Majalahdrise.com – Langit biru dan sendu, sang matahari masih malu-malu di sudut situ. Dua ekor unta sedang berjalan menapak padang pasir yang masih dingin di daratan Arabia. Yang menungganginya adalah dua orang agen rahasia Khilafah Islamiyah, Mutsana bin Harits, dan Jabal bin Abdul’uzza. Mereka baru saja keluar dari kota Madinah selepas solat subuh. Khalifah Abu Bakar Shiddiq memerintahkan kepada mereka untuk keluar dari Madinah menuju arah Yamamah. Misi apa lagi yang telah mereka terima?

“Seperti biasa,” kata Mutsana, “Kita sudah keluar dari Madinah, kita harus membuka surat Khalifah.”

“Baiklah,” gumam Jabal.

Mereka dikelilingi oleh gurun pasir yang tandus, yang ketika itu sang gurun pasir masih ramah karena hari masih pagi. Langit sudah cukup terang dan berwarna biru tapi matahari belum keluar dari balik cakrawala. Namun tak perlu menunggu waktu lama, hanya dalam beberapa jam saja, padang pasir itu akan menjadi ganas. Gunung-gunung cadas yang diam membisu tegak di kiri-kanan jalan. Batu-batu dan kerikil menjadi penghias mata, menggantikan rerumputan. Hampir tak ada yang hidup di padang pasir itu, kecuali binatang-binatang dan tumbuhan-tumbuhan yang sudah tercipta untuk hidup di sana.

“Ayo kita menepi,” kata Mutsana.

Dia dan Jabal berbelok sejenak ke tepi jalan, mendekat pada sebuah gunung karang yang tertutup oleh pasir. Ada bagian yang kasar pada permukaan gunung karang itu, sebagian halus karena terkikis angin semenjak waktu yang tidak bisa diduga-duga. Mereka turun dari unta masing-masing dan mengikatkannya ke sebatang pohon kurma kering yang merana di dekat gunung karang itu, mereka mencari tempat yang agak tersembunyi. Kehati-hatian dan kewaspadaan harus selalu ada di setiap langkah mereka.

Setelah duduk bersandar pada batu karang, Mutsana mengeluarkan surat dari Khalifah. Dibukanya amplop pembungkus surat itu, yang bagian tutupnya disegel lilin berwarna merah dengan stempel Khilafah Islamiyah tercetak di atasnya. Stempel itu adalah cincin Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam yang di atasnya terukir lafaz “Allah”, “Rasul”, dan “Muhammad”. Setelah Rasulullah wafat, cincin stempel kenegaraan itu kemudian dipegang oleh Khalifah Abu Bakar Shiddiq.

Sepucuk surat yang lebih kecil melompat keluar, persis seperti misi mereka sebelumnya. Jabal memungut surat itu yang terjatuh di dekatnya dan mengangkatnya di depan dadanya.

“Ada surat kecil lagi,” gumamnya.

Mutsana memerhatikan surat itu dan berdeham. Entah apa maksud dari dehamnya itu. Dia kembali beralih kepada surat yang besar.

“Baiklah, akan kubacakan,” kata Mutsana, sambil memerhatikan surat yang sudah terhampar di hadapannya.

 

 

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kepada Saudaraku,

Mutsana bin Harits dan Jabal bin Abdul’uzza,

Pergilah kalian ke Yamamah dalam waktu dua hari. Temuilah komandan kita, Khalid bin Walid, yang telah selesai betugas memberantas Musailamah al Kadzab, kemudian serahkan surat kecil yang aku lampirkan di surat kalian.

Surat kecil itu amat penting untuk segera berada di tangan Khalid, sebab itulah yang menentukan dimulainya futuhat pertama kita ke Persia. Semoga Allah selalu bersama kalian, insya Allah. Bakarlah surat ini, setelah kalian memahami isinya.

Saudaramu,

Khalifaturasulillah

Abu Bakar

Wassalamuaialaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

 

 

“Sepertinya misi kali ini cukup mudah,” kata Jabal, “Hanya mengantarkan surat.”

“Sesuatu yang kelihatan mudah tidak akan menjadi mudah jika Allah berkehendak menyulitkannya, begitu juga sebaliknya,” kata Mutsana. “Intinya, kita hanya bisa bergantung kepada Allah subhanahu wata’ala agar mempermudah misi kita. Memohon kemudahan dariNya adalah hal yang amat penting.”

Mereka menengadahkan tangan ke langit, memohon pertolongan kepada Allah yang kepadaNya bergantung segala sesuatu. Tidaklah makhluk memiliki kuasa apa-apa, kecuali apa yang dikehendaki Allah saja.

Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, la hawla wala quwwata illabillah,” seru Mutsana, “Semoga Allah memberikan kemudahan serta keselamatan bagi kita semua. Sebab tanpa hal itu kita tidak akan pernah bisa menyelesaikan misi kita. Semoga Allah mengampuni semua kesalahan dan dosa-dosa kita.”

Setelah membakar surat sebagaimana perintah dan mengamankan surat kecil di dalam saku celana, Mutsana dan Jabal melompat ke punggung unta mereka masing-masing, kemudian memacunya selagi hari masih pagi.

Terhamparlah jejak cepat kaki unta di atas butiran-butiran pasir. Angin dingin berembus lagi seiring dengan melatanya ular-ular dan kadal-kadal. Mutsana dan Jabal menggenggam erat tali kekang unta-unta itu untuk mengendalikan pacunya. Mereka sedang berada dalam sebuah misi penting.

Matahari pun terbit dan membuat bayang-bayang menghitam panjang. Dari balik gunung-gunung karang dia muncul dengan gagah dan berwibawa. Seakan-akan dia sajalah yang ditunggu oleh seluruh makhluk selaksa alam. Dia memancarkan energi kepada semesta sejak dahulu kala.

Satu jam telah berlalu sejak Mutsana dan Jabal meninggalkan Madinah. Pelita matahari semakin terik dan mengalirkan bulir-bulir keringat di wajah mereka. Fatamorgana makin mengambang dan apa yang terlihat di depan seolah-olah hanya khayalan. Mereka mengatur kecepatan pacu unta-unta mereka agar mereka bisa selalu bersisian, hingga tiba-tiba mata Mutsana menangkap sebuah bayangan.

Jauh di depan sana, di antara fatamorgana, dia melihat ada seseorang. Hatinya bertanya-tanya apakah yang sedang dia saksikan adalah kenyataan atau khayalan. Dia berteriak kepada Jabal untuk mengalahkan deru angin.

“Ada orang di depan! Kau melihatnya??”

“Aku melihatnya,” seru Jabal. Ternyata dia pun melihat apa yang dilihat Mutsana. “Tapi kita belum tahu apa yang kita lihat itu benar atau tidak.”

Mereka memacu unta-unta mereka agar berlari semakin cepat. Dan semakin dekat mereka dengan apa yang mereka lihat, kian nyata bahwa apa yang mereka lihat bukanlah tipuan fatamorgana.

Bersambung…

di Muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #42