drise-online.com – Jejak di atas pasir itu dibuat oleh dua ekor unta yang ditunggangi oleh Mutsana bin Harits dan Jabal bin Abdul’uzza. Langit malam yang dingin dan berbintang menaungi kepala mereka yang tertutup serban tebal. Berlapis-lapis mantel membalut tubuh mereka untuk sedikit memberikan perlawanan kepada angin gurun yang dingin. Sesekali angin itu berembus, mengibarkan selendang serban mereka, membuat mereka makin merapatkan mantel tebal itu ke tubuh mereka. Walau pun keras kondisi yang mereka hadapi, mereka senang dengan semua itu. Mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang yang lebih senang tidur di atas pelana kuda, dan berbaring di bawah langit malam, asalkan berada di atas jalan jihad fi sabilillah.

Kelap-kelip kota Madinah yang redup telah terhampar di cakrawala mata mereka. Seolah-olah, dari kejauhan, langit malam itu adalah selimut yang amat luas, yang menutupi Madinah dan membuatnya tenggelam dalam kegelapan yang damai. Cahaya-cahaya pelita dan obor di rumah-rumah berkelap-kelip, seakan-akan gemintang bisa diraih oleh tangan manusia.

“Alhamdulillah, kita sebentar lagi sampai di Madinah,” kata Mutsana.

“Subhanallah wallahu akbar,” sahut Jabal sambil mengambil kantung air dari kulit kambing yang menggelantung di pelana untanya. Dia buka sumbatnya dan minum dari sana setelah membisikkan basmallah. Setelah rasa hausnya terobati, dia tawarkan kantung air itu kepada Mutsana.

“Terima kasih, aku tidak haus, untuk nanti saja,” katanya.

Jabal menyumbat kembali kantung air itu dan menggantungkannya di pelana unta. Tubuh mereka terombang-ambing pelan di atas pelana, seiring dengan langkah kaki unta. Angin malam berembus lagi.

“Kalau Khalifah masih terjaga, kita akan segera melapor kepada Khalifah,” instruksi Mutsana. “Tapi jika Khalifah sudah tidur, kita akan menuju masjid dan menginap di sana. Besok barulah kita melapor kepada Khalifah.”

“Siap! Tapi kurasa Khalifah belum tidur karena masih sore,” ujar Jabal. Senyum tipis terkembang di wajahnya.

Padahal puncak malam sedang tinggi-tingginya, tapi Jabal berkata ‘masih sore’. Hal itu karena Jabal mengerti benar bahwa Khalifah Abu Bakar Shiddiq pasti akan selalu menjadi orang terakhir yang tidur setiap malam. Dia tidak akan tidur sebelum memastikan rakyatnya bisa tidur dengan aman. Aman dari kelaparan karena tidak punya makanan, aman dari kedinginan karena tidak punya pakaian dan tempat bernaung, aman dari rasa sakit, dan aman dari rasa takut.

Mutsana mengangguk sambil mengangkat sebelah alisnya, “Yah, mungkin saja.”

Sampailah mereka di pinggir kota Madinah. Pada pintu masuk kota ada sebuah pos jaga, tempat beberapa orang prajurit menjalankan tugasnya mengamankan kota. Ketika mereka melihat ada dua orang penunggang unta yang datang, mereka segera bersiap dengan tombak dan pedang mereka. Kewaspadaan memang harus selalu mereka lakukan.

“Assalamualaikum,” kata Mutsana sambil melambaikan tangan kanannya kepada para prajurit jaga.

Jabal membuka selendang serban yang dia jadikan cadar untuk menutup wajahnya agar para prajurit bisa mengenalinya.

“Wa’alaikumussalam,” sahut salah seorang prajurit jaga. Dia memerhatikan wajah dua orang yang datang itu dengan bantuan cahaya obor yang ada di tangan kanannya. “Mutsana bin Harits dan Jabal bin Abdul’uzza! Baru pulang dari sebuah misi?”

“Benar, saudaraku,” sahut Mutsana. “Kami hendak menemui Khalifah untuk melapor.”

“Prosedurnya, saudaraku, baru kami akan mengijinkan kalian masuk.”

Mutsana dan Jabal memeriksa tas kain yang terselempang di bahu mereka masing-masing. Mereka mengeluarkan sehelai gulungan perkamen yang terbuat dari kulit kambing. Mereka membuka gulungan itu kemudian menunjukkannya kepada prajurit jaga. Dalam keremangan malam itu para prajurit jaga memeriksa gulungan milik Mutsana dan Jabal. Cahaya obor jadi penerangan.

“Baiklah, silakan masuk, hati-hatilah, ini sudah malam, jika kalian tidak bertemu dengan Khalifah, teruslah menuju ke masjid, menginaplah di sana,” kata salah seorang prajurit jaga.

