Episode 7

drise-online.com – “Kalau begitu siapa dulu yang akan kita datangi? Yang kurus, atau yang gemuk?” Tanya Jabal. Pandangan matanya terulur kepada pedagang kain bertubuh kurus dan berwajah penuh kutil di seberangnya. Kemudian dia mengalihkan pandangan ke sisi lain, kepada seorang pedagang kain bertubuh gemuk yang juga berwajah penuh kutil. Dia mengamati dua pedagang kain berwajah kutil itu, salah satu di antaranya, diduga kuat, adalah Aswad bin Asadi, orang penting di dalam misi mereka yang harus mereka temui.

“Kita tidak tahu, yang mana yang bernama Aswad,” kata Mutsana.

“Kalau begitu kita cari tahu dulu,” tatapan mata Jabal segera bergerak ke berbagai arah, dia sedang mencari-cari sesuatu, atau seseorang.

Di mana-mana terlihat prajurit Persia yang sedang berjaga-jaga. Keadaan itu membuat gerak mereka semakin terbatas. Mata Jabal menangkap seorang anak laki-laki yang sedang mendekati mereka. Anak laki-laki itu berpakaian kumal, kulitnya kotor dan tidak beralaskaki. Ketika anak laki-laki itu lewat di depan mereka, Jabal langsung mendekatinya. Dia tunjukkan lagi kefasihannya berbahasa Persia.

“Pedagang kain bernama Aswad bin Asadi yang mana orangnya?”

Tanpa bicara apa-apa, anak itu segera menunjuk kepada pedagang kain berwajah kutil yang gemuk, kemudian melarikan diri begitu saja sementara Jabal dan Mutsana tidak sempat menangkapnya.

“Yah, setidaknya kita sudah tahu yang mana Aswad,” kata Mutsana. “Ayo kita ke sana!”

Mereka melangkah menembus kerumunan, mendekati pria berwajah kutil yang gemuk. Orang-orang terlihat sedang ramai tawar menawar harga, Mutsana dan Jabal makin merapat. Mereka mengitari lapak-lapak dan lemari-lemari kain untuk terus merapat kepada pria yang diduga Aswad bin Asadi sementara kerumunan sedang memenuhi tempat itu.

“Tuan bernama Aswad bin Asadi?” Tanya Jabal ketika dia dan rekannya telah berdiri di dekat lelaki gemuk berwajah kutilan itu.

“Siapa kalian?” Pedagang kain itu menoleh kepada Jabal dengan tatapan mata penuh tanya dan wajah masam. Dia terlihat kesal dengan pertanyaan yang diajukan oleh Jabal. Raut wajah yang masam ditambah kutil yang bertaburan membuat wajah lelaki itu semakin tidak enak dilihat. “Apa yang kalian inginkan dari Aswad?”

“Jawab saja pertanyaanku, kau Aswad atau bukan?”

“Heh, kalian pasti temannya Aswad,” lelaki kutilan itu berkacak pinggang sambil memamerkan seringainya.

“Masya Allah, anak kecil tadi menipu kita,” bisik Jabal.

Mutsana dan Jabal terperangah, mereka tak menyangka apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apa yang terjadi kemudian membuat mereka terkejut alang-kepalang.

“TANGKAP MEREKAAAA…!!!” Pedagang kain kutilan itu tiba-tiba berteriak sambil menunjuk lurus kepada Mutsana dan Jabal. “TANGKAP MEREKAAAA… MEREKA PENYUSUP… TANGKAP ORANG ISLAM ITUUUU… PRAJURIT TANGKAP MEREKAAAA…!”

Pasar Ubullah geger. Huru-hara pecah di tengah-tengah kawasan pedagang kain. Mutsana dan Jabal segera melarikan diri tanpa buang-buang waktu, mereka membelah kerumunan itu. Dua orang prajurit bersenjata tombak dan perisai menghadang di depan mereka, Mutsana dan Jabal menghantamkan tinju ke wajah kedua prajurit Persia itu yang segera terjengkang di dasar pasar.

