Makjleb yak liat judulnya? Jangan baper dulu dund. Itu slogan yang perlu kita inga inga mulai saat ini dan seterusnya. Kenapa? Ehm. Karena eh karena, godaan akhir zaman semakin menggeliat dan bertaburan di mana-mana. Oiya, judul di atas adalah salah satu plesetan dari gombalannya tokoh film remaja saat ini yang lagi in. Salah satu gombalan yang receh, so ngga ada yang perlu kita ambil.

Antara Kita, Baligh dan Mukallaf

Apa itu Baligh dan Mukallaf? Sama ngga sih keduanya? Ayo kita cari tau. Ternyata ada dua istilah yang seringkali disebut kalo kita lagi ngomongin hukum dalam fikih, yaitu baligh dan mukallaf. Kadang-kadang ada yang suka ketuker atau ngga salah memaknai kedua kata tersebut.

Dalam pandangan fikih, secara tegas baligh adalah kondisi di mana seseorang sudah mencapai usia dewasa secara biologis. Bagi perempuan, berupa haid dan bagi laki-laki berupa mimpi basah. Bagi seseorang yang sudah mencapai usia 15 tahun tetapi belum menemui tanda-tanda kedewasaan secara biologis di atas tadi, maka Fikih menyebutkan bahwa orang tersebut secara otomatis dianggap baligh. Hayo, kalian udah pada baligh apa belum?

Nah sekarang kita kenalan sama mukallaf. Ternyata baligh merupakan salah satu kriteria yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang mukallaf selain muslim dan berakal sehat. Muslim adalah kondisi di mana seseorang sudah mengikrarkan syahadat. Sedangkan berakal sehat adalah kondisi ketika akal seseorang berfungsi secara normal. Jika ketiga kriteria ini terpenuhi mulai dari muslim, berakal sehat, dan baligh, maka orang tersebut masuk dalam klasifikasi mukallaf.

Lalu apa itu mukallaf? Mukallaf adalah seseorang yang sudah mendapatkan beban (taklif) berupa syariat. Ia sudah berkewajiban menunaikan seluruh perintah dan menjauhi larangan syariat Islam. Baginya, syariat sudah berlaku, baik hukum yang bersifat taklifi (wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram) dan seluruh dimensi syariat. Singkatnya, ia sudah menjadi subjek hukum yang sempurna.

Sebagai subjek hukum yang sempurna, maka mukallaf terikat dengan ketentuan syariat yang mengatur mana yang boleh dan mana yang tidak, mana yang dianjurkan untuk dilaksanakan dan mana yang dianjurkan untuk dijauhi. Ia juga sudah mendapatkan hak dan kewajiban secara sempurna. Maka setiap tindak tanduknya hanya akan dapat dua kemungkinan. Pahala dan dosa.

Maksiat Versus Taat

Hidup ini kalo ngga maksiat, ya taat. Kalo ngga maksiat, ya melakukan aktivitas yang bernilai ibadah. Maka kalau ngga dapet pahala ya dapet dosa. Lalu apa aja sih yang masuk kategori maksiat n taat? Sebenernya gampang bener. Kalo kita ngelakuin yang diperintahkan Allah, maka disebut taat berbuah pahala. Nah kalo kita ngelanggar yang Allah larang itulah yang disebut maksiat dan berbuah dosa. Easy kan yak?

Nah, Allah itu Maha Baik. Allah menyembunyikan segala aib kita selama di dunia. Kebayang ngga sih kalo Allah nandain kita pake 1 titik untuk 1 dosa di wajah kita. Macamnya, ngga bakalan berani kita keluar rumah karena banyak titik-titiknya. Aib kita, dosa kita selama ini ditutup sama Allah. Ngerasa sering buat salah ngga sih? Mulai dari boong sama orangtua mungkin, minjem uang gopek sama temen tapi ngga dikembaliin dari tahun lalu mungkin, suka ngebully temen mungkin, atau kita suka ghosob. Do you know what is ghosob? Ghosob is you, you, and you minjem barang orang lain tanpa izin. Hayo lho…

Oiya, jangan kelupaan. Bisa jadi kita selama ini seriiiiiiiiing banget maksiat sama Allah. Contohnya, kita ninggalin solat 5 waktu. Ehm. Padahal nanti ibadah yang paling pertama dihisab itu solat. Eh tapi yang ngerasa udah solat 5 waktu, ngga boleh lho ongkang ongkang kaki gitu aja. Karena banyak kewajiban lain yang harus kita lakukan. Misalnya, puasa dan bayar utang puasa. Udah pada bayar belon? Ramadhan sebentar lagi lho.

Atau yang udah pada solat 5 waktu, bukan berarti ngga ada kewajiban nutup aurat. Menutup aurat adalah kewajiban ketika kita berada di luar rumah dan bertemu orang yang bukan mahrom kita. Nah kita ngga boleh milih-milih ibadah yang kita senengin aja. Ada lho yang getol banget solat karena doi percaya banget sama penelitian kalo solat itu bisa menyehatkan badan. Tapi dia buka lagi auratnya begitu beres solat. Atau ada juga yang seneng shaum sunnah. Shaum daud malahan. Tapi dia bukan ngejer sunnahnya. Tapi ngejer langsingnya. Hadeuh hadeuh… Padahal Allah akan ngasih kita imbalan sesuai niat awal kita doing something. Kalo mau solat niatnya cuma sehat dan niat shaum cuma langsing singset, ya bakal itu doang yang didapat.

Emang maksiat endingnya happy?