“Terima kasih, rencana kami memang begitu,” sahut Jabal.

Mereka menerima kembali gulungan perkamen mereka dan menyimpannya lagi baik-baik di tempat semula. Mereka tahu betul bahwa sebagai agen rahasia Khilafah Islamiyah, gulungan itu adalah salah satu hal yang amat penting. Gulungan itu adalah semacam tanda pengenal.

Kota Madinah telah sunyi dan sepi. Mungkin hampir seluruh penduduk kota telah larut dalam tidurnya. Mutsana dan Jabal membiarkan unta mereka berjalan saja melintasi kota. Mereka hendak langsung saja menuju kediaman Khalifah Abu Bakar Shiddiq.

Sampailah mereka di rumah sederhana milik Khalifah Abu Bakar Shiddiq yang terletak di tengah-tengah kota Madinah. Rumah yang di kala siang hari itu selalu ramai dengan rakyat yang mengadukan permasalahan mereka, kini telah sepi. Yang terlihat oleh Mutsana dan Jabal di rumah itu hanyalah seorang pelayana Khalifah Abu Bakar, Sa’ad bin Ghazwah.

“Khalifah Abu Bakar sedang tidak di rumah,” katanya. “Setiap malam beliau keluar untuk berkeliling kota Madinah.”

“Benar kan, sudah kuduga!” ujar Jabal.

“Dengan siapa?” Tanya Mutsana.

“Dengan Ibnul Khathab.”

“Berdua saja?” Tanya Mutsana lagi.

Sa’ad mengangguk.

“Seperti itulah Khalifah kaum muslim,” ujar Mutsana. “Keliling Madinah hendak mengetahui kondisi rakyat, tapi berdua saja! Bagaimana kalau ada yang berniat jahat?”

“Memang seharusnya bagaimana?” Kata Jabal asal saja sambil menaikkan sebelah alisnya.

“Setidaknya pakai pengawalan, agar kalau ada kemungkinan buruk bisa segera diantisipasi.”

“Begitulah jalan berpikir agen rahasia!” Jabal tergelak sendiri dengan kata-katanya.

Pelayan Khalifah yang bernama Sa’ad itu ikut angkat bicara. “Khalifah ingin agar tindakannya setiap malam ini tidak banyak diketahui orang. Jadi beliau memutuskan bahwa berdua saja cukup.”

“Tenang saja, semoga Allah selalu melindungi Khalifah,” kata Jabal. “Kalau begitu sekarang sudah waktunya kita berangkat ke masjid, sepertinya kita tidak akan bisa menemui Khalifah malam ini. Bagaimana?”

“Baiklah, kalau begitu kami berangkat,” kata Mutsana sambil beralih kepada pria pelayan Khalifah itu.

Setelah bertukar salam mereka kembali menunggangi unta mereka dan berjalan menuju masjid. Malam semakin larut dan angin semakin dingin. Gelap kian pekat ketika semua makhluk telah kembali ke peraduannya.

Masjid Nabawi di kota Madinah adalah seperti pusat kota. Orang-orang beribadah di sana mencari ketenangan dan kebahagiaan sejati kepada Allah azza wajalla. Namun masjid itu bukan hanya digunakan sebagai tempat ibadah, tetapi juga hampir untuk segala hal. Pengumpulan dan pembagian zakat dilakukan di sana, angkatan bersenjata dikumpulkan di sana, pengadilan dijalankan di sana, rakyat pun mengadukan masalah yang mereka hadapi di sana, masjid tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pemerintahan. Di sekitar masjid Nabawi pun dibangun rumah singgah, yang biasa disebut shuffah.

Salah satu fungsi shuffah adalah untuk menampung para musafir yang singgah di kota Madinah. Mereka dibolehkan untuk menginap di shuffah dan segala kebutuhan mereka akan dilayani sebaik-baiknya. Mutsana dan Jabal berencana untuk menghabiskan malam dengan menginap di shuffah.

Masjid Nabawi sudah di depan mata, puja-puji kembali dipersembahkan kepada Allah dari hati Mutsana dan Jabal. Mereka hendak melepas lelah sejenak di masjid dengan melaksanakan solat sunnah dua rakaat, setelah itu merebahkan badan barang sejenak melepas penat. Namun perhatian mereka tercuri, karena mereka melihat ada yang datang ke masjid dari arah lain. Ada dua orang yang masing-masing menunggangi seekor unta sedang mendekat ke masjid Nabawi.

Mutsana dan Jabal serta dua orang penunggang unta itu tiba bersamaan di depan masjid. Mereka saling tersenyum satu sama lain setelah mereka saling mengenali. Ternyata dua orang yang datang dari arah lain tadi adalah Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khathab.

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #40