Episode 22

Derap langkah kaki unta memecah pasir dan bebatuan kecil. Gurun  yang gersang itu  seolah-olah tetap  begitu, padahal dia terus berubah semenjak  jaman yang tidak bisa ditentukan. Semilir  angin menelisiknya, membelai halus cadas-cadas karang, tetapi juga menamparnya  dan mengadakan perubahan besar-besaran. Peradaban manusia digelarkan di  atasnya.

Damai dan perang silih berganti,  tangis dan tawa bertukar bergiliran. Bumi  adalah tempat pergumulan antara yang haq  dan yang batil. Mutsana bin Harits dan Rabiah bin Amir  duduk di atas punggung unta mereka.  Langkah demi langkah disusuri untuk  menuju Ubullah, hingga terlihatlah pintu  gerbang dan tembok-tembok kota itu di  kejauhan. Di sekitar mereka berjalan pula  para pedagang yang hendak masuk ke  Ubullah. Rombongan kafilah itu terdiri dari  unta, keledai, dan kuda yang digelantungi  berbagai barang dagangan. Pelana-pelana  di atas punggungnya dialasi kain aneka  warna. Hewan-hewan tunggangan itu  terlihat ringkih dibebani barang dagangan  yagn sedemikian berat. Tubuh Mutsana dan Rabiah naik-turun  pelan di atas punggung unta. Mereka  berjalan bersisian di tengah-tengah para  kafilah dagang itu.

Pandangan mata mereka  terlontar jauh ke pintu gerbang kota  Ubullah Yang seolah-olah menjadi oase di  tengah-tengah padang pasir yang gersang. “Rabiah, kau masuklah terus ke Ubullah  bersama kafilah dagang ini,” kata Mutsana.  “Laksanakan tugasmu sebagaimana  mestinya, sementara aku dan tim kita di  kota ini akan terus memantau keadaanmu.” Rabiah mengangguk dengan teguh,  dengan sorot mata penuh semangat.  “Baiklah!” “Sekarang aku akan memisahkan diri  dulu. Aku akan masuk dari jalan yang lain.” “Hati-hatilah, semoga Allah  memudahkan.” “Insya Allah. Baiklah, kalau begitu  assalamu’alaikum,” Mutsana melambaikan  tangannya. “Wa’alaikumussalam,” sahut Rabiah. Mutsana menarik sebelah tali kekang,  untanya berbelok ke sebelah kanan. Dia  memisahkan diri dari rombongan kafilah  itu. Rabiah menatap rekannya yang pergi  menjauh sambil menggumamkan doa-doa  kepada Allah memohon keselamatan. “La hawla wala quwwata illabillah,”  bisiknya.

000

Kekaisaran Persia memang agung tiada  banding. Rentang wilayahnya amat luas,  angkatan perangnya amat kuat dan  tangguh. Harta kekayaannya melimpah  ruah, dan kota-kota yang megah telah  dibangunnya. Sayangnya, mereka  menyekutukan Allah dengan menyembah  api. Surat dakwah yang pernah dikirimkan  Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam pun  mereka remehkan dengan menyobek-nyobeknya. Dan akhir dari setiap  kesombongan pastilah kehancuran. Apa yang terjadi di hadapan singgasana  Badzan di Ubullah hari itu, memperlihatkan  betapa sombongnya manusia saat berhadapan dengan ajakan untuk beriman. Rabiah bin Amir berdiri tegak di  hadapan kursi kebesaran yang diduduki  oleh Badzan.

Tangannya terulur sambil  menggenggam gulungan surat dari Khalid  bin Walid. Itulah misi yang harus dia  tunaikan, menyerahkan surat dakwah  kepada Badzan. Rabiah mengenakan  pakaian putih-putih. Serban putihnya  menjuntai di punggungnya. Wajahnya yang  bersih karena air wudhu memancarkan  wibawa dan ketenangan. Raut mukanya  mengandung ketegasan dan keteguhan. Badzan duduk di kursi singgasana itu  dengan kesombongannya.

Bibirnya  melengkung angkuh dan sorot matanya  tajam menghunjam kepada lelaki di  hadapannya. Dia adalah seorang jenderal  Persia yang telah banyak  mempersembahkan kemenangan bagi  negaranya. Kedudukannya amat mulia,  selain sebagai jenderal, dia juga adalah  gubernur Ubullah. Posisinya sebagai  sepupu Kaisar Persia, Kisra, membuat  kedudukannya tak tergoyahkan. Badzan bukanlah jenderal meja. Dia  memimpin sendiri tentaranya di medan  perang dan berdiri paling depan. Kekuatan  tempurnya jauh di atas rata-rata seluruh  prajuritnya. Badannya kuat dan kokoh  dengan urat dan otot yang bertonjolan di  tubuhnya. Dadanya yang kekar dan bidang  serta wajahnya yang tampan membuatnya  dikagumi kaum wanita.

Dia adalah pemuja  kenikmatan duniawi, tidak menikah, namun  memiliki banyak perempuan simpanan.  Orang terkutuk seperti inilah yang sekarang  berdiri angkuh dan sombong di hadapan  seruan dakwah dari Allah sang penguasa  semesta. Istana Badzan terletak di tengah-tengah  kota Ubullah. Bangunan kokoh dan megah  itu melambangkan keagungan Kekaisaran  Persia. Ruang singgasananya luas dengan  kursi kebesaran Badzan terletak di atas  panggung megah di tengah-tengahnya.  Ketika dia berhadapan dengan Rabiah,  seluruh pejabat dan pembantunya hadir.  Mereka berjajar di kiri-kanan singgasana.  Permadani-permadani yang halus dan  lembut melapisi dinding ruangan yang  menambahkan gambaran keperkasaan  Kekaisaran Persia.

Prajurit-prajurit Persia  yang gagah perkasa menjaga setiap pintu.  Para pelayan istana menjalankan urusan  seluruh rumah tangga istana. Tangan Badzan melambai dengan  anggun. Lambaian tangan itu adalah  perintah kepada seorang pejabatnya untuk  mengambil surat yang disodorkan Rabiah.  Seorang pejabat, setelah membungkuk  hormat di hadapan Badzan, menghampiri  Rabiah dan mengambil surat itu. Setelah  mendapatkan tanda lagi dari Badzan,  pejabat itu pun membacakan isi suratnya  untuk semua orang di ruang singgasana.

Bismillahirrahmanirrahim. Dari Khalid bin Walid, hamba Allah.  Dengan datangnya surat ini, aku  menyerukan kepadamu, berimanlah  kepada Allah, Tuhan penyeru sekalian  alam. Dia adalah Tuhan yang satu, yang  tidak ada sekutu bagiNya. Dengan jalan  itulah kau akan selamat di dunia dan  akhirat. Tetapi jika kau menolak, biarkanlah  kami ambilalih kendali atas Ubullah. Kau  diwajibkan membayar jizyah dan tidak  akan dipaksa untuk meninggalkan  agamamu. Namun jika tawaran ini kautolak juga,  aku akan datangkan tentara yang sangat  mencintai kematian, sebagaimana kau  mencintai kehidupan. Guncanglah seisi ruangan itu!! Raut  wajah Badzan yang sudah lusuh jadi  semakin keruh. Seumur hidup dia tidak  pernah mendapatkan surat selancang itu.

bersambuang…

di muat di majalah remaja islam drise edisi 51