MajalahDrise.com – Debu gurun pasir membubung ke angkasa menjadi awan tebal. Seluruh penunggang kuda berpakaian hitam itu menutupkan kain ke wajah mereka dengan menyisakan sedikit saja celah untuk pandangan mata. Mereka memacu kuda-kuda mereka sekencang-kencangnya karena ada dua orang yang sedang mereka kejar di depan mereka. Dua orang itu adalah agen rahasia Khilafah Islamiyah, Mutsana bin Harits dan Jabal bin Abdul’uzza.

Prajurit-prajurit hitam yang paling dekat dengan Mutsana dan Jabal melemparkan tombak-tombak mereka, namun semuanya bisa dielakkan oleh Mutsana dan Jabal. Satu lagi tebasan pedang berhasil dielakkan oleh Jabal dan dia hempaskan bilah pedangnya kepada prajurit hitam itu, yang membuatnya terpental dari kuda. Satu persatu prajurit hitam yang mendekat berhasil diatasi oleh Mutsana dan Jabal, tapi sampai kapan? Jumlah mereka terlalu banyak. Tiba-tiba Jabal memekik.

“KOMANDAN, JANGAN SAMPAI TERTANGKAP!!!”

Jabal menarik tali kekangnya untanya kuat-kuat dan berbalik arah menerjang para pengejar itu. Prajurit-prajurit hitam segera mengepungnya dan menjadikan tubuhnya sebagai sasaran pedang dan tombak. Namun Jabal masih tetap gigih berjuang, dia mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkan rekannya. Hingga sebuah tebasan pedang menggores lengan kirinya dan membuatnya terjerembab dari kuda. Jabal bin Abdul’uzza telah rebah di tanah, ujung-ujung tombak dan pedang telah diarahkan ke wajahnya.

“Kita membutuhkan dia hidup-hidup,” tiba-tiba sebuah suara terdengar, kemudian semuanya hitam, Jabal telah pingsan.

 

000

 

Gemetarlah lengan Mutsana bin Harits saat punggungnya tersandar di balik sebongkah batu besar, tempat persembunyiannya. Napasnya terngah-engah diiringi keringat yang mengalir menganak sungai. Raut wajahnya keruh dan airmatanya tumpah di pipinya. Sebilah pedang yang tadi dia gunakan untuk melindungi dirinya tergeletak di dekatnya. Unta cokelatnya yang kokoh dan tangguh, yang telah menemaninya dalam berbagai misi, memamah semak-semak gurun berduri. Seolah-olah unta itu mengerti apa yang sedang terjadi pada tuannya. Walau tidak diikat, dia tidak melarikan diri, dia tetap setia menemani tuannya apa pun yang terjadi.

Sanubari Mutsana merintih perih, dia benar-benar tidak menyadari apa yang akan terjadi. Dan sampai saat itu dia masih tetap tidak menyadari apa yang telah terjadi. Jutaan tanda tanya terbit di dalam hatinya, seiring dengan doa-doa tulus yang memanjatkan ampunan dan pengakuan akan kelemahannya sebagai manusia. Hanya kepada Allahlah dia berserah, tak ada lagi selain Dia. Mutsana bertanya-tanya, siapakah lelaki yang terluka kakinya di tengah-tengah gurun itu? Apakah dia sengaja melakukan semua itu untuk menjebak, sebab lelaki itu tidak main-main, lukanya sungguhan. Hanya saja jelas dia telah berbohong, sebab dia berkata lukanya karena terbentur batu, padahal tersayat pedang.

Selain sebagai agen rahasia, Jabal pun memiliki kemampuan yang tinggi dalam bidang pengobatan. Dia mengenali berbagai macam luka dan bagaimana cara mengobatinya. Setiap tim agen rahasia yang ditugaskan Khilafah Islamiyah dalam sebuah misi pasti memiliki seorang ahli pengobatan di dalamnya. Sayangnya, sekarang Jabal telah tertangkap, kalau memang benar dia hanya ditangkap. Bagaimana kalau dia dibunuh?

Mutsana tak sanggup memikirkan hal itu, walau dia tahu betul apa risikonya jika seorang agen rahasia tertangkap musuh. Sekarang hatinya didera kebingungan, langkah apakah yang harus dia ambil? Dia tidak tahu pasti apa yang terjadi pada Jabal, walau tetap tersedia kemungkinan bahwa Jabal masih hidup. Jika memang begitu, dia berkewajiban untuk menyelamatkan Jabal. Namun kalau itu dia lakukan, ada kemungkinan dia akan terlambat tiba di Yamamah. Dan keterlambatan dalam menyampaikan sebuah pesan penting adalah sesuatu yang tidak bisa dimaafkan. Dia berpikir keras tentang apa yang mesti dia lakukan.

Bersimpuhlah Mutsana di hadapan Allah subhanahu wata’ala, menghadap kiblat. Dia menunduk kepada butiran-butiran pasir di antara kedua lututnya lalu menengadah ke langit yang hendak menggelarkan siang hari. Diangkatnya kedua belah tangannya, dalam linangan airmata dia berdoa kepada Allah.

“Ya Allah, ya Robbi, tunjukilah aku. Di dalam tanganku terletak sebuah urusan yang besar, jika tanpa pertolonganMu, aku tak akan bisa menyelesaikan misi ini. Mohon jadikan keputusan-keputusanku sebagai keputusan yang benar.”

Mutsana bersujud ke haribaan Allah, dia pasrahkan semuanya. Ketika dia bangun dari sujudnya, airmatanya telah terhapus dan hatinya telah mantap. Diperhatikannya langit yang tegak tanpa tiang itu dan matahari yang hendak merajai bumi siang ini. Jemarinya bergerak-gerak seakan sedang menghitung sesuatu, dan tiba-tiba matanya menyala terang dengan semangat.

Diraihnya pedangnya yang tergeletak di atas pasir dan disarungkannya di pinggangnya. Dia bergegas bangkit dan meraih tali kekang untanya. Mulutnya terkatup rapat sambil terus mengingat Tuhannya. Dia melompat ke atas pelana unta dan melarikannya berbalik arah, bukan menuju Yamamah.

Sambil terus meneliti keadaan sekitar, Mutsana mengendalikan tali kekang untanya. Dia menekur memerhatikan jejak-jejak kaki kuda yang terukir di atas pasir tandus itu tepat di lokasi tertangkapnya Jabal. Dia turun dari punggung unta untuk mengamati jejak-jejak itu dengan lebih cermat. Ada banyak jejak kaki kuda yang menandakan ada sepasukan prajurit berkuda pernah hadir di sana. Merekalah prajurit berkuda berpakaian hitam. Mutsana melangkah agak ke depan, terhamparlah bekas-bekas sesuatu yang diseret di atas tanah.

Jabal jatuh di sini, kemudian dia ditangkap, gumam hatinya. Matanya terus mengamati ke arah mana jejak-jejak itu menuju, berarti ke sanalah perginya pasukan berkuda berpakaian hitam itu.

Kemampuan Mutsana dalam membaca jejak memang hebat. Dia salah satu pembaca jejak terbaik di tengah-tengah pasukan Khilafah Islamiyah. Dan kemampuan yang dianugerahi Allah itu amat berguna di saat-saat seperti ini. Dia segera melompat ke atas punggung untanya dan menaikkan kepasrahan hanya kepada Allah azza wajalla. Dihentakkannya tali kekang untanya kuat-kuat yang kemudian memicu derap langkah unta yang kokoh itu. Mutsana berniat meraih semuanya, membebaskan rekannya dan menyelesaikan misi tepat pada waktunya.

Bersambung

Follow @sayfmuhammadisa

di muat di Majalah remaja Islam Drise Edisi #44