MajalahDrise.com – Jejak-jejak kaki kuda di tengah-tengah gurun yang kering itu mengantarkan Mutsana bin Harits ke sebuah benteng. Terletak satu kilometer dari tempat jatuhnya Jabal bin Abdul’uzza. Mutsana tahu persis bahwa langkah yang diambilnya ini amat besar bahayanya. Dia takjub ketika melihat benteng itu dari balik sebongkah karang besar, dan tidak punya informasi apa-apa tentangnya. Dia tahu persis seberapa pentingnya informasi itu ketika sedang berhadapan dengan musuh.

Benteng tanah liat itu terletak di tengah-tengah sebuah lembah, dan dia dibangun di dalam sebuah jurang dengan celah yang sempit. Mutsana berada di tempat yang aman di tepi jurang itu dan menatap ke bawah untuk mengamati benteng. Hampir-hampir dia tak percaya sebab ternyata ada sebuah benteng musuh di tempat yang tidak begitu jauh dari Madinah sebagai ibukota Khilafah Islamiyah.

Mutsana mengedarkan pandangannya ke sekitar benteng itu dan menyadari ada sesuatu yang menutupi celah sempit tempatnya berada. Seperti ada sehelai kain yang amat lebar yang ujung-ujungnya terhubung dari tepi jurang yang satu ke tepi jurang lainnya. Di atas kain lebar itu ditaburi pasir-pasir gurun agar keberadaan benteng itu tersamarkan dari pandangan mata semua orang. Yang jadi masalah, Mutsana tidak tahu ke mana jalan masuk menuju benteng itu. Bagaimana cara dia menyusup ke dalam benteng sementara hari beranjak terang-benderang? Hal itu hampir mustahil. Dan dia sama sekali tidak tahu di mana Jabal disekap. Ketiadaan informasi memang sesuatu  yang amat berbahaya.

Mutsana kembali menengadah menatap langit biru yang tinggi. Dia tidak punya banyak waktu, namun dia tidak tahu pasti apa yang mesti dia lakukan. Hatinya tak henti berzikir kepada Allah, berdoa memohon kemudahan.

Tiba-tiba dia mendengar sayup-sayup derap langkah kaki kuda di kejauhan. Ketika dia mengamati apa yang didengarnya, sadarlah dia ada sebuah kesempatan baik untuknya. Seorang prajurit hitam sedang berkuda dengan cepat melintasi gurun pasir. Pakaiannya yang hitam berkelebat di belakangnya, selendang serbannya menutupi sebagian wajahnya. Kali ini ada sebuah perasaan bahagia yang aneh ketika dia mengetahui kedatangan musuhnya itu. dia bergegas memersiapkan diri untuk menyambut orang yang datang itu, dia bergerak dari tempat persembunyiannya. Dia berencana menghadang prajurit hitam itu.

Mutsana telah menunggu di sebuah celah batu tepat di jalan yang akan dilewati oleh prajurit hitam itu. Dia menggenggam sebongkah batu di tangan kanannya yang akan dia lemparkan kepada musuhnya. Agar batu yang keras dan kasar itu tidak terlalu melukai musuhnya, dia bungkus batu itu dengan sehelai kain yang diambil dari serbannya. Dia bersiap-siap untuk melemparkan batu itu dari tempat persembunyiannya.

Mutsana adalah juga seorang pelempar yang ulung. Akurasi lemparannya amat tinggi, apa yang dia lempar hampir pasti mengenai sasarannya. Satu lagi kemampuan yang amat berguna yang dianugerahi Allah kepadanya.

Prajurit hitam itu semakin mendekat, tanpa menyadari ada seseorang yang sedang mengintainya. Mutsana terus memerhitungkan jarak dan waktu yang tepat untuk melempar batu itu kepada sasarannya. Matanya terpicing, jemarinya bergerak, merasakan lekuk-lekuk batu yang sedang digenggamnya. Kesempatannya hanya sekali dan dia tidak boleh meleset. Hati Mutsana terus saja menggumamkan harap kepada Allah.

Saat prajurit hitam itu telah berada pada posisi yang tepat, Mutsana mengayunkan tangannya dan melemparkan batu itu tepat kepada sasaran. Batu yang dilemparkan Mutsana tepat mengenai kepala prajurit hitam itu dan membuatnya terjerembab dari kudanya. Dia terguling di atas pasir dan Mutsana segera meringkusnya beserta kudanya. Prajurit hitam itu pingsan ketika terjatuh dan dengan mudah Mutsana menyeretnya ke tempat persembunyian. Dia pun bergegas menangkap kuda milik prajurit hitam itu dan membawanya ke dalam celah.

Terbaringlah di hadapan Mutsana seorang lelaki berpakaian serba hitam, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Serbannya hitam dan hampir seluruh wajahnya tersembunyi di balik cadar hitam. Mata lelaki itu terpejam, dia tak sadarkan diri. Sebelum bertindak lebih jauh terjadap lelaki itu, Mutsana bergegas kembali kepada untanya. Dia mengambil barang-barang yang dibutuhkannya, seutas tali, kantung air, dan pedangnya.

Setelah kembali kepada tawanannya, Mutsana mencabut pedang dari sarungnya. Bilah pedang itu berkilauan ditimpa sinar mentari yang hendak naik. Dengan pedang di tangannya, Mutsana meraih kantung air lalu meneguk air di dalamnya. Dia tidak langsung menelah air itu, tapi dia membuka cadar hitam tawanannya dan menyemburkan air di mulutnya ke wajah tawanannya. Prajurit hitam itu terkejut dan langsung tersadar, namun bilah pedang Mutsana telah merapat di lehernya.

“Siapa kau?” Suara prajurit hitam itu parau. Tenggorokannya sakit, terlebih lagi kepalanya yang terkena batu sudah membengkak.

“Kau tak perlu tahu. Yang pasti sekarang kau harus menjawab semua pertanyaanku, atau pedangku ini yang akan bertanya padamu.” Ancam Mutsana.

 

000

 

Matahari terus naik menuju puncak langit. Dia tidak akan menunggu siapa pun yang tidak mau bergegas. Dia mengiringi langkah kaki seekor kuda yang ditunggangi oleh seorang lelaki berpakaian hitam. Serban dan cadar hitam yang dikenakan lelaki itu membuat wajahnya tidak bisa dikenali. Orang yang ada di balik pakaian hitam itu telah berganti. Mutsana menyamar dengan mengenakan pakaian hitam milik seorang musuh yang berhasil dilumpuhkannya.

Hari itu akan menjadi hari yang panjang bagi Mutsana. Dengan segala pengalaman dan ilmu yang dimilikinya, Mutsana telah mendapatkan segala informasi yang dia butuhkan dari prajurit hitam yang menjadi tawanannya tadi. Kini dia lebih siap untuk menyusup ke benteng musuh yang berada di dasar sebuah lembah itu.

Mutsana memacu kudanya sekencang-kencangnya. Sebilah pedang dan sebilah belati sudah tersemat di pinggangnya, sebagai senjata yang akan melindungi dirinya dari serangan musuh. Wajahnya tertutup cadar hitam yang dikaitkannya dengan erat agar jatidirinya tidak terungkap. Angin padang pasir mengibarkan pakaiannya. Mutsana bergerak menyusuri tepian jurang itu ke arah yang malah menjauh dari benteng. Dia melarikan kudanya menghampiri sebuah gunung batu yang tinggi menentang matahari.

Derap langkah kaki kuda yang tadinya cepat kini telah berubah menjadi pelan. Mutsana menurunkan kecepatan kudanya. Sambil berjalan, dia memerhatikan gunung batu yang ada di hadapannya, yang letaknya di sebelah timur benteng. Tatapan matanya menyapu gunung batu itu dari lereng sampai ke puncaknya. Berhentilah Mutsana di hadapan gunung batu itu, dia turun dari kudanya dan berjalan terus menghampiri gunung sambil menuntun kudanya. Entah apa yang hendak dia lakukan.

Sambil berdiri dan berkacak pinggang, Mutsana memerhatikan apa yang ada di bawahnya. Rerumputan kering, kaktus, pepasir, dan kerikil, memenuhi dasar dari gunung batu itu. Pandangan mata Mutsana menyusuri setiap jengkalnya, seolah-olah ada sesuatu yang sedang dicarinya. Hingga kemudian perhatiannya tercuri.

Tak jauh di depan Mutsana ada setumpuk batu gurun yang jika dilihat selintas hanyalah tumpukan batu biasa. Ternyata tumpukan batu-batu itu menciptakan semacam ruang untuk melindungi sesuatu yang ada di dalamnya. Mutsana membungkuk rendah dan memasukkan tangan kanannya ke dalam celah yang sepertinya telah disiapkan sejak lama. Di dalam ruang itu tangannya menyentuh sebongkah batu yang permukaannya halus sekali. Dia sendiri tidak sanggup melihat apa yang disentuhnya. Dirabanya sebongkah batu itu kemudian didorongnya ke depan. Mutsana perlu mengerahkan sejumlah besar tenaganya, karena ternyata sebongkah batu yang halus itu cukup berat saat dia hendak mendorongnya.

Angin gurun pun berembus seiring dengan gemuruh yang mendadak muncul membelah padang pasir. Dinding gunung batu yang keras dan kejam itu merekah, membuka! Sebuah gerbang pada gunung batu muncul di hadapan Mutsana… [@sayfmuhammadisa]

Bersambung

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #45