Majalahdrise.com – Tertatih-tatih langkah Jabal saat dipapah Mutsana melewati Gerbang Neraka. Mutsana melingkarkan sebelah lengan Jabal ke pundaknya. Jabal mengernyit menahan sakit sesekali dia merintih.

“Bersabarlah, kita akan keluar dari sini sebentar lagi, insya Allah,” Mutsana menghibur.

“Alhamdulillah mereka belum melukai kakiku, jadi aku masih bisa melangkah dengan baik. Hanya agak ngilu saja,” kata Jabal.

Perlahan-lahan Jabal berdiri di atas dua kakinya. Kepalanya pening karena berkali-kali ditinju oleh para prajurit hitam tadi. Mutsana datang tepat waktu sehingga Jabal tidak perlu mengalami apa yang dialami oleh tawanan yang lain.

Walau berat, Jabal telah bisa berjalan sendiri. Mereka berdua menyusuri koridor-koridor panjang yang remang-remang itu.

“Kita harus bergegas,” kata Mutsana. “Tempat ini tidaklah aman bagi kita.”

“Bagaimana cara kita keluar dari tempat ini?” Tanya Jabal.

“Tak ada jalan keluar!”

Mata Jabal menatap tajam kepada Mutsana, langkahnya terhenti. Kalimat Mutsana yang pendek itu memang amat mengejutkan. “Apa maksudnya tidak ada jalan keluar?”

Mutsana menoleh ke kedua ujung lorong, dia tetap waspada akan keadaan. “Setelah seseorang masuk ke dalam sini dia tidak akan bisa keluar lagi. Tapi pasti akan selalu ada jalan keluar! Ayo!!!”

kisah sebelumnya

Tangan Mutsana menggandeng lengan Jabal untuk membantunya melangkah. Mereka kembali melanjutkan perjalanan menyusuri koridor-koridor yang gelap itu. Pelan-pelan Jabal telah sanggup berjalan sendiri tanpa perlu dipapah lagi oleh Mutsana. Tibalah salah satu hal terberat yang harus mereka lakukan, mendaki anak-anak tangga yang melingkar itu.

Beberapa kali Mutsana harus kembali memapah Jabal. Setelah memerah keringat dan mengerahkan tenaga, akhirnya mereka sampai juga di puncak tangga. Perjalanan belum berakhir, mereka melangkah lagi.

Beberapa orang prajurit hitam berpapasan dengan mereka, namun tak ada seorang pun yang menaruh perhatian kepada mereka. Mereka hanya mendapatkan tatapan mata penuh tanda tanya. Berbeloklah Mutsana dan Jabal, menuju ke bagian lorong yang berbatasan dengan taman yang indahnya seperti surga itu. Di ujung lorong, terkejutlah mereka berdua ketika tiba-tiba muncul sekelompok prajurit hitam. Mutsana mengenali seorang yang berdiri paling depan, dialah prajurit yang tadi disergap oleh Mutsana di tengah-tengah padang pasir.

Prajurit hitam itu mengacungkan telunjuknya lurus kepada Mutsana dan Jabal. Mulutnya menganga dan matanya membelalak. “ITU MEREKAAA…”

Jantung mereka berdua mencelos, seolah-olah hendak melompat keluar. Dari ujung lorong di hadapan mereka sekelompok prajurit hitam sedang berlari mengejar mereka, sementara mereka terpenjara oleh dinding-dinding lorong. Mutsana bergerak cepat ke depan Jabal. Dia berdiri menghadap dinding yang berbatasan dengan taman, memasang kuda-kuda, berkonsentrasi kepada dinding itu, kemudian menghantamkan tendangannya ke sana. Dinding itu hancur berkeping-keping membentuk sebuah lubang besar.

Jabal melotot takjub, tapi Mutsana langsung merenggut lengannya dan menariknya masuk ke dalam lubang di dinding itu, memasuki taman. Mereka berlari sekencang-kencangnya melintasi taman itu tanpa sempat mengagumi keindahannya. Hamparan rumputnya yang hijau sebenarnya amat lembut di kaki mereka, tapi mereka tak bisa merasakannya sebab mereka harus mengambil langkah seribu.

