Episode 14

MajalahDrise.com – Semakin dekat Mutsana dan Jabal dengan apa yang mereka sangka mereka lihat, semakin jelas bahwa pandangan mereka tidak tertipu. Ada seorang lelaki yang sedang duduk di tengah-tengah gersangnya padang pasir, lelaki itu sepertinya sedang merintih kesakitan. Jarak mereka dengan lelaki itu semakin dekat, tinggal tiga puluh lima meter lagi.

Tiba-tiba Jabal melambaikan tangannya sambil mengepal. Memberi tanda agar Mutsana segera menghentikan derap langkah untanya. Mutsana terkesiap dan mereka segera menarik tali kekang unta kuat-kuat hingga kedua unta itu berhenti.

Mutsana dan Jabal memicingkan mata mereka untuk meningkatkan daya pandang. Di tengah-tengah padang pasir yang kosong dan gersang itu ada seorang lelaki yang sedang duduk dan kelihatannya sedang merintih kesakitan. Mutsana dan Jabal berhenti dengan tetap menjaga jarak aman dari laki-laki itu, sebab mereka belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sebagai seorang agen rahasia memang harus seperti itulah cara mereka bertindak.

“Ada seorang lelaki yang sepertinya sedang membutuhkan pertolongan,” kata Mutsana.

Sayup-sayup mulai terdengar suara lelaki itu meminta tolong. Sebelah tangannya melambai pelan kepada Mutsana dan Jabal, sebelah tangannya yang lain menopang tubuhnya.

“Aku meminta kita berhenti karena kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kata Jabal, “Kita tidak tahu siapa dia dan kondisi apa yang sedang terjadi padanya.”

“Dia melambai pada kita, dia meminta pertolongan kita,” kata Mutsana.

“Tunggu dulu,” Jabal menoleh ke sekelilingnya. Dia memerhatikan keadaan sekitarnya. Dia sapukan pandangannya kepada pasir-pasir dan gunung-gunung yang kokoh itu, seolah-olah ingin sekali mengetahui apa yang ada di balik semua itu. Salah satu tangannya melindungi matanya dari sinar matahari yang menyilaukan, matanya terpicing jauh. Namun tidak ada apa-apa, padang pasir tetaplah kosong, gunung-gunung cadasnya tetap bisu. “Aku curiga kepada orang itu. Lebih baik kita terus saja.”

Mutsana menggeleng sambil melipat tangan di depan dadanya. “Bagaimana mungkin kita terus saja, sementara ada orang di depan mata kita membutuhkan pertolongan kita?”

Jabal mendengus, dia sendiri bingung tentang apa yang mesti mereka lakukan. Salah satu sisi hatinya amat ingin menolong orang itu, tapi sisi hatinya yang sebelah lagi berkata lain, mungkin ada sebuah jebakan. “Kita tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya. Kita tidak tahu apa-apa tentang orang itu.”

“Justru karena kita belum tahu, maka kita mendekat untuk mencari tahu apa yang terjadi padanya.Jika kita tetap di sini kita tidak akan mengetahui apa-apa. Lihatlah, dia membutuhkan pertolongan kita.”

“Aku khawatir ada jebakan yang sedang dipersiapkan untuk kita,” Jabal mengembuskan napasnya. Dia benar-benar kebingungan.

“Jebakan apa? Dengan menggunakan orang itu? Aku rasa tidak, orang itu pasti terjatuh dari kudanya, mungkin kakinya patah atau terluka.”

“Kita tidak tahu pasti tentang hal itu,” sergah Jabal.

“Karena itulah kita harus ke sana dan segera menolongnya,” kata Mutsana.

Dengan enggan akhirnya Jabal sepakat dengan komandannya. Mereka memacu unta mereka untuk menghampiri seorang lelaki di tengah-tengah padang pasir itu. Semakin mereka mendekat semakin jelaslah apa yang terjadi pada lelaki itu. Sementara Jabal tak henti menoleh ke sekelilingnya untuk memantau keadaan yang tetap saja terlihat sepi.

