Gubrak! Prediksi semua lembaga survei politik di  putaran pertama Pildaka DKI lalu, meleset total.  GMereka ”memenangkan” pasangan Cagub-Cawagub  Foke-Nara. Nyatanya, pasangan ”kotak-kotak” mengungguli  ”si kumis”. Itu tak lepas dari peran social media (socmed).

Blog,  Facebook (FB), twitter,  Friendster (FS), Flickr, Myspace, Koprol  (sosial network produk Indonesia yang diakuisisi Yahoo),  Google+, menjadi sarana kampanye yang efektif. Bahkan tim  sukses kedua belah pihak merekayasa popularitas melalui  socmed, baik dengan menyewa blogger maupun membuat  ”boneka” (kloning) blogger. Pada putaran pertama pasangan Foke-Nara mendapat  499.009 buzz (buah bibir), dan pada putaran kedua menjadi  813.742 buzz.

Namun, Jokowi-Ahok lebih unggul. Putaran  pertama mereka mencatat 499.766 buzz, dan putaran kedua  jadi 1.365.234 buzz.  Perkembangan socmed di Indonesia emang top. Kita  rangking dua dunia dalam penggunaan FB, dan peringkat  ketiga dunia dalam penggunaan twitter.

Kalau dirinci, penetrasi pengguna internet di Indonesia  sekitar 17%, dengan jumlah netter sekitar 39,6 juta. Sebanyak  64%  netter adalah laki-laki, dan 36% perempuan. Lebih  setengahnya adalah anak muda. Sebanyak 89% internet user  Indonesia mengakses situs social media, umumnya melalui  mobile phone. Sebesar 71 % netizen mengirim pesan pribadi  via social network.  

Pada Pemilihan Presiden AS tahun 2008, kemenangan  fenomenal Barack Hussein Obama juga didukung oleh  socmed. Hal ini diulangi lagi untuk memenangi Pilpres 2012.  Tim sukses Obama memanfaatkan 60 jenis socmed populer di  Amerika sebagai mesin aggregator pengumpul sekaligus  peng-update data profil, karakter, pola dan kebiasaan para  pemilih.

Melalui socmed pula revolusi musim semi di Arab  berembus, meskipun ujung-ujungnya sekadar melahirkan  penguasa boneka asing atau pertikaian antar-faksi muslim  lantaran tidak jelas bentuk negara yang diperjuangkannya.  Selain di bidang politik, socmed juga efektif untuk  menggalang dukungan melawan kezaliman. Misalnya  ”gerakan koin” dalam kasus kriminalisasi Prita, pembangunan  gedung KPK, dan lain-lain.

Namun, socmed juga berbahaya buat penggunanya.  Setidaknya ada 11 dampak buruk socmed yaitu: Kecanduan  (addicted), Tidak Produktif, Pamer (narsis), Riya’, Jaim  (pencitraan), Gosip, Prasangka, Kecewa dan Sakit Hati,  Menggerus Interaksi Sosial, Merenggangkan Silaturahim,  Autis. Tim Adrie Wongso memberi nasehat, sebelum ber-socmed, ada baiknya pertanyakan beberapa hal berikut:  Ngapain sih gue update status? Buat apa sih kita nyetatus?  Apa sih efek jangka pendek dan panjang status kita (buat kita  dan juga bahkan lebih-lebih buat orang sekitar kita)? Banyak hal positif dapat diraih dari socmed.  

Persahabatan, jodoh, rejeki, jejaring bisnis…. tapi pangkal dan  ujung dari semua itu adalah dakwah. Dengan nawaitu  dakwah, insya Allah dunia akan mengikuti. Kalau tidak percaya silakan tanya Ustadz Yusuf Mansur,  Felix Siauw, dan Aa Gym. Mereka tergolong da’i yang sadar  socmed. Yusuf Mansur dan Felix Siauw memiliki jamaah  (follower) bejibun. Jamaah Yusuf Mansur sudah lebih  setengah juta orang, dan Felix nyaris 150 ribu orang.  Sedangkan Aa Gym, selain ng-twit juga belakangan masuk ke  ipad dan i-phone.

 Driser, the power of socmed sangat layak kita pakai  untuk membangun opini Islam. Yup, dakwah bil socmed.  Caranya? Gampang banget. Buatlah notes/status yang  bermanfaat. Sumbernya bisa menulis sendiri pesan dakwah,  mengutip referensi, atau men-share status orang lain yang  bermuatan dakwah. Yang penting kontentnya dakwah. Siapa  tahu, lewat kita  justru pesan dakwah lebih mengena.  Ingat ya, pasang status yang mengajak kepada  kebaikan. Gunakan untuk penyebaran informasi tentang  Islam.

Upload file-file dakwah, seperti e-book, rekaman  ceramah, dll. Dan gak boleh lupa untuk tetep jaga izzah, iffah,  dan privacy diri. Lantaran saat ini banyak sekali batas-batas  yang dilanggar akibat media-media jejaring sosial seperti  facebook ini. terutama untuk urusan interaksi dengan lawan  jenis. Bisa jadi di dunia nyata sangat menjaga pandangan  mata, tapi di dunia maya malah jelalatan dan tebar pesona.  So, jangan biarkan nafsu syahwat mengkontaminasi kegiatan  dakwah bil socmed. Jaga diri, jaga hati, dan tetep ikut ngaji! [