DERAP RANTAI EDISI 21 | Majalah Remaja Islam DRise
Friday, September 22nd, 2017
Breaking News
You are here: Home >> Drise Online >> DERAP RANTAI EDISI 21
DERAP RANTAI EDISI 21

DERAP RANTAI EDISI 21




majalahdrise.com – “Kita diperintahkan untuk segera  menyerang Persia,” kata Khalid bin Walid.

Tatapan matanya yang tegas menimpa  wajah Mutsana bin Harits. Kedua kesatria  Islam itu sedang berada di sebuah tenda  di Yamamah. Mereka berada di tengah-tengah pasukan kaum muslim yang baru  saja selesai menjalankan tugas  menumpas pasukan nabi palsu  Musailamah al Kadzab.

“Apakah Khalifah memerintahkan  kita masuk lewat Ubullah?” Tanya  Mutsana. Dia menduga-duga apa isi dari  surat perintah rahasia untuk Khalid yang  diantarkannya. Walau pun dia yang  membawa surat itu, tetapi dia tak pernah  tahu apa isinya.

“Benar!” Sahut Khalid.

“Alhamdulillah! Beberapa waktu  yang lalu aku dan Jabal menjalankan misi  ke Ubullah. Sudah ada orang kita yang  mempersiapkan keadaan di sana. Jika kita  masuk lewat sana insya Allah akan lebih  mudah.” “Ada informasi apa tentang  Ubullah?” “Informasi ini memang sangat  rahasia,

” kata Mutsana. Dia melirik ke luar  tenda untuk memastikan tidak ada orang  yang mencuri dengar apa yang hendak  dikatakannya. Dia juga memelankan  suaranya.

“Aku sendiri baru saja  mengetahui informasi ini ketika misi ini  diserahkan kepadaku dan Jabal. Ternyata  tak lama setelah Rasulullah shalallahu  ‘alayhi wasallam bersabda bahwa Persia  akan dicabik-cabik oleh kekuasaan Islam,  beliau menanam sekelompok agen rahasia di Ubullah. Pemimpin kelompok  ini bernama Aswad bin Asadi. Aku sempat  bertemu dengannya saat menjalankan  misi di Ubullah.”

“Subhanallah walhamdulillah.  Lantas hasil apa saja yang sudah dicapai  Aswad?”

“Kami sudah membawa seluruh  laporan Aswad sejak pertama kali dia  diberi misi oleh Rasulullah hingga  kedatangan kami. Seluruh laporan itu  sudah kami serahkan kepada Khalifah. Dia  sudah memersiapkan segala hal yang  dibutuhkan agar penaklukan Ubullah  menjadi lebih mudah. Salah satu yang  membuatku takjub adalah, dia berhasil  memimpin timnya untuk membangun  jaringan pintu rahasia di sepanjang kota  Ubullah yang dihubungkan dengan  terowongan. Pintu-pintu rahasia itu  tersebar di hampir seluruh kota, dan kita  bisa bebas muncul dan menghilang lewat  pintu rahasia itu.”

“Kerja bagus! Aku mengucapkan  selamat kepada Aswad dan tim kita di  sana,” terhamparlah senyum tegas di  wajah Khalid.

Kemudian dia bangkit dan  menghampiri lampu minyak yang ada di  pinggir tenda. Dibakarnya surat Khalifah  itu hingga jadi abu. “Ada banyak hal yang  harus kita lakukan sambil memersiapkan  serangan.

000

Tikar pelepah kurma menjadi alas kesederhanaan. Khalid jenderal besar, kalau dia mau, dia bisa mengumpulkan seluruh harta kekayaan dari negeri-negeri yang telah ditaklukkannya. Tetapi dia tidaklah begitu, bagaimana mungkin dia  tidur di atas dipan dari beludru,  sementara Rasulullah tidur di atas tikar  dari bekas pelepah kurma. Justru di atas  tikar pelepah kurma itulah dia merasa  lebih nyaman untuk merumuskan  strateginya dalam mengalahkan musuh-musuh Allah. Di hadapan Khalid duduklah  Mutsana bin Harits dan Rabiah bin Amir.

Sebagaimana diperintahkan, hanya dalam  beberapa menit, Mutsana segera  menghadirkan Rabiah di tenda komandan  pasukan Khilafah Islamiyah itu. Mutsana  tak perlu susah-susah mencari Rabiah  karena dia adalah salah satu komandan  kavaleri pasukan Khilafah.

“Syukur alhamdulillah kalian  berdua sudah hadir,” Khalid membuka  pembicaraan.

