“Barang siapa yang keadaan amalnya hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia terlaknat. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung.” (HR. Bukhari).

Man-teman, kalo menyimak hadits di atas, apa yang ada dalam benakmu dan apa reaksimu? Ngerasa tertampar, atau biasa-biasa aja? Hemm… harusnya sih kita merasa orang yang merugi kalo nyatanya kita hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin. Sebaliknya, kita bakal bahagia banget kalo hari ini bisa lebih baik dari hari kemarin. Nah, makanya itu berubah menjadi lebih baik dari hari sebelumnya harus jadi komitmen kita. Kalo, bahasa yang lagi fenomenal saat ini, disebut dengan istilah “Hijrah”.

Yes. Secara bahasa, kata al-hijrah merupakan isim (kata benda) dari fi’il hajara, yang bermakna dlidd al-washl (lawan dari tetap atau sama). Kalo dibentuk dalam kalimat kayak “al-muhajirah min ardl ila ardl” (berhijrah dari satu negeri ke negeri lain); maknanya adalah “tark al-ulaa li al-tsaaniyyah” (meninggalkan negeri pertama menuju ke negeri yang kedua). [Imam al-Raziy, Mukhtaar al-Shihaah, hal. 690; Imam Qurthubiy, Tafsir al-Qurthubiy, juz 3, hal. 48]

Sedangkan secara istilah, al-hijrah bermakna berpindah (al-intiqaal) dari satu tempat atau keadaan ke tempat atau keadaan lain, dan tujuannya adalah meninggalkan yang pertama menuju yang kedua. Adapun konotasi hijrah menurut istilah khusus adalah meninggalkan negeri kufur (daar al-Kufr), lalu berpindah menuju negeri Islam (daar al-Islaam).[Al-Jurjaniy,al-Ta’rifaat, juz 1, hal. 83]. Pengertian terakhir ini juga merupakan definisi syar’i dari kata al-hijrah.

Kalo disederhanakan, hijrah artinya adalah pindah, dari suatu tempat ke tempat lain, dari suatu keadaan ke keadaan yang lain (Ash-Shihhah fi al-Lughah, II/243, Lisan al-‘Arab, V/250; Al-Qamus Al-Muhith, I/637). Sehingga kallo kita bilang kita berniat hijrah, atau kita sudah berhijrah, tapi faktanya kita masih diam saja alias nggak tergerak untuk berbuat baik, itu belum masuk kategori hijrah menurut arti di atas. Kita nggak akan disebut hijrah, kalo kita masih tetap di tempat yang lama. Pun kita belum bisa dikatakan hijrah, kalo ternyata kita masih sama dengan sebelum kita hijrah.

Koreksi Niat Hijrah

Kenapa sih kita harus koreksi niat hijrah kita? Ya, kalo niat hijrah kita bener maka kita nggak capek alias bisa istiqomah berhijrah. Nggak mood-moodan hijrah, kalo lagi mood aja semangat hijrah tapi, kalo lagi bete, hijrahnya jadi futur. Nah, tentu kita nggak mau seperti itu kan? Makanya penting kita koreksi nih, niat hijrah kita karena apa, atau karena siapa. Yuk coba kita simak hadits berikut.

Dari Amirul mukminin, Abu Hafsh, Umar bin Khaththab ra. berkata,

“Aku mendengar Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ”Segala perbuatan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan (pahala) dari apa yang diniatkannya. Barangsiapa berhijrah untuk mencari ridha Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa berhijrah untuk mencari dunia atau untuk seorang perempuan yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya hanya untuk itu”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Para ulama memasukkan hadits niat ini di awal pembahasan kitab-kitab mereka. Hal ini dilakukan tentu bukan tanpa maksud dan tujuan. Bahkan hadits ini masuk dalam 70 bab masalah fiqh. Imam Syafi’i rahimahullahu mengatakan bahwa hadits ini merupakan sepertiga dari ilmu. Dan Imam Abu Dawud rahimahullahu bahkan mengkategorikan sebagai separuh dari agama. Abdullah Bin Mubarak berkata :

“Berapa banyak amal yang besar menjadi kecil karena niatnya, dan berapa banyak amalan yang remeh menjadi besar karena niatnya”.

