Category: Monogatari

SATU (cerpen islam)

Drise-online.com – Remah-remah cemara belum sepenuhnya tertutupi salju Desember. Ketika pertama kali aku menjejakkan kaki di negara ini, Amerika. Sejatinya negeri Paman Sam ini adalah Kampung halaman bagi keluarga besarku. Hari ini, pemandangan tak seperti kemarin. Tumpukan-tumpukan salju mulai mencair di terpa sinar mentari. Kicau burung mengawali pagi di bulan Januari. Sisa-sisa malam pergantian tahun masih menyemarakkan keindahan di sudut-sudut Kota. Meski dengan itu, kondisi fisik yang lelah berpesta menjadi harga mati yang harus dibayarkan oleh mereka. Ku jejakkan kakiku di atas tumpukan salju yang masih tersisa. Belum di bersihkan oleh para pekerja. Aku baru saja menuntaskan sarapan yang...

Read More

Rusak Satu, Rusak Semua!

Rusak Satu, Rusak Semua! By: Uni Amatullah [Drise-#030] Kalau pesulap butuh mantra abracadabra untuk memunculkan kelinci dari dalam topinya, tidak dengan sekolah kami. Cukup menunggu jarum pendek diangka 10 dan jarum panjang diangka 12, aku bisa mendapatkan kelas yang kosong selama 15 menit. Ya, mantranya adalah bel istirahat pertama. Seperti biasa, Nadine selalu menjadi yang paling terakhir meninggalkan kelas. Kalau ditanya kenapa, jawabnya selalu enggak mau terjadi campur baur dengan mereka yang berdesak-desakan di pintu keluar. Dialah Nadine, teman satu kelasku, salah satu cewek jilbaber di sekolahku. “Nanti siang, temanin aku diskusi di rohis dulu ya sebelum pulang? Mau...

Read More

Mengingatkan Aku Tentang Itu

Mengingatkan Aku Tentang Itu Oleh: Bamz Dekomposer [DRise-#029] Panji-panji hitam dan putih yang bertuliskan kalimat tauhid itu berkibar dengan gagahnya di Bundaran Air Mancur (BAM) Palembang.“Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Kalimat Takbir bergumuruh di seputar BAM. Setidaknya pemandangan yang dengan tidak sengaja kusaksikan ini membuatku merindukan kembali berada di tengah-tengah laskar pengibar panji tauhid itu. Pemandangan ini mengingatkanku kembali, bahwa diri ini pernah menjadi bagian dari penggenggam bara ini. Aku ingin bergabung dalam barisan pengibar panji tauhid itu. Tapi, betapa malunya aku. Sehingga langkahku terasa semakin berat. Aku hanya bisa menyaksikan dari teras Masjid Agung saja, aktivitas yang pernah ku sebut...

Read More

Iblis Bermata Indah

Oleh : Mutia Rafif 25 Juni Alis matanya hitam seperti aspal jalanan yang baru di tuangkan. Sedikit mencuat ke atas ketika dia menengadahkan kepalanya. Bibirnya ranum terpoles lipgloss warna merah jambu. Sibakan rambutnya menebar wangi sampo yang aku baru lihat kemarin di mini market. Aduhai hati, jangan engkau goda aku dengan cara begini. “Hai, Riski. . .” sapanya dengan merdu yang diiringi gelak tawa kemudian oleh teman-temannya. Ghodul bashor, ghodul bashor Riski. Aduhai hati, pejamkan matamu. Jangan biarkan setan menjerat napsumu. Tuhan pasti melindungimu, Riski. “Shit!!!” buku-bukuku terjatuh. “Wah, Riski, jangan gerogi begitu dong! Aku bantu ya?” dia sengaja...

Read More

Fast Respond



Newsletter

Follow Us!