Majalahdrise.com – Dinding gunung batu di hadapan Mutsana membuka lebar. Sebuah gerbang membentang di hadapannya. Dia memerhatikan apa yang terjadi dengan tatapan mata membelalak. Dia benar-benar tidak menyangka semua yang sedang dilihatnya. Bongkahan batu berpermukaan halus yang didorongnya tadi ternyata tombol kunci sebuah gerbang. Sambil menuntun kudanya, Mutsana berjalan memasuki gerbang itu.

sebelumnya,,,,

Ketika dia telah melangkah masuk, gerbang batu itu menutup dengan sendirinya, menyisakan kegelapan yang menelannya. Mutsana berada di semacam lorong yang berdinding batu karang. Dia berada di dalam gunung batu yang tadi dilihatnya. Mutsana melangkahkan kakinya tanpa penerangan. Hanya beberapa helai cahaya yang menyusup masuk dari atas yang menemaninya. Jalan yang dilangkahinya diperkeras dengan pecahan batu-batu gunung.

Ada dua hal yang bersemayam di hati Mutsana, rasa takjub dan tanda tanya. Sejak pertama dia menyaksikan ada sebuah benteng yang dibangun di dasar jurang, rasa takjub telah menggelayuti sanubarinya. Sekarang dia sedang dalam perjalanan untuk mengetahui rahasia apa yang ada di balik tembok benteng itu?! Rasa takjub tadi disusul oleh ribuan tanda tanya. Siapa yang membuat benteng itu? Orang-orang macam apakah prajurit berpakaian hitam tadi, hingga bisa membangun tempat seperti ini? Siapakah sebenarnya mereka? Apa yang sebenarnya mereka inginkan? Dan masih banyak lagi pertanyaan lain yang menyerangnya.

Di ujung lorong batu itu, Mutsana melihat dua titik cahaya. Ada dua obor yang kobaran apinya menari-nari di hadapan pelupuk matanya. Cahaya obor itu menerangi redup ke sekitarnya, dan terlihatlah ada dua orang prajurit hitam yang sedang menjaga sebuah pintu. Mutsana berusaha agar tetap tenang, dia berusaha untuk terlihat sebiasa mungkin.

Kedua penjaga di ujung lorong itu terlihat waspada saat mengetahui kedatangan Mutsana. Tangan mereka membelai-belai gagang pedang yang tersemat di pinggang mereka. Sampailah Mutsana di hadapan kedua penjaga pintu itu. Dia mengamati segala hal yang bisa diamati dari kedua penjaga pintu itu. Mereka berpakaian serba hitam, membawa pedang, mata mereka keruh dan sayu.

“Aku utusan dari Alamut!” Kata Mutsana. Dia menatap tajam kedua penjaga itu bergantian, kemudian tangan kirinya merogoh sesuatu dari saku bajunya. Sebuah medali dari perak yang berkilauan ditimpa cahaya obor telah tergeletak di tangannya. Tercetak gambar sebuah kalajengking dengan dua bilah pedang bersilang di kedua sisi medali perak itu. Mutsana menunjukkan medali itu kepada penjaga pintu.

“Kemana Sahal?” Kata salah seorang dari penjaga pintu.

“Dia sedang ditugaskan ke tempat lain,” sahut Mutsana.

“Jadi kau orang baru? Siapa namamu?” Tanya penjaga pintu yang seorang lagi.

“Mutsana!”

“Nah, Mutsana, lakukanlah tugasmu dengan baik! Serahkan kudamu.”

Mutsana mengangguk saja sambil menyerahkan tali kekang kudanya. Seorang penjaga menuntun kuda Mutsana ke sebuah ruangan lain yang ternyata terletak di samping lorong, sebuah istal. Penjaga yang seorang lagi membukakan pintunya untuk Mutsana dan membiarkannya masuk. Jantung Mutsana berdebar-debar, entah apalagi yang akan dia temui di sebuah tempat yang menembus gunung itu.

Apa yang ada di balik pintu itu kembali membuat mata Mutsana membelalak lebar. Di sana terhamparlah sebuah aula yang luas, yang diterangi puluhan obor. Tak ketinggalan berbatang-batang lilin pun menerangi ruangan itu, sehingga membuatnya terang benderang. Bagian bawah ruangan itu dilapisi oleh permadani yang halus dan tebal. Berbagai jenis senjata tersimpan dengan rapi di rak-rak di pinggir ruangan. Ada pedang, belati, tongkat, cakar besi, gada, martil, dan berbagai jenis senjata lainnya. Banyak anggota prajurit hitam yang sedang berlatih-tanding di ruangan itu, hingga ruangan itu ramai dengan suara dentang senjata. Mutsana terpukau, ternyata dia sedang memasuki tempat latihan para prajurit hitam. Dia merasa takjub saat menyaksikan semua itu namun cepat-cepat dia tersadar sebab dia tidak punya banyak waktu.

Berjalanlah Mutsana di tepi ruangan itu sambil terus memerhatikan keadaan. Para prajurit hitam memang sangat terlatih, namun dia menemukan keanehan, setiap dia menatap mata prajurit hitam itu, dia saksikan bahwa mata mereka keruh. Ada gurat-gurat merah terpahat di mata mereka.

Mutsana terus berjalan di pinggiran ruangan itu kemudian berbelok di koridor sebelah kanan. Tak ada seorang pun yang memerhatikan keberadaannya. Dia benar-benar telah melebur dengan penyamarannya. Langkahnya tenang sebagai seorang prajurit hitam di tengah-tengah lorong yang diterangi oleh cahaya obor itu. Ketika dia tiba di ujung koridor, dia berhadapan lagi dengan sebuah pintu. Dibukanya pintu itu perlahan, dan berhadapanlah dia dengan sebuah persimpangan. Ke manakah dia harus berbelok? Kanan ataukah kiri?

Untuk beberapa detik Mutsana berdiri tegak di tengah-tengah persimpangan itu, seolah sedang memikirkan sesuatu. Kemudian memutuskan berbelok ke kanan. Dia susuri lagi lorong yang berdinding dan berlantai batu itu. Semakin dalam dia masuki benteng itu, bau harum yang aneh semakin kuat menyeruak. Dia belum pernah mengenal bau macam apakah itu, namun semakin lama dia hirup bau harum itu, pandangan matanya semakin berkunang-kunang. Dia memang harus bergegas.

Lorong itu berbelok ke kiri, Mutsana pun mengikutinya. Ada garis-garis cahaya yang menembus lubang-lubang di dinding, dia mengintip melalui lubang-lubang itu, dan apa yang dia lihat kembali mencengangkannya. Di balik dinding itu, di luar, ada sebuah taman yang indah sekali. Sebuah taman yang meniru taman-taman surga. Seakan-akan padang pasir yang tandus dan gersang itu telah disihir menjadi subur makmur. Rerumputan hijau menghampari taman yang luas itu dan sebuah sungai membelah di tengah-tengahnya. Bunga-bunga beraneka warna tumbuh dengan indah di sana tanpa ragu, dan suara denting dawai mengalun merdu. Rusa-rusa merumput dengan damai dan kelinci-kelinci putih melompat-lompat riang. Kuda-kuda jinak dibiarkan berlari dengan bebas. Mata Mutsana membelalak lebar, mengapa ada taman seindah itu di dalam benteng yang dipenuhi para pembunuh?

Dia menyadarkan dirinya dari ketakjuban dan segera melangkahkan kakinya. Dia tidak boleh terlihat seolah-olah baru pertamakali menyaksikan taman itu, sebab bisa-bisa penyamarannya terbongkar. Dua orang prajurit hitam berpapasan jalan dengannya, dan mereka lewat begitu saja tanpa curiga. Mutsana kembali merapatkan tubuhnya kepada lubang di dinding itu, dia harus mengamati dengan cermat apa yang ditemukannya, sementara bau harum itu semakin mengganggu pikirannya.

Ada perempuan-perempuan cantik bergaun aneka warna yang menari-nari di dalam taman itu. Mereka tertawa dan bersendagurau. Mutsana semakin tak mengerti apakah dia sedang menyaksikan para bidadari? Di tepi sungai, Mutsana melihat ada sekelompok pemuda yang sedang duduk bersila, di depan mereka ada seorang lelaki tua berpakaian putih dengan janggut yang juga putih. Sepertinya orangtua itu sedang mengajarkan sesuatu kepada pemuda-pemuda tadi, Mutsana tak bisa mendengar apa yang dikatakan lelaki tua itu.Ketika dia perhatikan wajah-wajah pemuda itu dengan saksama, dia kembali terkejut. Ada wajah yang sepertinya pernah dia lihat, kemudian yakinlah dia bahwa pemuda yang dilihatnya adalah lelaki asing yang terluka kakinya di tengah gurun beberapa waktu yang lalu. Mutsana melihat ada perban yang melingkar di kaki pemuda itu.

Ternyata dia adalah anggota prajurit hitam, bisiknya. Berarti dia sengaja melukai dirinya sendiri untuk menjebak aku dan Jabal.

Dia melanjutkan langkahnya. Koridornya cukup panjang, gumamnya lagi. Tandanya taman itu cukup luas. Sangat aneh di tempat yang mengerikan seperti ini ada taman yang amat indah. Tapi tujuanku adalah Gerbang Neraka, seperti yang diberitahukan oleh prajurit hitam tadi. Entah tempat macam apa Gerbang Neraka itu!

Setelah perjalanan yang panjang menyusuri lorong itu, sampailah lagi Mutsana pada ujungnya. Namun kali ini jalan yang ada di hadapannya mengarah ke bawah, berbentuk anak tangga.Persis seperti yang dikatakan padaku, bisiknya. La hawla wala quwwata illa billah.

Mutsana menjejak anak tangga itu, dia melangkah turun mencari gerbang neraka. Hatinya hanya bisa pasrah kepada Allah, semoga dia benar-benar menemukan Jabal di sana, dan berhasil membebaskannya. []

Bersambung…..

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 46