Category: Media Watch

KEJARLAH DAKU KUALIHKAN

kamis dini hari, 23 Pebruari 2012.  Enam orang datang ke RSPAD di  KJalan Gatot Subroto Jakarta Selatan  untuk melayat rekannya yang meninggal di  ruang A Eksekutif. Tiba-tiba, muncul puluhan orang  dari dua mobil plat hitam dan satu taksi.  Sebagian dari mereka membawa golok  dan parang. Seorang perempuan juga  turut menyerbu dengan senjata samurai  bak lady Kill Bill. Gerombolan ini langsung  menyerang para pembesuk tadi secara  membabi buta. Tawuran tak seimbang  terjadi di lapangan parkir Gedung Di-rektorat Kesehatan Angkatan Darat,  Akademi Kesehatan Gigi. Akibatnya, dua  orang tewas di tempat dan satu meninggal  di perjalanan serta tiga lainnya luka-luka. Sontak, peristiwa...

Read More

‘SIPILIS’ Melawan Kitab Suci

Jika kelak di akhirat, pertanyaan di atas diajukan  kepada Tuhan, mungkin Dia hanya tersenyum  Jsimpul. Sambil  menunjukkan surga-Nya yang  mahaluas, di sana ternyata telah menunggu banyak  orang, antara lain, Jesus, Muhammad, Sahabat Umar,  Ghandi, Luther, Abu Nawas, Romo Mangun, Bunda  Teresa, Udin, Baharudin Lopa, dan Munir!” (Sumanto Al  Qurtuby, Lobang Hitam Agama, Rumah Kata,  Yogyakarta, 2005, hal. 45). Tentu saja, kalau membenarkan pemikiran  Sumanto di atas, kita langsung nyesel jadi orang Islam  taat. Ngapain kita cape-cape meneguhi aqidah Islam dan  menjalankan syariat-Nya, jika nantinya pintu surga pun  terbuka bagi pemeluk agama yang ajarannya  menyembah banyak tuhan dan aturan hidupnya...

Read More

Ada Apa dengan Polisi

”Polisi menangani unjukrasa di  Sape, Bima, sudah sesuai prosedur”.  Demikian klaim Polri, menyusul hebohnya  tragedi pembubaran demonstran yang  menewaskan warga di Pelabuhan Sape,  Bima, NTB, 24 Desember 2011. Korban  tewasa adalah Arif Rahman ( 18) dan  Syaiful (17), keduanya warga Desa Sumi,  Kecamatan Lambu, Bima. Namun, dalam video rekaman  kejadian versi warga (non-polisi), terlihat  bagaimana kebrutalan aparat polisi dalam  menembaki demonstran dan menganiaya  mereka. Ini berbeda dengan video versi  polisi yang dipublikasikan sebelumnya. Tragedi berdarah Sape menambah  kekecewaan publik pada polisi. Menurut  survey Imparsial, lembaga penggiat Hak  Asasi Manusia, mayoritas warga Jakarta  tidak puas dengan kinerja kepolisian.  Ketidakpuasan itu,...

Read More

Senayan, Cermin Rusak Kaffah Demokrasi

Tahun 1999, teman dari ndeso ini  berupaya menarik simpati para tokoh  Tsebuah parpol berlabel Islam. Tubuhnya  ceking, ke mana-mana naik ojek atau nebeng  mobil. Tahun 2008, saya ketemu dia lagi,  waktu itu sudah eksis. Ke mana-mana pakai  mobil sendiri. Dan tahun lalu, jumpa dia lagi,  wuih badannya sudah XL. Maju perut pantat  mundur! Dia tak perlu nyopir sendiri, karena  sudah bisa menggaji sopri. Ternyata, perjalanan karier si teman dari  periode simpati ke eksis lantas jadi XL, hanya  lantaran berbisnis barang cetakan. Bukan  sembarang cetakan coy, tapi cetakan  sekretariat DPR RI! Kita baru ngeh dengan fenomena kere  munggah bale tersebut,...

Read More

AWAS SIHIR PENGHIBUR

Majalahdrise.com – ajang pencarian bakat di televisi kian eksis. Telah melahirkan alumnialumni ngetop. Seperti Indonesian Idol, X-Factor, Indonesia Mencari Bakat, Indonesia Got Talent, dan Dangdut Academy. Setiap musim pencarian bakat dibuka, nggak tanggung-tanggung peminatnya. Ribuan, bahkan puluhan ribu. Audisi diadakan di kota-kota besar di Indonesia. Dan setiap audisi, antreannya mengular. Kebanyakan, tentu kaum muda. Mereka mimpi terkenal dengan cara instan. Seperti Dangdut Academy, yang daftar pada musim ketiga tahun ini mencapai puluhan ribu. “Daftar peserta jika biasanya hanya tiga ribuan, ini sudah puluhan ribu. Apalagi pendaftaran dibagibagi juga, ada yang lewat online juga. Mudah-mudahan kami sebagai juri bisa power...

Read More

Fast Respond



Newsletter

Follow Us!