Dia mengambil kantung air  dari kulit kambing yang ada di dekatnya.  Membuka sumbatnya, lalu meminumnya  setelah membaca basmalah. Kemudian  dia menyodorkan kantung air itu kepada  Mutsana dan Rabiah. Kedua prajurit  muslim itu pun minum bergantian.

“Telah sampai perintah dari  Khalifah bahwa kita akan segera  mengadakan penaklukan ke Persia.  Khalifah memerintahkan kita masuk dari  kota Ubullah. Sebagaimana informasi  yang telah kudapatkan, telah ada tim kita  yang memersiapkan keadaan agar  Ubullah bisa ditaklukkan. Kemudian kota  itulah yang akan menjadi basis  penyerangan kita ke wilayah-wilayah  Persia selanjutnya,” Khalid menjelaskan.

Mutsana dan Rabiah  memerhatikan kata-kata Khalid dengan  saksama. Mulut mereka mengatup rapat.  Mutsana akan mengerutkan dahinya  kalau dia sedang berkonsentrasi.  Sementara Rabiah mengelus-elus pelan  punggung tangannya. Rabiah bin Amir adalah seorang  prajurit muslim yang tangguh.

Wajahnya  tampan dengan janggut yang tercukur  rapi dan hitam. Janggut itu tidak terputus  dari kedua jambangnya, terus tersambung  di dagu dan di atas bibirnya.

Perawakannya sedang, tidak jangkung dan tidak pendek. Tubuhnya kekar, otot-ototnya bertonjolan di lengan, perut dan  dadanya. Bahunya bidang dan  kekuatannya luarbiasa. Dia adalah tipe  lelaki yang amat disukai wanita. Sebilah pedang tergeletak di  pangkuan Rabiah sementara kedua  telapak tangannya saling bertumpuk. Dia  mengusap-usap punggung tangan  kanannya, begitulah tingkahnya jika  sedang berkonsentrasi. Khalid  melanjutkan instruksinya kepada anak  buahnya.

“Kalian akan menjadi satu tim  dalam pelaksanaan misi ini. Aku  perintahkan kepada Rabiah untuk  menghadap Badzan, Jenderal Persia yang  memimpin Ubullah. Sampaikanlah surat  dariku ini kepada Badzan.” Khalid berhenti sejenak dan  meraih segulung perkamen yang  dimasukkannya ke dalam sebuah tabung  kayu.

Tabung itu kemudian diserahkannya  kepada Rabiah. Dengan penuh keyakinan,  dia mengambil surat itu. Dia tahu persis  apa yang biasanya terjadi pada para  pengantar surat untuk para raja. Biasanya  para pengantar surat itulah yang dijadikan  pelapiasan jika raja yang dituju itu tidak  menyukai isi suratnya. Dia tahu benar  bahwa apa yang sedang dipegangnya bisa  jadi adalah palu godam kematiannya.  Sebab surat yang dia bawa itu adalah  surat dakwah. Sepucuk surat yang isinya  belum tentu disenangi semua orang.

Namun tugas itu diambilnya juga. Kalau  untuk menyampaikan kebenaran, apa pun  akan dia pertaruhkan. Khalid  mengacungkan telunjuknya kepada  Rabiah. Dia berusaha menekankan misi  penting untuk anakbuahnya.

“Serahkan surat dakwah ini  kepada Badzan di Ubullah. Jika kelak kita  akan mengambilalih Ubullah berarti kita  akan berhadapan dengannya. Jika  dibutuhkan, mintalah jawaban tertulis.  Ketika memasuki Ubullah, kalian berdua  haruslah berjalan terpisah. Untuk  Mutsana, hubungilah orang-orang kita di  Ubullah sebelum Rabiah menghadap  Badzan. Mintalah bantuan sepenuh-penuhnya dari mereka agar Badzan bisa  keluar dengan selamat jika terjadi hal-hal  yang tidak diinginkan. Kalian pasti tahu  bagaimana biasanya sikap para penguasa  ketika menghadapi surat dakwah.

Setelah  pelaksanaan misi ini, Mutsana kembalilah  kepada pasukanmu, tunggu perintah  selanjutnya. Rabiah berjalanlah terus  menuju Kazima. Temuai aku di sana dan  laporkan segala perkembangan yang  terjadi!”

“Siap!” sahut mereka.

Setelah  mendapatkan perintah, mereka segera  bangkit dan segera bergerak  melaksanakannya.

bersambung,,,

di muat di majalah remaja islam drise edisi 50




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

fifteen − 13 =