Derap Rantai Eps 23 (lanjut) | Majalah Remaja Islam DRise
Friday, September 22nd, 2017
Breaking News
You are here: Home >> Drise Online >> Derap Rantai Eps 23 (lanjut)
Derap Rantai Eps 23 (lanjut)

Derap Rantai Eps 23 (lanjut)




Majalahdrise.com – Tapi tentu saja mereka tidak bisa  dibebaskan. Rabiah terus mengikuti kedua  prajurit Persia itu melarikan diri dari  penjara bawah tanah. Ketika mereka  sedang melintasi sebuah koridor, mereka berpapasan dengan dua orang prajurit  Persia yang segera menghadang mereka.  Namun mereka segera tersungkur jatuh  karena ditinju oleh kedua prajurit Persia  yang hendak membebaskan Rabiah. Satu persatu koridor mereka lintasi.

Mereka pun terus mendaki undakan tangga  untuk segera keluar dari ruang bawah  tanah. Yang mereka tahu hanyalah lari  sekencang-kencangnya. Rabiah dan kedua  prajurit Persia tak dikenal yang sedang  berusaha membebaskannya itu tibalah di  bagian belakang istana, setelah  menumbangkan prajurit-prajurit yang  berusaha menghadang mereka. Di  belakang mereka semakin banyak saja  prajurit Persia yang mengejar.

Mereka  melihat bahwa tiga orang buronan itu  berbelok di depan. Ketika mereka ikut  berbelok di tempat yang sama, para  buronan itu sudah tak ada. Raib tanpa  bekas. Apa pun yang mereka lakukan tak  ada gunanya untuk menemukan Rabiah.  Para buronan itu seolah menghilang seperti  asap. 000 Ruangan itu tidak besar, dan sangat  sederhana. Di dalamnya hanya ada sebuah  meja dan beberapa kursi. Dindingnya dari  batu yang dilapisi kapur tipis dan ruangan  itu berbentuk persegi sederhana. Ruangan  itu tersambung dengan dua buah lorong  yang ada di kedua sisinya.

Di dalam  ruangan itu hadirlah Rabiah bin Amir. Dia tidak sendirian, beberapa orang lagi  menemaninya dan menyediakan minuman  yang telah menawarkan dahaganya. Orang-orang itu adalah Mutsana bin Harits, Aswad  bin Asadi, dan kedua prajurit Persia tak  dikenal yang ternyata adalah agen rahasia  anakbuah Aswad di Ubullah. Rabiah duduk bersandar di kursi.  Aswad dan Mutsana pun duduk di kursi.  Mereka mengelilingi meja persegi itu.  Rabiah kembali meneguk minuman di  dalam gelas itu setelah membisikkan  basmalah. Tubuhnya didera kelelahan yang  sangat.

“Aku akan segera berangkat ke  Kazima, “kata Rabiah.

“Aku harus  menyampaikan apa yang telah terjadi. “

“Bencana bagi Persia, “

kata Mutsana.

“Badzan mengulangi lagi apa yang dulu  pernah dilakukan Kisra pada surat  Rasulullah shallahu ‘alayhi wasallam. “

Aswad menatap Mutsana dan Rabiah  bergantian.

“Insya Allah ini jadi tanda  kemenangan kita melawan Persia.  Kemenangan ini sudah digariskan oleh  Rasulullah dahulu. Tinggal kitalah yang  harus mengerahkan daya upaya untuk  meraihnya. “

“Kalau begitu aku berangkat  sekarang, “

Rabiah bangkit dari kursinya.

“Tunggu sebentar, Saudaraku, “

Aswad  menyentuh lengan Rabiah.

“Kita memang  harus bergerak cepat, tapi jangan terburu-buru. Persiapkan dulu perbekalan, senjata,  dan segala hal  yang kau butuhkan untuk  perjalanan ke Kazima. “

“Aswad benar, “

tambah Mutsana.

“Aku  akan berangkat hari ini juga untuk  bergabung bersama pasukanku setelah  mencukupkan perbekalan. “

“Aku mengucapkan terima kasih  banyak kepadamu, Aswad, dan seluruh  rekan kita di Ubullah, “

senyum terkembang  di wajah Rabiah.  “

Kalau bukan karena  bantuanmu dan saudara-saudara kita,  mungkin hari ini aku tidak ada sini. Seluruh  sistem dan jaringan yang telah kau buat  bersama saudara-saudara kita di Ubullah  memang sangat luarbiasa. Sampai-sampai  ada terowongan rahasia di balik istana  Badzan. Itu sangat hebat!!! “

Aswad turut bangkit dari kursinya,  dan melipat tangannya di depan dada.

“Semua itu adalah berkat pertolongan dan  kuasa Allah ta’ala. Rasulullah-lah yang telah  memerintahkan kami untuk membangun  ini semua. Petunjuk dan arahan dari  beliaulah yang hebat. “

“Memang tak salah Rasulullah  melimpahkan tugas ini kepadamu, Aswad.  Kau telah melaksanakan amanah Rasulullah  dengan baik. Selamat! “

Rabiah  menyodorkan tangannya kepada Aswad. Mereka saling berjabat tangan dan  saling berpelukan. Mutsana menepuk-nepuk punggung Rabiah. Semua orang  yang berada di ruangan sederhana itu  saling berpelukan hangat. Bersambung,,,,,,,,,,,,,

Follow @sayfmuhammadisa

di muat di majalah remaja islam drise edisi 52




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

sixteen + nine =