Seorang lelaki terjatuh di atas pasir, dia merintih karena kaki kanannya berlumuran darah. “Tolong aku… Tolong!”

Lelaki itu masih muda. Kulitnya cokelat dengan hidung bengkok dan janggut yang lebat.Pakaiannya berwarna biru, dia tidak memakai serban dan rambutnya berantakan. Keringat yang bercucuran di wajahnya menyiratkan rasa sakit yang amat sangat. Lukanya menganga di bagian betis sebelah kanan. Mutsana segera melompat dari untanya kemudian berlutut di sisi lelaki itu. Jabal masih tetap saja meneliti keadaan sekitar.

“Apa yang terjadi padamu?” Tanya Mutsana pada lelaki itu.

“Aku terjatuh dari kuda… Kakiku terluka karena terbentur batu, tolong aku,” ratapnya.

“Jabal, tolonglah!” Kata Mutsana. “Balut lukanya.”

Jabal segera menyobek selendang serbannya dan berlutut kepada luka di kaki lelaki itu. Dia menyeka darah di luka itu dan kemudian terkejut. Dia curiga tentang sesuatu di luka itu. Jabal melirik dengan penuh sangka kepada lelaki itu.

“Ini bukan luka terbentur batu,” kata Jabal pada Mutsana. “Ini luka sayatan pedang.”

Sekilas saja, terhamparlah sebaris senyum kecut di wajah lelaki itu. Tiba-tiba gemuruh menyeruak dari gunung-gunung batu di sekitarnya. seolah-olah gunung-gunung terbelah dan dari sela-selanya keluarlah pasukan berkuda yang bergerak cepat hendak mengepung Mutsana dan Jabal. Pasukan berkuda itu berpakaian hitam-hitam dan wajah mereka yang sangar menjadikan semuanya lebih mengerikan.

Tanpa bicara, kedua agen rahasia itu segera mengabaikan lelaki yang terluka tadi dan memacu unta-unta mereka, melarikan diri. Pecahlah sebuah kejar-kejaran yang mematikan. Seluruh pasukan berkuda berpakaian hitam itu mengacungkan pedang dan tombak. Mereka bersorak dan bersiul-siul tak tentu, dan padang pasir yang sunyi menjadi riuh.

Mutsana dan Jabal pun mencabut pedang mereka masing-masing. Apa pun yang terjadi, mereka bertekad untuk tetap melawan sampai akhir. Mutsana membungkuk di atas punggung untanya dengan penuh deru. Tangan kirinya menggenggam tali kekang unta, sementara tangan kanannya menyatu dengan pedang. Jabal mengguncang tali kekang untanya kuat-kuat untuk menambah kecepatan larinya. Orang-orang berpakaian hitam itu mengejar di belakang mereka.

Seorang prajurit hitam yang berkuda paling depan berhasil mendekati Mutsana. Dia memacu kudanya sekencang-kencangnya agar dapat menyusul kecepatan unta Mutsana. Tangan kanannya bersiap dengan tombak terhunus. Ketika posisinya sudah sejajar di sisi kiri Mutsana, prajurit hitam itu menusukkan tombaknya kepada Mutsana. Angin menderu dan pecah karena tebasan tombak. Dengan mata setajam mata elang, Mutsana mengelak dengan membungkukkan tubuhnya lebih rendah di atas punggung untanya. Dalam posisi yang sulit dan dengan susah-payah, Mutsana mengangkat pedangnya dan menebas ke tangan prajurit hitam itu. Lepaslah tangan prajurit hitam itu dan tombaknya terhempas di atas pasir. Kemudian dia terjatuh dari kudanya dan terjerembab di gurun.

“JANGAN SAMPAI LOLOSSS!!!” Salah seorang dari pasukan hitam itu, yang sepertinya pemimpinnya, memberikan komando.

Para pengejar itu semakin mendekat. Mutsana dan Jabal hampir-hampir terkejar, namun mereka tak akan pernah berhenti berjuang…

Bersambung

Follow @sayfmuhammadisa

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 43