DERAP RANTAI

Episode 2

Matahari bersinar terik! Sebuah wadi yang sudah tidak berair lagi itu dinaungi oleh empat batang pohon kurma yang tinggi-tinggi. Dua ekor unta diikatkan pada batang pohon kurma itu, sementara dua orang penunggang unta-unta itu duduk bersandar kepada batang kurma, pelepah-pelepah kurma dengan baik hati meneduhi mereka.

Dua orang lelaki itu mengenakan pakaian panjang di bagian luar, dengan pakaian bagian dalam yang cukup tebal, terdiri dari baju lengan panjang dengan ikat pinggang kain yang juga tebal. Kain serban menutupi kepala dan selendang serbannya dilingkarkan di leher mereka.  Mulut dan sebagian wajah mereka ditutupi oleh selendang serban itu, agar menjadi penahan dari terpaan angin dan debu-debu padang pasir yang keras dan panas.

Seorang dari mereka meraih sebuah kantung air yang terbuat dari kulit kambing. Kantung air itu terletak di dalam sebuah buntalan kain yang ada di sisi kirinya. Dia buka sumbat kantung air itu sekaligus kain yang menutupi wajahnya, digumamkannya dulu nama Tuhannya, kemudian dia minum hingga dahaganya sirna. Lelaki itu adalah Mutsana bin Harits.

Selesai minum, Mutsana menyodorkan kantung air itu kepada lelaki yang duduk di sebelahnya, Jabal bin Abdul’uzza. Jabal adalah seorang lelaki tegap bertubuh kekar, tak aneh lagi jika namanya “Jabal”. Dia masuk Islam karena ajakan Mutsana. Ketika dia mengucapkan dua kalimah syahadat dan menjadi muslim, dia amat berterimakasih kepada Mutsana. Keberanian Mutsana untuk menyampaikan Islam kepadanyalah yang menjadi salah satu jalan turunnya hidayah Allah kepadanya. Jabal adalah seorang pemimpin kabilah yang amat disegani. Dia juga bringas dan kadang tidak tahu diri. Namun Mutsana tetap berani menyampaikan risalah Islam kepada Jabal. Dengan Islam itulah kemudian Jabal menjadi pribadi yang baru. Kini Jabal bertugas sebagai seorang prajurit muslim di bawah komando Mutsana.

Jabal kembali menyerahkan kantung air itu kepada Mutsana setelah dia minum hingga rasa hausnya terobati. Mutsana menyisakan air di dalam kantung itu untuk perjalanan mereka selanjutnya. Unta-unta mereka tidak diberi minum, namun mereka tidak khawatir, masih banyak cadangan air di dalam punuk unta-unta itu.

“Sudah waktunya membuka surat rahasia dari Khalifah,” gumam Mutsana sambil merogoh buntalan kain di dekatnya. Dia mengeluarkan selembar kulit kambing yang dilapisi dengan kain kemudian menggelarnya di depan dirinya sendiri dan rekannya, Jabal. Ada seutas benang yang mengikat surat itu, dan pada bagian lipatan kain pembungkus surat itu ada segel dari lilin dengan cap cincin Rasulullah di sana. Cincin Rasulullah itulah yang menjadi stempel resmi Khilafah Islamiyah, dan kini dipegang oleh Khalifah Abu Bakar.

Mutsana melepas semua itu baik-baik, seolah-olah surat itu terbuat dari kapas yang rapuh. Dia begitu menghormati surat dari Khalifah Abu Bakar itu. Namun ada sesuatu yang tiba-tiba terjatuh dari surat itu, sebuah surat yang lain. Mutsana memungut surat itu dan memerhatikannya. Ukuran surat itu lebih kecil, dan dia termuat di dalam sampul surat yang lebih besar yang dibuka oleh Mutsana. Surat itu pun dibungkus kain dan diikat seutas benang.

“Di dalam surat ada surat,” kata Jabal penasaran.

“Mungkin kita akan tahu surat kecil ini untuk apa jika kita baca surat Khalifah.” Sebelum mulai membaca surat itu, Mutsana menatap Jabal lekat-lekat.

“Ubullah tinggal satu kilometer lagi di depan, tempat ini adalah posisi yang tepat sesuai perintah Khalifah untuk kita membaca surat perintah rahasia ini. Apapun misi yang harus kita laksanakan yang tertera di dalam surat ini, semoga Allah memberikan pertolongan kepada kita semua.” Katanya.

“Amin,” sahut Jabal, dia mengangguk.

Surat yang sudah terhampar di tangan Mutsana itu mereka baca.

Mutsana kembali menatap wajah Jabal lekat-lekat. Dia mengembuskan napasnya dan melipat kembali surat Khalifah. “Itulah perintah untuk kita berdua, apakah kau sudah memahaminya?”

“Insyaallah aku memahaminya,” sahut Jabal dengan mantap.

Mutsana kemudian membakar surat itu yang dengan cepat menghitamkan seluruh bagiannya. Surat itu pun hancur menjadi abu, tak berbekas lagi.

“Kalau begitu tidak ada masalah, sekarang juga kita terus maju ke Ubullah.” Tangan Mutsana menjepit surat kecil dan mengangkatnya, “Surat ini akan aku simpan baik-baik untuk kita serahkan kepada Aswad.”

Jabal mengangguk dan memerhatikan Mutsana memasukkan surat kecil itu ke dalam saku celananya, dan mengikat saku celana itu agar isinya tidak terlempar keluar apapun yang terjadi. Dia sengaja menyimpan surat itu di sana, sebab dia tidak boleh berpisah sedetik pun dari surat itu. Mereka bangkit berdiri dan menenteng kembali barang bawaan mereka kemudian menepuk-nepuk pakaian mereka yang kotor karena debu-debu gurun. Dengan menunggangi unta-unta mereka yang kokoh, mereka melanjutkan perjalanan.

Bismillahirrahmanirrahim,” gumam Mutsana.

La hawla wa la quwwata illa biLLah,” bisik Jabal.

 

Bersambung

Follow @sayfmuhammadisa