Majalahdrise.com – Matahari menjadi raja di puncak langit. Bersinar terang  menyilaukan. Langit yang biru  bersih tak memeluk sejumput awan pun,  sehingga cahaya matahari benar-benar  menyengat. Kedua agen rahasia Khilafah  Islamiyah, Mutsana bin Harits dan Jabal  bin Abdul’uzza, terbaring di tepian sebuah  sungai.

edisi sebelumnya 19

Tepat di depan sebuah mulut gua.  Mereka terbatuk-batuk dan  memuntahkan sedikit air yang memenuhi  paru-paru mereka. Mutsana terbaring telungkup  dengan napas terengah-engah. Tubuhnya  basah kuyup dan dengan berat dia  berusaha mengangkat tubuhnya hingga  terduduk. Jabal mengambang di sisi  sungai yang tak jauh dari Mutsana. Dia  segera tersadar dan cepat-cepat berenang  menghampiri Mutsana dengan susah-payah. Jabal terbatuk beberapa kali dan  meludah ke sebelah kiri.

“Ternyata sungainya berujung di  sini,” kata Jabal. Suaranya terputus-putus.

“Kita harus bergegas,” timpal  Mutsana.

“Tempat ini sebenarnya masih  terletak tak terlalu jauh dari benteng.” Mutsana memaksakan tubuhnya  agar bangkit berdiri. Dia kemudian  membantu Jabal dan memapahnya.  Kondisi Jabal memang belum pulih benar.  Mutsana melingkarkan lengan Jabal ke  pundaknya, bersama-sama mereka keluar  dari sungai menuju ke tepi sebuah bukit  karang. Mutsana membawa Jabal sedikit  mendaki ke atas bukit karang yang banyak  memiliki celah itu, dan membuat  persembunyian di sana. Jabal disandarkan  di dalam sebuah celah yang terlindung.  Mutsana mengambil tempat di sisi Jabal.  Mereka telah tersembunyi di balik celah

“Subhanallah walhamdulillah,”  dada Jabal masih naik-turun cepat.  Namun napasnya sudah mulai tenang.

“Aku tidak membayangkan masih bisa  lolos dari tempat yang mengerikan itu.”

“Semuanya berkat pertolongan  Allah subhanahu wata’ala,

” gumam  Mutsana sambil menelan ludah. Dia juga  sedang berusaha menstabilkan napasnya. “Alhamdulillah. Tapi aku juga ingin  mengucapkan terima kasih karena telah  menyelamatkan aku.” “Memang sudah tugas seorang  komandan untuk memerhatikan  anakbuahnya,”

sahut Mutsana sambil  tersenyum lebar. Kebahagiaan di dalam  hatinya terasa tak terkira, sebab jerih dan  perjuangannya tak sia-sia. Dia berhasil  menyelamatkan rekannya.

“Terima kasih banyak. Bagaimana  caranya bisa masuk ke dalam benteng?”  kata Jabal lagi. “Allahlah penolong yang paling  baik.”

“Tapi kita tidak boleh terlalu cepat  bersantai,” kata Jabal.

“Misi kita pastilah  belum kita tuntaskan.” Mutsana merogoh saku celananya  yang basah kuyup. Dia mengeluarkan  sebuah tabung dengan tangan kanannya.

“Surat Khalifah masih aman di sini.” “Alhamdulillah kalau begitu,”  gumam Jabal.

“Karena ada berbagai kekacauan  ini sekarang aku akan sampai beberapa  perubahan rencana,

” kata Mutsana sambil  memasukkan lagi tabung berisi surat  penting itu ke tempat yang aman.  “Perhatikan ini baik-baik!” Jabal duduk tegak dengan  menopangkan lengannya.

Dia menatap  mata komandannya dengan penuh  perhatian. Mutsana menunduk sejenak,  hendak menyusun kata-kata.

“Aku khawatir Khalifah Abu Bakar  ada dalam bahaya. Jelas sekali bahwa  lelaki yang terluka kakinya di tengah  gurun itu dengan sengaja hendak  menjebak kita. Tidak ada yang tahu misi  kita dan kepergian kita ke Yamamah,  berarti ada mata-mata mereka di  Madinah, bahkan mungkin dia ahlush  sufah. Aku curiga pada ahlush sufah yang  mengantarkan minuman kepada kita saat  kita datang melapor kepada Khalifah  kemarin.

di muat di majalah remaja islam drise edisi 49