Mutsana dan Jabal terus melarikan diri. Mereka berbelok di sebuah tikungan, sudah ada seseorang yang sedang mereka tuju, lelaki berwajah kutil yang kurus. Mereka sedang menuju lapak pedagang kain berwajah kutil yang kurus sementara prajurit-prajurit Persia mengejar di belakang mereka. Kalau lelaki gemuk berwajah kutil bukanlah Aswad, berarti lelaki kurus berwajah kutil adalah Aswad. Mereka berencana melarikan lelaki itu.

Sayangnya, ketika mereka telah mendekati tempat yang mereka tuju, mereka tidak menemukan pria kurus berwajah kutil itu. Prajurit-prajurit Persia yang mengejar mereka semakin dekat, orang-orang di sekitar mereka terheran-heran dengan apa yang sedang terjadi.

“TANGKAP MEREKAAAA… TANGKAP ORANG ITUUU…” Para prajurit memekik kencang.

Karena teriakan itu orang-orang jadi turut bernafsu untuk menangkap Mutsana dan Jabal, pemerintah Kekaisaran Persia memang sering kali memberikan berbagai hadiah bagi orang yang berjasa menangkap penjahat. Hal itu membuat mereka tidak sempat mencari pria kurus berkutil itu. Mereka segera melarikan diri, keadaan benar-benar mendesak.

Derap kaki Mutsana dan Jabal menjejak tanah dengan cepat. Mereka berlari beriringan, kadang saling susul-menyusul. Sementara orang-orang dan para prajurit Persia mengejar di belakang mereka. Terjadilah kejar-kejaran yang menegangkan.

Mereka tahu persis kalau mereka sampai tertangkap, pastilah mereka akan segera dieksekusi karena dicurigai sebagai mata-mata. Semenjak Kekaisaran Persia merasa terancam dengan munculnya Khilafah Islamiyah, nasib orang yang dicurigai sebagai mata-mata tidak pernah baik, mereka pasti akan segera dieksekusi setelah ditangkap, bahkan tanpa bukti dan tanpa proses peradilan.

Jabal dan Mutsana berlari sekencang-kencangnya, melintasi lapak-lapak dan kios-kios. Mereka sengaja melewati gang-gang sempit di antara bangunan-bangunan agar para pengejar itu kesulitan menangkap mereka. Napas mereka menderu, mereka mulai kehabisan energi. Semakin waktu berlalu, semakin banyak yang mengejar mereka, kalau mereka hanya berlari, cepat atau lambat, mereka pasti akan tertangkap. Di antara deru napas yang terengah-engah itu, Mutsana dan Jabal masih terus membisikkan kalimatullah. Tiadalah perlindungan yang paling kuat dan paling baik, kecuali yang diberikan oleh Allah sang penguasa semesta. Hati mereka memanjatkan doa agar mereka diselamatkan dari orang-orang kafir.

Tiba-tiba Jabal melihat sesuatu tak jauh di depannya, atau lebih tepatnya melihat “seseorang”. Sekelebat saja, dia melihat seorang pria bertubuh kurus dan berwajah kutilan. Lelaki itu berdiri di depan mulut sebuah gang sambil memerhatikan mereka. Kemudian dengan tatapan penuh makna, lelaki itu melambaikan tangannya kepada mereka, seolah-olah memerintahkan mereka agar mengikutinya. Sedetik kemudian lelaki itu telah menghilang ke dalam gang.

Tanpa pikir panjang, Mutsana dan Jabal mengikuti lelaki kutilan itu memasuki gang. Mereka terperangah, ternyata gang itu buntu. Di kiri-kanan gang itu hanya ada tembikar-tembikar dan keramik-keramik tanah liat dalam berbagai ukuran. Pria kurus berwajah kutil itu menghilang begitu saja. Harapan mereka telah pupus, hampir bisa dipastikan mereka tertangkap. Jabal berbalik ke arah mulut gang itu untuk melihat keadaan. Para pengejar itu sudah dekat…

Bersambung

Follow

Episode 7

“Kalau begitu siapa dulu yang akan kita datangi? Yang kurus, atau yang gemuk?” Tanya Jabal. Pandangan matanya terulur kepada pedagang kain bertubuh kurus dan berwajah penuh kutil di seberangnya. Kemudian dia mengalihkan pandangan ke sisi lain, kepada seorang pedagang kain bertubuh gemuk yang juga berwajah penuh kutil. Dia mengamati dua pedagang kain berwajah kutil itu, salah satu di antaranya, diduga kuat, adalah Aswad bin Asadi, orang penting di dalam misi mereka yang harus mereka temui.

“Kita tidak tahu, yang mana yang bernama Aswad,” kata Mutsana.

“Kalau begitu kita cari tahu dulu,” tatapan mata Jabal segera bergerak ke berbagai arah, dia sedang mencari-cari sesuatu, atau seseorang.

Di mana-mana terlihat prajurit Persia yang sedang berjaga-jaga. Keadaan itu membuat gerak mereka semakin terbatas. Mata Jabal menangkap seorang anak laki-laki yang sedang mendekati mereka. Anak laki-laki itu berpakaian kumal, kulitnya kotor dan tidak beralaskaki. Ketika anak laki-laki itu lewat di depan mereka, Jabal langsung mendekatinya. Dia tunjukkan lagi kefasihannya berbahasa Persia.

“Pedagang kain bernama Aswad bin Asadi yang mana orangnya?”

Tanpa bicara apa-apa, anak itu segera menunjuk kepada pedagang kain berwajah kutil yang gemuk, kemudian melarikan diri begitu saja sementara Jabal dan Mutsana tidak sempat menangkapnya.

“Yah, setidaknya kita sudah tahu yang mana Aswad,” kata Mutsana. “Ayo kita ke sana!”

Mereka melangkah menembus kerumunan, mendekati pria berwajah kutil yang gemuk. Orang-orang terlihat sedang ramai tawar menawar harga, Mutsana dan Jabal makin merapat. Mereka mengitari lapak-lapak dan lemari-lemari kain untuk terus merapat kepada pria yang diduga Aswad bin Asadi sementara kerumunan sedang memenuhi tempat itu.

“Tuan bernama Aswad bin Asadi?” Tanya Jabal ketika dia dan rekannya telah berdiri di dekat lelaki gemuk berwajah kutilan itu.

“Siapa kalian?” Pedagang kain itu menoleh kepada Jabal dengan tatapan mata penuh tanya dan wajah masam. Dia terlihat kesal dengan pertanyaan yang diajukan oleh Jabal. Raut wajah yang masam ditambah kutil yang bertaburan membuat wajah lelaki itu semakin tidak enak dilihat. “Apa yang kalian inginkan dari Aswad?”

“Jawab saja pertanyaanku, kau Aswad atau bukan?”

“Heh, kalian pasti temannya Aswad,” lelaki kutilan itu berkacak pinggang sambil memamerkan seringainya.

“Masya Allah, anak kecil tadi menipu kita,” bisik Jabal.

Mutsana dan Jabal terperangah, mereka tak menyangka apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apa yang terjadi kemudian membuat mereka terkejut alang-kepalang.

“TANGKAP MEREKAAAA…!!!” Pedagang kain kutilan itu tiba-tiba berteriak sambil menunjuk lurus kepada Mutsana dan Jabal. “TANGKAP MEREKAAAA… MEREKA PENYUSUP… TANGKAP ORANG ISLAM ITUUUU… PRAJURIT TANGKAP MEREKAAAA…!”

Pasar Ubullah geger. Huru-hara pecah di tengah-tengah kawasan pedagang kain. Mutsana dan Jabal segera melarikan diri tanpa buang-buang waktu, mereka membelah kerumunan itu. Dua orang prajurit bersenjata tombak dan perisai menghadang di depan mereka, Mutsana dan Jabal menghantamkan tinju ke wajah kedua prajurit Persia itu yang segera terjengkang di dasar pasar.

