drise-online.com – “Memangnya ada apa dengan rumah itu?” Tanya Mutsana.

“Seperti apa yang tadi sudah aku ceritakan,” ujar Aswad, “Aku dan timku telah berhasil membangun fasilitas rahasia yang membentang di seluruh kota ini. Kami membangun terowongan-terowongan rahasia dan pintu-pintu rahasia yang tersambung ke berbagai bagian dari kota ini. Pintu rahasia yang kalian lihat di gang tadi adalah salah satunya, dan ada pintu rahasia juga di rumah hantu itu yang dihubungkan langsung dengan tempat ini melalui terowongan. Rumah ini menjadi pusat operasi kami dan di sini pulalah pintu-pintu rahasia itu terhubung dengan pintu-pintu rahasia yang lain lewat terowongan bawah tanah. Jadi jalan pulang kalian tidak akan terlalu sulit seperti ketika kalian datang.”

Alhamdulillah wallahu akbar,” Jabal memuji Tuhan.

“Dan segala hal yang terkait dengan seluruh fasilitas rahasia yang kami bangun ini sudah terlampir di dalam peta yang kalian bawa di dalam dokumen itu,” tambah Aswad.

“Baiklah, kalau begitu kami akan segera berangkat sekarang juga,” ujar Mutsana. “Semakin cepat kami berangkat semakin baik. Kalau kami terlalu lama berada di sini, khawatir akan berakibat buruk.”

“Ya, kecepatan dan ketepatan memang sangat penting. Tapi ada baiknya kalian memasok makanan dan perbekalan dahulu dari sini untuk keperluan di jalan. Kalian pasti kelaparan. Nanti, ketika malam sudah datang, barulah kalian berangkat, aku akan memandu kalian sampai keluar tembok kota.”

Mutsana dan Jabal saling pandang, ide apalagi yang lebih baik dari ini? Mereka pun mengangguk tanda setuju dengan apa yang dikatakan Aswad.

“Semoga Allah melindungi anda dan seluruh tim anda. Terima kasih banyak.” Kata Mutsana.

000

“Karena orang-orang di kota ini percaya bahwa reruntuhan ini berhantu, maka tempat ini menjadi titik yang aman untuk bersembunyi,” kata Aswad. “Tidak akan ada orang yang berani mendekati tempat ini, bahkan sekadar berpikir pun tidak.” Dia memimpin Mutsana dan Jabal keluar dari sebuah lubang yang ada di sebuah kamar di tengah-tengah reruntuhan Rumah Kematian.

Lubang itu ditutup oleh batu berbentuk persegi berukuran dua meter kali dua meter, yang berbaur dengan lempeng-lempeng keramik yang sudah tidak beraturan lagi di sekitarnya, menjadi semacam pintu tingkap. Pintu itu jadi tersamarkan dan tidak akan ada orang yang tahu.

“Kami bersembunyi persis di sini ketika kami datang semalam,” ujar Jabal. Dia terlihat takjub sambil berkacak pinggang dan menggelengkan kepalanya. “Kalau saja kami tahu, lebih baik kami lewat sini.”

“Lebih baik jangan berkata begitu, apa yang sudah terjadi semuanya sudah ketentuan Allah, dan pasti ada hikmah yang bisa kita petik dari peristiwa yang lalu,” kata Aswad. “Rasul melarang kita untuk berkata ‘kalau saja begini, kalau saja begitu.’”

“Astaghfirullah,” gumam Jabal. “Semoga Allah mengampuni kekhilafanku.”

“Di bagian dalam sana ada pintu lagi untuk menuju keluar. Terowongan ini akan tembus di sebuah lubang di lembah sebelah barat, dan kalau sudah sampai di sana artinya tembok kota sudah kalian lintasi.”

Aswad memandu Mutsana dan Jabal memasuki bagian tengah reruntuhan itu dan menyingkap ada sebuah pintu rahasia lagi di lantai. Aswad membukakan pintu itu di tengah kegelapan untuk kedua rekannya.