So, niat memiliki peranan penting dalam aktivitas kita sehari-hari. Karena niat meskipun letaknya di awal dalam setiap perbuatan yang hendak kita lakukan, akan tetapi niat juga menentukan tujuan akhir dari hidup kita. Ibarat kita berpergian, niat adalah bekal yang kita akan bawa, jika bekal yang kita bawa salah dan kurang, maka akan memperburuk perjalanan dan bisa jadi nggak sampai pada tujuan yang benar.

Gimana niat itu penting apa penting banget? Pastilah penting banget ya, karena niat menjadi salah satu komponen suatu aktivitas disebut perbuatan baik (khayr) ataukah buruk (syahr). Komponen yang lain adalah kesesuaiannya aktivitas kita dengan perintah dan larangan Allah SWT. Dua komponen ini tidak boleh terpisah satu sama lain. Salah satu saja tidak benar alias tidak sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan al-Hadits, bisa tidak tergolong amal (perbuatan) yang shalih (amal baik). Misalnya, niatnya salah meskipun aktivitasnya sudah sesuai dengan tuntunan, tetap aja nggak bisa terkategori amal shalih. Pun sebaliknya, niatnya udah lurus mencari ridha Allah, tapi caranya nggak berkesesuaian dengan cara yang dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya, itu pun bukan amal shalih, tapi amal salah, hehe…

Jadi niat itu penting sekali apa penting banget? Penting banget ya, bukan penting sekali, kalau penting sekali berarti pentingnya hanya sekali, hehe…. Makanya gimana cara kita tahu kalo niat kita hijrah itu bener atau kagak? Yes, sesuai dengan hadits yang dikutip di atas tadi, bahwa niatkan hijrah kita karena Allah, bukan karena seseorang atau karena sesuatu. Sebab kalo niat hijrah karena seseorang atau karena sesuatu, ketika sesuatu itu nggak kita dapatkan atau sesuatu hilang, maka hilang pulalah niat atau semangat kita untuk hijrah. Itu tanda yang paling mudah untuk mengetahui niat hijrah kita.

Nah, kenapa kita lelah berhijrah, putus asa atau putus di tengah jalan hijrah kita? Karena niat atau harapan kita gantungkan kepada selain Allah. Maka benarlah apa yang disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib ra. bahwa “Aku sudah pernah merasakan kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia”. So, yuk luruskan niat kita hijrah semata-mata karena Allah.

What’s Next?

Trus, apa langkah selanjutnya biar hijrah kita istiqomah? Apakah cukup meluruskan niat? Nggak dong, niat itu hanya sebagai langkah awal, selanjutnya kan kita pasti action. Nah, di tataran action ini kita harus ngapain agar kita bisa istiqomah atau nggak lelah berhijrah?

Tapi sebelum itu, kita mau ngajak teman-teman semua sadar diri kira-kira selama ini posisi kita sudah hijrah atau belum? Terutama ketika ngeliat fakta-fakta kerusakan yang ada disekitar kita. Jujur aja, setuju banget kan kalo kita sampaikan bahwa fakta yang ada di sekitar kita ini rusak, wa bil khusus tentang fakta remaja. Ada pergaulan bebas yang nggak bisa direm lajunya, narkoba, perkelahian antar sekolah, pelecehan seksual, dan masih banyak lagi fakta rusak di sekitar kita.

Nah, ngeliat fakta yang kayak gitu, kita memilih untuk hijrah, maksudnya hijrah dari perbuatan yang kayak gitu, menjadi muslim yang lebih baik. Tapi persoalannya, kita hijrah nggak bisa dan nggak boleh sendiri, berat, kamu nggak akan sanggup, makanya hijrah kudu rame-rame. Kalo kita sedang dan sudah hijrah maka kita nggak boleh nafsi-nafsi mikirin diri sendiri, kita kudu peduli dengan keadaan sekitar kita, teman-teman kita yang belum hijrah. Sebab, bisa jadi hijrahmu jadi berat atau lelah, karena masih terpengaruh oleh keadaan atau teman-teman lama kamu. Makanya, kita nggak boleh cuek EGP sama keadaan sekitar kita.

