Celah Liberalisasi Budaya | Majalah Remaja Islam DRise
Friday, September 22nd, 2017
Breaking News
You are here: Home >> Bukamata >> Celah Liberalisasi Budaya

Celah Liberalisasi Budaya




Majalahdrise.com – nyambung dari yang kemarin Namanya budaya, pastinya nggak  bebas nilai. Gitu juga dengan gencarnya J-Pop Culture. Tanpa sadar, nilai-nilai budaya  sekuler yang dijajakan lewat manga dilahap  dengan rakus oleh remaja. Kemasannya gue  banget. Padahal bisa bikin keimanan kita  seret. Berikut beberapa bahaya yang  mengintai remaja akibat digempur J-Pop  Culture.  Pertama, mengikis akidah. Banyak  cerita Manga yang diadopsi dari ajaran  keyakinan Shinto tentang adanya dewa yang

mereka anggap Tuhan.  Seperti dalam serial Naruto  Uzumaki karangan Masashi  Kishimoto. Musuh Naruto  bernama Pain Akatsuki  –misalnya-, diyakini sebagai  dewa, yang mampu  menghidupkan orang mati  dan menciptakan sesuatu  yang mengikuti  kehendaknya. Malah si Pain  ini, bisa menghentikan hujan  di Amekagure. Padahal  kemampuan menghidupkan  dan mematikan, serta  menghentikan Hujan hanya  dimiliki oleh Maha Kuasa, Allah swt.

Kisah Naruto juga menyisipkan  paham reinkarnasi. Seperti digambarkan  pada sosok Kabuto Yakushi buronan dari  warga Konoha dan pembela Orochimaru.  Kabuto diyakini memiliki jutsu yang bisa  menghidupkan kembali orang yang telah  mati. Begitu juga dengan paham manusia  kekal abadi yang nggak bisa mati. Seperti  tampak pada diri Madara Uchiha (Tobi).  Seorang tokoh antagonis utama Akatsuki  mampu meregenerasi sel-selnya yang rusak  sehingga ia mampu hidup seterusnya.  Meskipun kesannya biar ceritanya lebih  seriu, selipan pemahanan ajaran diluar  Islam bisa bikin akidah kita goyah. Apalagi  kalo nggak dibentengi dengan ilmu agama  yang mumpuni. Bisa-bisa murtad. Hati-hati! Kedua, mengajarkan kekerasan  dalam menyelesaikan masalah.

Ada jagoan  dan penjahat dalam cerita manga emang  wajar. Tapi kalo setiap penggalan cerita diisi  dengan adegan kekerasan, itu yang mesti  dicekal. Seperti manga Death Note alias  Dunia Dewa Kematian karya Tsugumi Ohba  dan ilustrasi oleh Takeshi Obata yang kenal  dengan kekerasan dan pembunuhan sadis  oleh Yagami Raito. Begitu juga dengan serial  Inuyasha alias anjing siluman karya Rumiko  Takahashi atau serial One Piece yang  diciptakan oleh Eiichiro Oda.  Ketiga, pornografi. Sebagian besar  busana kaum hawa dalam manga, anime,  atau game selalu vulgar mengumbar aurat.  Serba mini dan ketat membungkus setiap  lekuk tubuhnya.

Daya tarik seksual bagian dada dan paha yang dieksploitasi bikin  jakun kaum adam yang baca naik turun.  Kondisi ini yang bisa membuai remaja  dalam fantasi seksual yang liar. Parahnya,  cosplayer banyak yang memvisualisasikan  busana vulgar itu dalam kompetisi atau  sekedar cari sensasi. Obral harga diri! Keempat, gaul bebas.

Pergaulan  bebas dengan lawan jenis tanpa batas  dalam manga jadi menu utama. Kemasan  yang romantis yang mengisahkan kisah  asmara melambungkan remaja ekpresi  cinta yang steril dari aturan agama. Bahkan  seringkali menjadikan seks bebas sebagai  ekspresi cinta remaja. Sehingga  menempatkan kaum hawa sebagai objek  seksual seperti banyak digambarkan dalam  kisah cinta manga dewasa. Berabe tuh  urusannya! Kelima, pemisif alias serba boleh  dalam berbusana. Harajuku style bisa  menjerumuskan remaja dalam gaya hidup  tasyabuh bil kuffar alias menyerupai orang-kafir.

Lantaran bagi aktivis harajuku, bebas  pake simbol apapun sebagai pelengkap  aksesorinya tanpa harus terikat dengan  pandangan agama tertentu. Pake salib,  bintang david, tengkorak, yin yang atau  simbol ghotik yang mencerminkan  pemujaan terhadap setan, ngerasa pantas  aja yang penting rame. Padahal itu semua  bisa menjerumuskan pada aktifitas  tasyabuh alias menyerupai gaya hidup  orang kafir yang dibenci Allah dan Rasul-Nya. Rasul saw bersabda: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum  maka dia termasuk dari  golongan mereka”( HR  Abu Daud dan Imam  Ahmad dari Ibnu  Umar).

di muat di majalah remaja islam drise edisi 50




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

one × one =