“Masuklah melalui pintu ini, ikuti terus jalur terowongannya, nanti kalian akan tiba di lembah bagian barat, insya Allah,” katanya.

“Sekali lagi terima kasih banyak,” kata Mutsana, dia menjabat tangan Aswad dan memeluknya.

“Anda adalah seorang mukmin yang amat baik,” giliran Jabal yang menjabat tangan Aswad dan memeluknya. “Semoga Allah selalu meberkahi anda, insya Allah.”

“Semoga kalian berdua selamat sampai di Madinah, Allah akan melindungi kalian berdua, insya Allah. Di luar sini kita tidak boleh menyalakan lilin. Setelah berada di dalam barulah kalian menyalakan lilin,” kata Aswad. “Selamat bertugas.”

Setelah berbalas salam, Mutsana dan Jabal memasuki lubang yang gelap itu sementara Aswad menutupkan pintunya. Lilin pun mereka nyalakan seperti diperintahkan Aswad, dan mereka telusuri terowongan itu.

Tinggi dan lebar terowongan itu masing-masing hanya dua meter, cukup sempit. Bagian tepi dan atapnya disangga oleh balok-balok kayu yang tebal agar terowongan yang beralas dan beratap tanah itu tidak runtuh. Mulut Mutsana dan Jabal terkatup diam, mereka tidak bicara apa-apa sepanjang perjalanan. Sementara hati mereka tetap menggumamkan zikir kepada Allah azza wajalla.

Perjalanan melintasi terowongan itu terasa panjang, walau pun datar-datar saja. Mereka merasa bahwa mereka sedang melintasi sebagian kota Ubullah dan denyut aktifitas kota itu ada di atas mereka. Setelah kira-kira setengah jam berjalan, mereka melihat cahaya redup di depan mereka.

“Itu ujung terowongan,” kata Mutsana, dia berjalan di depan. Sementara Jabal mengikuti di belakangnya.

Cahaya redup bintang gemintang menerobos masuk dari celah. Pintu keluar itu tertutup sebongkah batu besar.

“Pintunya tertutup,” kata Jabal. “Bagaimana mungkin Aswad menuntun kita pada jalan buntu seperti ini?”

“Jangan su’uzhon dulu, mungkin saja Ini sekadar kamuflase,” ujar Mutsana. “Kita coba geser saja.”

Mutsana dan Jabal meletakkan lilin mereka di lantai terowongan. Mereka mengerahkan tenaga untuk menggeser batu besar itu. Tanpa diduga, batu besar itu bergerak dengan mudah, mereka hanya perlu mengerahkan sedikit tenaga. Mereka segera keluar dari terowongan itu, membentanglah langit malam yang ditaburi bintang-bintang di hadapan mereka. Udara segar segera memenuhi paru-paru mereka setelah mereka merasakan betapa tipisnya udara di dalam terowongan.

Mereka kembali menggeser batu besar itu ke tempatnya semula, agar lubang rahasia itu tetap tersembunyi. Mutsana menengadah ke langit malam, dia tahu, Allah dzat yang tidak pernah tidur sedang menyaksikannya mengemban amanah, dia naikkan kedua belah tangannya. Jabal mengikuti apa yang dilakukan komandannya itu.

“Ya Allah, ya Robbi, tidaklah segala sesuatu terjadi melainkan karena kuasa dan kehendakMu! Terima kasih karena telah memberikan keberhasilan pada kami dalam menjalankan misi ini. Mohon selalu berkahi langkah kami, tetapkan kami di atas jalan yang lurus. Subhanallah walhamdulillah.”

Kedua agen rahasia itu segera merendahkan tubuh mereka, kemudian tersungkur di atas tanah, bersujud kepada Tuhan seru sekalian alam. [@sayfmuhammadisa]

Bersambung…

di  muat di Majalah Remaja Islam drise Edisi #39