Entah mendapatkan kekuatan dari mana, Jabal bisa berlari dengan cepat, bahkan menyejajari kecepatan lari Mutsana. Mereka berlari bersisian menerjang apa pun yang ada di hadapan mereka. Dalam sekejap, taman yang tenang dan damai itu menjadi riuh. Para prajurit hitam yang mengejar di belakang mereka berteriak-teriak.

“TANGKAP MEREKAAA…!!! JANGAN BIARKAN LOLOSSS…”

Para pemuda yang sedang duduk di taman sambil mendengarkan tausiyah dari sang orangtua itu langsung tersentak kaget. Mereka melihat ada dua orang lelaki menghambur ke hadapan mereka sambil berteriak, merekalah Mutsana dan Jabal. Sang Orangtua terlihat heran, alis dan dahinya yang mengkilap berkerut. Tongkatnya teracung sambil meracaukan sesuatu yang tak jelas.

Mutsana mengangkat kepalannya dan menghantamkan tinjunya ke hidung sang Orangtua hingga Orangtua itu jatuh terjengkang dan pingsan. Sementara Jabal mengenali seorang pemuda yang ada di hadapannya, pemuda dengan luka di betis yang berhasil mengelabuinya dan Mutsana di tengah-tengah gurun. Tanpa pikir panjang, Jabal menabrakkan badannya yang besar dan berat ke tubuh pemuda yang sedang duduk di atas rumput itu. Tubuh Jabal menimpa tubuh pemuda itu dan pemuda-pemuda lain yang ada di sekitarnya, persis seperti bola bowling menghantam bidak-bidak pin di ujung lintasan.

Mutsana dan Jabal melanjutkan pelarian mereka melintasi taman indah yang disorot cahaya matahari itu, sementara semakin banyak orang yang mengejar mereka. Taman yang tadinya tenang itu menjadi ribut.

Taman itu berbentuk persegi, disorot langsung sinar matahari, dan sepertinya dia berada di tengah-tengah benteng dengan dikelilingi tembok. Bunga-bunga beraneka warna yang jarang terlihat di daratan Arab bertumbuhan di taman itu. Di sudut-sudutnya ada pilar-pilar tinggi yang berukir dan dilapisi sulur-sulur tumbuhan. Seluruh dasarnya ditutupi rerumputan yang hijau, benar-benar meniru taman surga. Ada sebuah sungai berair jernih yang membentang di tengah-tengah taman itu, dan ke sanalah Mutsana dan Jabal sedang menuju.

Ketika mereka sudah mendekati tepian sungai, mereka menghentikan langkah mereka. Mutsana dan Jabal saling pandang, kemudian mereka menoleh ke belakang mereka hanya untuk mengetahui seolah-olah seisi benteng itu kini sedang mengejar mereka saking banyaknya para pengejar itu. Para pengejar itu semakin dekat.

“Sekarang apa? Jatuhkan diri ke sungai?” Tanya Jabal dengan gusar.

Mata Mutsana terbuka lebar menatap aliran sungai yang deras itu. “Ikuti aku!!!”

Mutsana melompat dan menjatuhkan dirinya ke dalam sungai yang deras itu. Tak menunggu lama, Jabal segera melompat mengikuti perintah Mutsana sambil memekikkan takbir. Aliran sungai yang cepat luas itu dengan sigap menyeret tubuh mereka berdua. Mati-matian Mutsana dan Jabal menggerakkan tubuh mereka agar tetap berada di atas air. Mereka membiarkan saja tubuh mereka hanyut dibawa aliran sungai.

Di tepian sungai, para pengejar itu sudah ramai menyoraki Mutsana dan Jabal, namun mereka tidak berani menceburkan diri mereka ke dalam sungai. Mereka mengatakan berbagai hal yang tidak bisa dipahami oleh Mutsana dan Jabal.

Tubuh Mutsana dan Jabal terombang-ambing di atas aliran air yang deras. Mereka menahan napas dan membuka mulut mereka kemudian bernapas dari sana. Di hadapan mereka tegaklah dinding pembatas taman, mereka akan segera terbentur dengan keras ke dinding itu. Namun yang terjadi tidak terduga. Ada lubang menganga di dinding itu, sebuah lubang besar yang gelap. Aliran air sungainya jatuh ke dalam bumi, terjun bebas ke dalam ceruk gelap yang dasarnya tak kelihatan. Tubuh Mutsana dan Jabal terjatuh ditelan kegelapan.

Bersambung

di muat di Majalah remaja Islam Drise Edisi 48