DERAP RANTAI EPISODE 24 | Majalah Remaja Islam DRise
Monday, September 25th, 2017
Breaking News
You are here: Home >> Epik >> DERAP RANTAI EPISODE 24
DERAP RANTAI EPISODE 24

DERAP RANTAI EPISODE 24




Majalahdrise.com –  Persaudaraan terasa amat indah dan hangat. Persaudaraan itu menembus sekat-sekat darah dan bangsa yang telah membuat manusia jadi sedemikian egois dan kerdil. Padahal tak ada seorang pun yang bisa memilih darah dan bangsanya. Islam telah menghapuskan persaudaraan hanya karena darah dan bangsa itu, menjadi persaudaraan karena aqidah, karena keyakinan. Siapa pun orangnya, yang mengakui bahwa tak ada dzat yang patut disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala, menjadikan Alquran sebagai petunjuk hidupnya, dan menjadikan Rasulullah Muhammad sebagai suriteladannya, maka dia adalah saudara. Saudara yang wajib dibantu jika dia sedang berada dalam kesulitan, dan harta serta jiwanya wajib dijaga. Mutsana dan Jabal telah ada di hadapan Khalifah dan para sahabat.

“Mutsana dan Jabal, saudaraku,” Khalifah Abu Bakar Shiddiq berseri-seri menyambut Mutsana dan Jabal. Dia rentangkan kedua belah tangannya untuk memeluk kedua saudara seimannya itu.

“Subhanallah walhamdulillah kalian tiba dengan selamat. Semoga Allah selalu melindungi kalian.”

“Barakallahu lakum,” kata Umar bin Khathab, wajahnya berseri-seri. Mereka saling berpelukan dan berjabat tangan. Itulah hal amat berharga yang diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam, jika seorang muslim bertemu saudaranya, kemudian saling berjabat tangan, maka dosa-dosanya berguguran di bawah tangan yang sedang berjabat itu.

“Terima kasih banyak,” kata Mutsana.

“Tadi baru saja kami dari rumah Khalifah, tapi ternyata Khalifah sedang keluar.” “Seperti biasa, pemeriksaan rutin,” sahut Abu Bakar. Terlihat gurat-gurat kelelahan terpahat di wajah Khalifah Abu Bakar. Malam itu dia mengenakan serban putih dan mantel putih. Sebatang tongkat menjadi penopang badannya yang telah tua, namun hal itu tak mengurangi wibawanya. Ketenangan dan kebijaksanaan terpancar dari wajahnya, tubuhnya yang kurus tersamarkan oleh pakaiannya yang tebal.

“Kalian pasti lelah, lebih baik kita masuk ke dalam masjid,” Umar mengajak mereka semua. Seorang penjaga masjid bernama Aswan datang menyambut mereka. Dialah yang mengurus unta-unta para tamu itu. Dia pulalah yang melayani kebutuhan orang-orang yang menginap di shuffah. Abu Bakar, Umar, Mutsana, dan Jabal, duduk di bagian dalam masjid Nabawi. Di hadapan mereka telah terhidang makanan dan minuman yang disiapkan oleh Aswan. Dalam limpahan rahmat Allah mereka makan bersama di tengah keheningan malam itu. Jabal terlihat lahap sekali seolah-olah tidak makan selama bertahun-tahun. Selesai makan, Aswan datang kembali untuk merapikan gelas-gelas dan piring-piring. “Alhamdulillah, aku bahagia sekali menyambut kedatangan kalian,” kata Abu Bakar.

“Syukurlah kalian bisa tiba kembali di sini dengan selamat.”

“Alhamdulillah! Setiap misi pasti memiliki risiko dan bahaya tertentu,” tambah Umar.

“Kepulangan kalian memang sudah sepatutnya disambut baik dan disyukuri terlepas bagaimana hasilnya.”

“Terima kasih banyak telah mendoakan kami. Kami berhasil menjalankan misi, dan kami telah berhasil melaksanakan seluruh amanah dari Khalifah,” kata Mutsana, dia tersenyum lebar karena melaporkan sesuatu yang baik.

“Walau pun sebenarnya hampir saja kami gagal,” timpal Jabal.

“Prajurit Persia dan hampir seisi pasar Ubullah mengejar kami. Kalau bukan karena pertolongan Allah dan kesigapan dari orang-orang kita di Ubullah, pastilah kami sudah mendekam di penjara Persia menunggu eksekusi.”

“Wahai Jabal, sudahlah, yang buruk jangan diingat-ingat lagi. Yang penting sekarang kita sudah tiba di Madinah dengan selamat,” kata Mutsana.

“Tak apa-apa, Mutsana, ceritakanlah seluruh proses pelaksanaan misi, jangan hanya ceritakan yang enak-enak saja,” Umar menepuk bahu Mutsana.

“Benar, hal buruk pun sebenarnya penting untuk kita jadikan pelajaran,” Abu Bakar menambahkan.

“Jika Khalifah menambahkan satu hal saja tentang ciri-ciri Aswad, bahwa dia bertubuh kurus, mungkin apa yang terjadi akan sangat berbeda,” Jabal bercerita dengan menggebu-gebu sebagaimana biasa. “Karena ternyata di pasar Ubullah ada seorang pedagang kain yang kondisi wajahnya mirip dengan wajah Aswad, hanya saja tubuh orang itu gemuk. Ditambah lagi seorang anak kecil menipu kami dengan menunjukkan bahwa orang yang gemuk itu adalah Aswad, jadilah kami datang kepada orang yang salah. Tiba-tiba orang itu meneriaki kami sebagai muslim, kami pun dikejar-kejar.”

