR pada 11 Maret 2011 lalu, itu ga lantas bikin Jepang mati!

Dikisahkan dengan lihai oleh penulis, betapa tangguh en tegarnya rakyat  Jepang dalam menghadapi musibah. Gempa dahsyat, Tsunami yang benar-benar tanpa ampun  menghancurkan tiga prefektur Jepang (Miyagi-ken, Fukushima-ken, dan  Iwate-ken) bahkan Kota Hachinohe, prefektur Aomori juga mengalami  kerusakan yang cukup parah karena berdekatan dengan prefektur  tersebut, Jepang masih harus mengalami dampak serius akibat  permasalahan reaktor nuklir Fukushima Daiichi no. 1, 2, 3 dan 4 (no. 5  dan 6 dipastikan sudah terkendali).

Hal ini jelas menjadi pukulan keras  bagi seluruh rakyat Jepang tak terkecuali pemerintah Jepang (PM Naoto  Kan, Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko, Putra mahkota; Pangeran  Naruhito dan Putri Masako, anggota militer, Fukushima Fifty dlsb),  hingga petinggi TEPCO, Masataka Shimizu (yang sangat bertanggung  jawab atas kesalahan fatal reaktor nuklir Fukushima Daiichi).

Tapi meski pun babak belur, Jepang dengan ketenangan dan  semangatnya yang membara luar biasa, mampu sedikit demi sedikit  bangkit dari keterpurukan. Di buku ini, penulis bener-bener ngegambarin  banget akan sikap orang Jepang yang anti keras dengan yang namanya  kesedihan yang berlarut-larut. Sedih emang manusiawi.

Tapi hidup ini  perjuangan, jadi ga boleh menyerah kalah! Maketenaide kudasai! Harus  tetap terus melangkah ke masa depan! Ue wo muite arukou! Bencana alam 11 Maret 2011 yang dialami Jepang dinyatakan  merupakan bencana alam termahal di dunia. Data yang dirilis oleh Nihon  Keizai Shimbun, total kerugian bencana alam dari segi material  diperkirakan lebih dari US$ 309 Milyar atau 25 Trilyun Yen.

Yang jika  dirupiahkan sekitar Rp. 2800 Trilyun! Tapi sungguh mengagumkan,  karakter manusia Jepang yang tidak suka dikasihani, selalu semangat,  tidak berlama-lama larut dalam kesedihan, kerja keras, disiplin, tertib  dan bahu membahu itulah, akhirnya sedikit demi sedikit mampu  memulihkan kondisi Jepang baik dari segi ekonomi dan infrastruktur  terutama.

Dan itu memang hanya bermodalkan semangat (ganbarou)  saja sebenarnya. Saya banyak melongo, berdecak kagum saking nggak  percayanya, ngakak karena banyak hal aneh juga yang saya baca disini,  dan berkali-kali bilang “masa sih?” atau “sumpeh loe?” terhadap  penuturan penulis. Habis banyak hal yang saya baru tahu tentang Jepang  dari buku ini.

Karena, selain buku ini mengungkap kisah-kisah inspiratif,  dipaparkan pula sudut pandang penulis mengenai kultur masyarakat  Jepang yang unik dan menggelitik. Jadi, bisa dibilang, buku ini bagus juga  buat motivasi. Ya pokoknya saya jamin deh kamu bakal puas baca buku ini.  Dengan cerita gigihnya pemerintah Jepang dalam  memulihkan kembali jalan Tol Great Kanto Highway yang  retak en terbelah hanya dalam waktu satu minggu, atau  dengan cerita gimana Jepang menghadapi krisis listrik en  radiasi akibat amukan reaktor nuklir Fukushima Daiichi,  kisah menegangkan seorang rakyat Jepang yang berkacak  pinggang en memaki PM Naoto Kan hingga memunculkan  sikap PM Naoto Kan menolak untuk digaji selama krisis  nuklir belum usai, sampai kisah menegangkan petinggi  TEPCO yang bertanggung jawab penuh atas fatalnya PLTN  Fukushima Daiichi mengundurkan diri dari jabatannya  karena merasa gagal menjaga amanah yang telah  diberikannya? Semua itu bisa kamu dapatkan di Japan  Aftershock ini. So, beli dahhh!

Ini bagus banget buat renungan  kita semua. Buku ini ngegaplok kita banget (remaja Muslim)  yang masih suka ambruk sama keadaan en mudah  menyerah kalah. Kita juga akan merasa kian rindu untuk  menjadikan Islam sebagai tata aturan bermasyarakat.  Sebab, jika masyarakat Jepang saja bisa melakukan sesuatu  yang mengagumkan hanya dari 1 modal yakni semangat  (ganbarou) saja, masyarakat Islam pasti bisa berjuta-juta  kali lipat lebih mengagumkan. Manifestasi hukum Islam  untuk masyarakat en negara kan jelas banget postingnya.  Tul ga?! [Hikari]

 

 

Penulis : Hani Yamashita & Junanto Herdiawan

Penerbit : Jogja Bangkit Publisher [Anggota Ikapi]

Cetakan : I, 2012; 140 X 210 mm; 240 hlm  

Harga : Rp. 45.000,- (sudah termasuk PPN