Kalo boleh diibaratkan, masyarakat kita ketika ngeliat fakta-fakta yang tadi disebutkan, bisa dikelompokkan jadi 3: kelompok pemain, penonton, dan masyarakat luar.

Pertama “pemain”, mereka yang sadar dan siap serta udah bergerak bersama untuk menyelesaikan masalah di atas. Bahkan mereka berjibaku, layaknya pemain bola professional, membina dan melatih dirinya dalam ilmu, sehingga nanti ketika benar-benar terjun ke masyarakat bisa ngasih problem solving persoalan masyarakat. Mereka inilah yang memilih Move On. Dalam khazanah Islam, mereka disebut pengemban dakwah. 

Kedua “penonton” alias komentator, mereka ngeliat sih fakta kerusakan di tengah masyarakat, tapi mereka suka banget komentar terhadap perjuangan yang dilakukan oleh kelompok pertama. Ada yang komentarnya mendukung, tapi nggak sedikit yang jorokin, sok pinter, sok jago, padahal dia sendiri aksinya nggak pernah ada. Ada juga penonton di sini yang layaknya supporter fanatik, kalo menang ikut senang, giliran kalah bikin ulah dan masalah. 

Ketiga “masyarakat luar”, mereka nggak ngeliat atau bahkan cuek dengan kondisi di sekitarnya. Persis kayak masyarakat di luar stadion yang nggak ambil pusing dengan apa yang terjadi di dalam stadion, saat pertandingan berlangsung. Entah mau rusuh kek, menang kek, kalah kek, bodo amat, emang gue pikirin. Nah, kira-kira begitu di kelompok yang ketiga ini, menyaksikan kerusakan masyarakat, cuek aja, “yang penting nggak nimpa gue dan keluarga gue”, gitu pikirnya.

Idih jangan sampe ya, kita ada di kelompok ketiga maupun kedua, yang sekedar komentar apalagi cuek dengan kondisi kerusakan di sekitar kita. Kita kudu di kelompok pertama, karena hijrah itu menunjukkan care kita. Hijrah itu kontribusi yang bisa kita sumbangkan atas problematika di negeri ini. So, apakah kita masih diam saja, layaknya kelompok ketiga tadi? Atau hanya jadi penonton, kayak kelompok kedua? Kalo iya, maka itu tandanya kita masih belum hijrah.

Tips Hijrah Istiqomah

  1. Pastikan kamu tidak berada di comfort zone (zona nyaman) yang keliru . Maksudnya seseorang ngga akan merubah posisinya kalo dia merasa bahwa posisinya sekarang nyaman-nyaman aja sehingga ngga perlu untuk berubah. Padahal posisinya saat ini sama sekali ngga Allah ridhoi. Inget ya sob, kita hanya bersandar pada standar Allah yang ngga pernah salah. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (TQS. Al Baqarah: 216)
  2. Azzamkan hati untuk ikhlas hanya mengharap ridho Allah semata. Karena dengan azzam ini Insyaa Allah kita hanya fokus pada apa yang kita tuju dan lakukan, jadi apa yang dikatakan orang lain dan seperti apa penilaian mereka terhadap kita ngga akan mempengaruhi keputusan hijrah yang kita ambil. “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan dilakukan karena mengharap ridho Allah semata”. (HR. An Nasai dan Abu Dawud)
  3. Carilah lingkungan teman atau komunitas yang bisa mendukung perubahanmu ke arah yang lebih baik. Berkumpul dengan orang-orang sholih akan menjaga dan mengistiqomahkan kesholihan yang akan kamu mulai.
  4. Mulailah untuk rajin menghadiri kajian-kajian keislaman yang akan menambah ilmu (agama) yang bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah Rasul . Karena ini akan menjadi bekalmu saat melangkah dan berbuat sesuatu.
  5. Teruslah mendekat untuk taat pada Allah swt. Karena Allah-lah yang akan memberimu kekuatan dan memudahkan segala urusanmu. “…Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”. (TQS. Ath thalaq: 4)