“Ternyata orang itu adalah saingan bisnis Aswad dan amat membencinya. Dia juga sudah curiga bahwa Aswad adalah muslim, sehingga dia meneriaki kami sebagai muslim karena sedang mencari Aswad,” akhirnya Mutsana ikut bercerita.

“Tapi Alhamdulillah, Aswad dan timnya dengan sigap bergerak dan berhasil menolong kami,” kata Jabal. “Mereka telah berhasil membangun fasilitas rahasia di kota Ubullah yang terdiri dari terowonganterowongan dan jalan-jalan masuk rahasia yang akan memudahkan kita masuk ke kota itu dan menaklukkannya.”

“Kami juga telah menyerahkan surat kecil amanah dari Khalifah, langsung kepada Aswad, dan Aswad sedang mempersiapkan diri untuk melaksanakannya,” kata Mutsana.

“Subhanallah walhamdulillah,” Abu Bakar mengembuskan napasnya sambil tersenyum.

“Semoga Allah memberikan balasan yang banyak kepada kalian atas semua yang telah kalian lakukan.” “Keberhasilan kalian adalah kemajuan besar bagi futuhat (penaklukan) yang akan kita lancarkan kepada Persia,” kata Umar.

“Mengetahui kekuatan musuh dan mengetahui kekuatan kita sendiri adalah salah satu jalan menuju kemenangan. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk meraih kemenangan itu.” Umar bin Khaththab mengenakan serban hijau. Matanya tajam, setajam elang, dan kegigihan serta keteguhannya mengguncangkan singgasana setan, sampai-sampai tak satu setan pun berani dekat-dekat dengan Umar. Tubuhnya masih tegap dan atletis walau usianya telah cukup lanjut. Di tengah-tengah pemerintahan Khilafah Islamiyah yang sedang tumbuh itu, dia menjadi orang penting kedua setelah Khalifah Abu Bakar. Dia menduduki jabatan sebagai Mu’awin Tanfidz, wakil Khalifah untuk urusan pemerintahan.

“Aku ada bersama Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam ketika beliau memberikan perintah rahasia itu kepada Aswad,” Abu Bakar berkisah.

“Ketika aku bertemu dengannya lagi, dia mengatakan bahwa tidaklah sulit untuk menemukannya di pasar Ubullah. Tanya saja kepada sembarang orang di pasar itu tentang siapa pedagang kain yang wajahnya paling buruk, semua orang akan langsung menunjuk kepadanya. Karena itulah aku memberikan satu-satunya ciri itu kepada kalian. Ternyata ada seorang lagi yang wajahnya seperti Aswad dan aku tidak tahu sama sekali.”

“Sebenarnya kalau kami bertanya kepada orang yang tepat mungkin kejadiannya akan lain, Khalifah,” kata Mutsana.

“Kami bertanya kepada seorang anak kecil, dan anak kecil itu menipu kami, dengan gegabah kami langsung saja mengikuti informasi palsu dari anak kecil itu. Kamilah yang kurang cermat dan kurang teliti. Semoga di kemudian hari tidak terjadi lagi, insya Allah.”

“Apa pun yang terjadi, semua itu adalah kehendak Allah. Kita semua telah berusaha keras untuk meraih hasil yang kita harapkan, tapi apapun yang terjadi tetaplah kehendak Allah. Yang harus kita lakukan hanya bersabar dan bersyukur. Sekarang Mutsana dan Jabal telah hadir di sini dengan sehat dan tak kurang suatu apapun, terlebih lagi kalian berhasil menjalankan misi, hal itulah yang harus kita syukuri.” Umar meneduhkan dengan suaranya yang berat dan berwibawa. Mutsana membuka bungkusan tas kain yang ada di dekatnya, yang sedari tadi selalu dijaganya dengan ketat. Dia membuka tas itu dan mengeluarkan isinya, sebuah tas kulit yang terlihat agak tebal.

“Khalifah, inilah yang diserahkan Aswad kepada kami, sebuah laporan lengkap tentang pelaksanaan misi,” katanya.

“Sekarang kami sampaikan amanah ini kepada Khalifah. “Subhanallah walhamdulillah, baiklah,” kata Abu Bakar.

Kebahagiaan terpancar di wajahnya. Bagaimana mungkin dia tidak bahagia jika dikelilingi oleh orangorang yang luarbiasa di tengah-tengah pemerintahannya!

“Tentunya misi untuk kalian belum akan selesai, Mutsana, Jabal. Insya Allah besok aku akan jelaskan misi baru kalian. Kita akan segera lancarkan futuhat kepada Persia untuk mewujudkan apa yang pernah disabdakan Rasulullah dahulu.”

“Tentunya kalian letih karena perjalanan jauh. Beristirahatlah, insya Allah Aswan akan mengurus semua keperluan kalian,” tambah Umar.

“Terima kasih banyak,” kata Mutsana. Tamat

DI MUAT DI MAJALAH REMAJA ISLAM DRISE EDISI 53




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

four − three =