Ngga banget. Mana ada maksiat yang endingnya happy. Meskipun ketika kita melakukan maksiat, kesenangan sesaat yang akan kita dapatkan. Pak De Rhoma Irama juga pernah bilang, kenapa yang enak-enak itu diharamkan. Eaaakkk. Ada yang tau ngga tuh ama lagu itu? Hati-hati dengan kesenangan sesaat dari yang kita lakukan. Karena balasan atas kemaksiatan kita itu banyakan dipending sampai di akhirat. Oh wooww.

Mungkin kita pernah nanya, “Emang seberat apa sih dosa kalo kita bermaksiat itu?”. Well, emangnya mau masuk neraka? Do you know kalo api di neraka itu beribu kali lipat panasnya di dunia. Buat kamu yang ngerasa udah ga mempan sama yang namanya api, yang suka gaya-gayaan matiin api di lilin, ngga bakalan sama deh. Buat kamu yang selama ini jago debus, sama punya tenaga dalem, juga ngga bakalan mempan sama panasnya api neraka.

Mau tau hukuman di neraka yang paling ringan? Nih dia nih…. Disebutkan dalam Shahihain, dari hadits Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang yang diletakkan dua buah bara api di bawah telapak kakinya, seketika otaknya mendidih.” (Muttafaq ‘Alaih, sebagian tambahan Al-Bukhari, “sebagaimana mendidihnya kuali dan periuk.”

Dalam   redaksi lain, “Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang memiliki dua sandal dan dua tali sandal dari api neraka, seketika otaknya mendidih karena panasnya sandal tersebut sebagaimana kuali mendidih. Orang tersebut merasa bahwa tak ada seorang pun yang siksanya lebih pedih daripadanya, padahal siksanya adalah yang paling ringan di antara mereka.” (HR. Muslim)

Nah, di neraka nanti bakalan banyak yang keGeeRan kalo siksaan buat dia udah pedih bener. Kalo makan yang pedes tuh semacam udah level paling tinggi, padahal eh padahal justru itu siksa yang paling ringan di neraka. Pada merinding ngga sih baca terjemahan hadis di atas? Kalo ada yang masih bilang, ah itu mah urusan ntar, bakalan didoain deh supaya yang maksiat segera kembali ke jalan yang bener.

Penyesalan di akhirat adalah penyesalan yang tiada terkira. Sampai-sampai digambarkan, mereka menggigit tangannya sendiri sebagai bentuk penyesalan dan kerugian. Berangan-angan kalau saja ia dikembalikan lagi ke dunia maka ia akan menjadi orang beriman yang baik. Namun penyesalan itu tak lagi ada gunanya. Sebagaimana dalam ayat

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang lalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”.” (QS. Al-Furqan: 27). “Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta kami akan menjadi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-An’am: 27)

 

Taqwa wanna be.

Menjadi orang yang bertaqwa adalah cita-cita yang harus kita raih sekuat tenaga. Mau lulus UN aja kita sampe kursus di bimbel sama privat segala. Apalagi kita yang mau meraih syurga firdaus Allah SWT. Godaan pasti ada dan ngga jarang kita harus menahan diri dari kesenangan yang bersifat sementara. Kita punya pacar yang kita idam-idamkan hanyalah kesenangan sesaat. Apa yang bisa dibanggakan dari sebuah status *in a relationship* kalau di facebook. Apalagi kita sampai bermuram durja seolah-olah kita adalah jomblo paling ngenes di seantero sekolahan hehe. Tenang bro sist, kita masih bisa kok menjadi para johap alias jomblo happy. Kita bisa berkreasi dengan banyak aktifitas positif yang berpahala. Contohnya, banyak-banyak ikut kajian keislaman. Udahlah nambah temen, nambah ilmu lagi.

Supaya kita makin kuat dan bisa meringankan langkah kita menjadi seorang individu yang taqwa, maka carilah teman yang juga taat kepada Allah swt. Karena seorang teman adalah cerminan bagi yang lainnya. Maka, carilah teman yang sholih/sholihah, mereka adalah seorang teman yang in syaa Allah akan bisa saling menguatkan satu sama lain sehingga mudah-mudahan bisa menjadi teman di dunia dan teman di surga nanti. Maka carilah teman surga. Wah, sama seperti nama buletin kesayangan kita ini ya? hehe…

Maka jika kalian telah menemukan teman sholih/ah itu, peganglah erat-erat mereka. Bisa saja karena nasihatnya, kita bisa meraih syurga Allah. Bisa jadi teman yang kadang kita anggap menyebalkan karena selalu mengajak pada kebaikan itu justru yang menyelamatkan kita di akhirat. Dan pada saat itu mungkin kita bersyukur, alhamdulillaah selalu diingatkan pada kebaikan. Temen surga itu temen yang selalu ngajak kita kepada kebaikan. Bukan mereka yang selalu iya in kemaksiatan kita. Karena sesahabat-sahabatnya kita sama sahabat kita, kalau ada sahabat yang tinggal kelas, ngga bakalan deh ada yang mau nemenin. Apalagi klo sahabat kita masuk nereka, ih ngga banget deh mau nemenin ke sana. Na’udzubillaah.

Maka, mengajilah, karena dengan ngaji kita akan tau mana maksiat mana yang taat. Dan dengan ngaji, akan buat hidup kita jauh lebih bermakna. Dan percayalah, karena dosa itu berat, jadi jangan coba-coba bercita-cita mau jadi orang pendosa atau mau lama-lama di neraka. Na’udzubillaah.. So, ngga usah baper sama celaan orang ketika kita berusaha  jadi muslim/ah yang taat. Kita doakan agar orang yang mencela itu segera berubah dan menjadi baik  dan kita bisa barengan endingnya di syurga Firdaus Allah swt. Tetap semangat menebar kebaikan kawan.

Buletin Teman Surga 004. Jangan Maksiat, Dosanya Berat, Kamu Gak Akan Kuat