Cowok Anak Mami | Majalah Remaja Islam DRise
Friday, September 22nd, 2017
Breaking News
You are here: Home >> Boyli >> Cowok Anak Mami

Cowok Anak Mami




cowok anak mamiAnak mami mau mandiri

Tapi masih nodong papi

Dikit-dikit nyari mami

Anak mami pulang lagi

[DRise-#030] Ini adalah penggalan syair dari lagu ‘Anak Mami’ yang dinyanyiin group Slank. Yang ngerasa anak mami boleh tunjuk hidung. Menurut psikolog Tika Bisono, konotasi anak mami sampai saat ini memang buruk, yakni pria manja, tidak mandiri, segala sesuatu berorientasi pada ibunya.

Nah, menurut Tika, cowok ‘anak mami’ ada 3 tipe:

  1. Cowok ‘anak mami’ tipe pertama: cowok yang memang sangat perhatian pada sang ibu, tapi masih bisa bertanggung jawab secara individu, alias masih bisa mandiri.
  2. Cowok ‘anak mami’ tipe kedua: cowok yang tidak hanya berorientasi pada sang ibu dalam hal pemenuhan domain needs, tapi juga sudah sampai pada urusan pekerjaan.
  3. Cowok ‘anak mami’ tipe ketiga: cowok yang out of proportion. Cowok jenis ini amat tergantung pada persetujuan ibunya, baik untuk keperluan pribadi, urusan sekolah, sampai pada hubungannya dengan orang lain.

Heum, tentu kalo Driser sepakat maka cowok ‘anak mami’ tipe yang ketiga itulah yang pantas untuk tidak diingini siapapun, termasuk lawan jenisnya, dan itu yang akan kita bahas disini. Karena jujur aja, tipe cowok yang seperti itu masih ada, bahkan bisa jadi tambah banyak seiring dengan cara mendidik atau mengasuh yang salah.

Jangan salah asuh

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi(HR. Bukhari Muslim)

Pada faktanya memang seseorang yang masih kanak-kanak nggak bisa menentukan arah hidupnya kecuali atas bimbingan orang tuanya. Cara orang tua mengasuh anak ketika masih kecil yang akan menentukan perilaku anaknya dikemudian hari. Sementara itu, pada umumnya porsi yang lebih banyak mengasuh anak adalah seorang ibu dibanding ayahnya.

Nah, pada kasus anak cowok yang jadi ‘anak mami’ ini pun begitu. Tapi hal ini terjadi nggak serta merta ataupun sebagai sebuah sebab-akibat. Artinya, nggak setiap anak cowok yang selalu diasuh ibunya akan otomatis jadi ‘anak mami’. Sekali lagi, tergantung cara mengasuh dan mendidiknya.

Kalo si ibu sudah semacam ibu diktator memaksakan cara mendidiknya yang cenderung feminim, ditambah lagi dengan porsi memanjakan si anak yang terlalu berlebihan, maka bisa jadi anak cowoknya akan jadi anak mami. Karena memang cowok itu mahluk maskulin, tentu sifat kelelakiannya ditunjukkan dengan kemandiriannya. Nah, kalo cara mengasuh anaknya model begituan berlangsung sampe anak gedhe bahkan dewasa, maka peluang anak cowok untuk jadi anak mami kayak lagunya Slank, jadi lebih besar.

Cowok yang menyandang predikat anak mami sudah jelas menghabiskan waktunya lebih banyak dengan ibunya. Sejak kecil dia terbiasa bercerita dan mendengar banyak cerita dari ibunya. Fenomena ini akan lebih parah di era kapitalisme sekarang ini, ketika orang tua khususnya ayah, lebih banyak sibuk bekerja diluar, dan menyerahkan sepenuhnya urusan anak kepada ibunya. Pun keadaannya akan sama, kalo ternyata si ibu juga sibuk diluar rumah, entah bekerja atau aktivitas sosial, sementara urusan anak diserahkan kepada pembantu, maka segala fasilitas dan keinginan anak akan dipenuhi. Saat itulah peluang jadi anak manja yang merupakan ciri dari anak mami, jadi makin terpenuhi.

 

Cowok Harus Bisa Diandalkan

“Kan bagus, kalo dekat dengan mami, berarti menghormati mami, apalagi sama pasangannya nanti”. Iya, kalo pada sisi itu bisa jadi ada positifnya. Tapi jika porsi ibu terlalu dominan memperhatikan detil pada persoalan anak cowoknya, dan lebih terkesan mendikte, maka si anak cowoknya akan jadi anak mami. Akibatnya, si anak merasa tidak mandiri atau tidak pernah belajar berdikari. Segalanya ditentukan oleh ibunya, bahasa ekstremnya ‘pokoke apa kata ibu’.

Nah, sebagai anak cowok, tentu Driser nggak pengin dan nggak boleh jadi anak mami seperti yang diuraikan tadi. Kenapa?

Pertama: Secara umum, cowok ataupun cewek, akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya sendiri-sendiri. Tidak ada dosa warisan dalam Islam, sehingga segala perbuatan kita yang melakukan, kita yang harus mempertanggungjawabkan.

Kedua: Apa yang kita lakukan dalam hidup ini adalah karena hasil pilihan kita, bukan pilihan orang lain, pun juga orang tua kita.

Ketiga: Laki-laki dalam pandangan Islam adalah pemimpin. Bukan sebagai bentuk dominasi cowok kepada perempuan, tapi ini sebagai sebuah kewajiban dan kefitrahan.

Keempat: Anak cowok adalah calon penanggungjawab pemimpin bagi keluarganya, pencari nafkah buat anak istrinya, maka anak cowok kudu belajar mandiri.

Kelima: Secara pandangan fikih, ketika anak cowok sudah baligh maka pertangungjawaban mencari nafkah sendiri ada ditangannya. Berbeda dengan anak cewek, yang akan ditanggung nafkahnya ketika dia menikah. Makanya dalam Islam kewajiban bekerja itu ada di pihak laki-laki, sedangkan bagi perempuan tidak harus alias mubah-mubah saja.

So, jadi cowok itu kudu bisa diandelin. Kalo emang sayang sama ibu, nggak harus jadi anak cupu. Kalo deket sama mama, tak perlu jadi anak manja. Be gentle! Catet! [LBR]

 




One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

20 + seven =