Seorang muslim memang seharusnya menjadikan malam sebagai teman Sebab di dalam malam itu ada waktu-waktu yang terbaik, di mana Allah azza wajalla menebarkan kedamaian kepada seluruh bumi dan mengabulkan doa-doa. Disanalah saatnya umat manusia bersimpuh dan mengiba, karena Tuhan berdiri tegak dihadapannya.

Petiklah setangkai rahmat yangdimekarkan Tuhan di langit malam. Itulah yang sedang dilakukan oleh Mutsana bin Harits dan Jabal bin Abdul’uzza, tahajud.

Pada salah satu sudut kota Ubullah yang tak jauh dari tembok kota, membentanglah sebuah reruntuhan rumah. Rumah itu telah lama diabaikan dan terletak agak jauh dari rumah-rumah yang lain. Batu-batu dan sisa-sisa dinding berserakan di sekitar reruntuhan rumah itu. Sebagian atapnya telah hancur, dan pintunya telah hilang entah kemana.

Jika reruntuhan rumah itu diperhatikan lebih saksama, sepertinya rumah itu cukup besar sebelum diruntuhkan. Beberapa bagian dari rumah itu ternyata luput dari penghancuran, Mutsana dan Jabal bersembunyi pada bagian rumah yang pada awalnya, sepertinya, adalah sebuah kamar.

Mereka berdiri dan bersujud kepada Tuhannya, di tengah kegelapan malam dan kegelapan reruntuhan rumah itu. Bintangbintang beredar, dan waktu pun berlalu, ketika mereka mengucapkan salam, malam masih menghitam. Doa-doa mereka pun menguap ke udara, seiring hasrat yang murni akan keberhasilan misi. Siapakah yang  menentukan gagal atau berhasilnya sesuatu,  hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka  paham betul hal itu. Setelah semuanya  selesai, mereka menyandarkan diri ke  tembok reruntuhan rumah yang gelap itu.

 “Ada sedikit waktu untuk beristirahat, mungkin waktu subuh sebentar  lagi datang,” kata Mutsana dengan memelankan suaranya.

Dia memandang wajah Jabal, namun yang terlihat hanyalah siluet gelap.

 “Tidurlah, aku yang akan berjaga.”

“Kalau sedang menjalankan misi seperti ini, aku jadi sulit tidur,” sahut Jabal. Mereka sengaja tidak menyalakan api untuk penerangan, sebab persembunyian mereka bisa segera diketahui.

“Kita akan menyamar seperti orang Persia dengan cara berpakaian mereka ketika pagi menjelang. Kemudian kita segera bergerak ke pasar Ubullah dan mencari Aswad sampai dapat. Setelah misi selesai, saat malam tiba kita akan bergerak lagi ke tempat ini dan keluar melintasi tembok.”

“Siap!” kata Jabal.

Keheningan kemudian menjalar,  hingga desau angin saja yang terdengar. Mereka merapatkan mantel tebal ke tubuh mereka untuk mencari kehangatan. Pujipujian kepada Allah tak henti mereka  gumamkan. Allah-lah yang akan melindungi dan menjaga mereka.

 “Sebenarnya ini rumah siapa?” Tanya Mutsana.

 “Kenapa diruntuhkan dan dibiarkan terlantar seperti ini?” Hembusan napas mengabut di depan hidung Jabal. Sebenarnya dia tersenyum tipis saat mendengar pertanyaan Mutsana, hanya saja gelap menyembunyikannya.

 “Aku sangat yakin, insya Allah tempat inilah yang paling aman sebagai tempat persembunyian kita.

” “Sepertinya kau yakin sekali!” Mutsana penasaran.

 “Benar, sangat yakin. Takkan ada seorang pun yang berani mendekati rumah ini.”

 “Kenapa begitu?” “Karena rumah ini berhantu! Semua  orang di kota ini  memercayai hal itu.” “Berhantu?” “Ya, berhantu!”

“Masih ada saja orang berpikiran  primitif seperti itu,” kata Mutsana. “Seluruh kota telah mengenal  keangkeran rumah ini,” Jabal berkisah. Dia tetap memelankan suaranya.

Mereka harus tetap berhati-hati. “Orang-orang menjuluki rumah ini dengan julukan yang tidak enak.” “Julukan apa?” Mutsana penasaran. Kisah-kisah hantu selalu saja membuat penasaran.

“Rumah Kematian! Julukannya memang seram sekali, seseram peristiwa yang pernah terjadi di rumah ini.”

 “Bagaimana ceritanya?”

“Aku mengobrol dengan seorang  penduduk asli kota ini, cerita ini dia dapat dari bapaknya, sepuluh tahun yang lalu ada sebuah keluarga yang tinggal di rumah ini, keluarga seorang saudagar yang bernama Kourosh.

Dia memiliki sebuah keluarga yang bahagia, dengan seorang anak lelaki yang tampan. Anak lelaki itu tumbuh dengan baik, tangkas dan pintar, namun di usianya yang ke-16, pada suatu malam, dia membunuh kedua orangtuanya, dan seluruh pelayan di rumah ini dengan alasan yang tidak jelas.

Dia tidak pernah mengatakan kepada siapa pun apa alasan dia melakukan perbuatan keji itu hingga dia dijebloskan ke dalam penjara. Akhirnya dia sendiri bunuh diri dengan membenturkan kepalanya ke jeruji penjara.

” Mutsana mengernyitkan alisnya kemudian mendecakkan lidahnya. Jabal melanjutkan. “Setelah penguasa kota ini mengambil seluruh harta, rumah ini  dibiarkan kosong. Sejak saat itulah orang-orang  mulai banyak bercerita bahwa mereka melihat hantu dan hal-hal semacam itu ketika berada dekat dengan rumah ini. Terdengar jeritan-jeritan, terlihat hantu tanpa kepala, sebab anak itu memenggal kepala kedua orangtuanya, dah hal-hal semacam itu. Penguasa kota ini kemudian menghancurkan rumah ini, dan hal itu tidak membuat orang-orang berhenti membicarakan hantu yang katanya ada di rumah ini.”

 “Begitulah orang-orang primitif, masih saja berpikir seperti itu,” timpal Mutsana.

 “Allah-lah yang menguasai segala sesuatu. Dialah yang mengetahui semua hal gaib. Kepada Dia kita memohon perlindungan atas kejahatan makhluk. Setan akan selalu menggoda manusia, memang itulah pekerjaannya, mereka akan selalu berusaha menggelincirkan kita dari jalan keimanan. Kepada Allah-lah kita mohon perlindungan.”

 “Mahasuci Allah yang telah menurunkan Islam kepada kita, yang dengannya hidup kita ditunjuki. Subhanallah walhamdulillah.” Kata Jabal. “Tapi sepertinya kita harus berterimakasih kepada hantu-hantu itu,” Mutsana tergelak.

“Mereka telah menyediakan persembunyian yang aman untuk kita.” Pagi pun menjelang, mereka melaksanakan solat subuh dalam persembunyian. Sudah semalaman mereka berada di rumah yang terbengkalai itu, tak ada sesuatu pun yang disebut sebagai hantu.

000

Bersambung Follow @sayfmuhammadisa