Mutsana dan Jabal terus melarikan diri. Mereka berbelok di sebuah tikungan, sudah ada seseorang yang sedang mereka tuju, lelaki berwajah kutil yang kurus. Mereka sedang menuju lapak pedagang kain berwajah kutil yang kurus sementara prajurit-prajurit Persia mengejar di belakang mereka. Kalau lelaki gemuk berwajah kutil bukanlah Aswad, berarti lelaki kurus berwajah kutil adalah Aswad. Mereka berencana melarikan lelaki itu.

Sayangnya, ketika mereka telah mendekati tempat yang mereka tuju, mereka tidak menemukan pria kurus berwajah kutil itu. Prajurit-prajurit Persia yang mengejar mereka semakin dekat, orang-orang di sekitar mereka terheran-heran dengan apa yang sedang terjadi.

“TANGKAP MEREKAAAA… TANGKAP ORANG ITUUU…” Para prajurit memekik kencang.

Karena teriakan itu orang-orang jadi turut bernafsu untuk menangkap Mutsana dan Jabal, pemerintah Kekaisaran Persia memang sering kali memberikan berbagai hadiah bagi orang yang berjasa menangkap penjahat. Hal itu membuat mereka tidak sempat mencari pria kurus berkutil itu. Mereka segera melarikan diri, keadaan benar-benar mendesak.

Derap kaki Mutsana dan Jabal menjejak tanah dengan cepat. Mereka berlari beriringan, kadang saling susul-menyusul. Sementara orang-orang dan para prajurit Persia mengejar di belakang mereka. Terjadilah kejar-kejaran yang menegangkan.

Mereka tahu persis kalau mereka sampai tertangkap, pastilah mereka akan segera dieksekusi karena dicurigai sebagai mata-mata. Semenjak Kekaisaran Persia merasa terancam dengan munculnya Khilafah Islamiyah, nasib orang yang dicurigai sebagai mata-mata tidak pernah baik, mereka pasti akan segera dieksekusi setelah ditangkap, bahkan tanpa bukti dan tanpa proses peradilan.

Jabal dan Mutsana berlari sekencang-kencangnya, melintasi lapak-lapak dan kios-kios. Mereka sengaja melewati gang-gang sempit di antara bangunan-bangunan agar para pengejar itu kesulitan menangkap mereka. Napas mereka menderu, mereka mulai kehabisan energi. Semakin waktu berlalu, semakin banyak yang mengejar mereka, kalau mereka hanya berlari, cepat atau lambat, mereka pasti akan tertangkap. Di antara deru napas yang terengah-engah itu, Mutsana dan Jabal masih terus membisikkan kalimatullah. Tiadalah perlindungan yang paling kuat dan paling baik, kecuali yang diberikan oleh Allah sang penguasa semesta. Hati mereka memanjatkan doa agar mereka diselamatkan dari orang-orang kafir.

Tiba-tiba Jabal melihat sesuatu tak jauh di depannya, atau lebih tepatnya melihat “seseorang”. Sekelebat saja, dia melihat seorang pria bertubuh kurus dan berwajah kutilan. Lelaki itu berdiri di depan mulut sebuah gang sambil memerhatikan mereka. Kemudian dengan tatapan penuh makna, lelaki itu melambaikan tangannya kepada mereka, seolah-olah memerintahkan mereka agar mengikutinya. Sedetik kemudian lelaki itu telah menghilang ke dalam gang.

Tanpa pikir panjang, Mutsana dan Jabal mengikuti lelaki kutilan itu memasuki gang. Mereka terperangah, ternyata gang itu buntu. Di kiri-kanan gang itu hanya ada tembikar-tembikar dan keramik-keramik tanah liat dalam berbagai ukuran. Pria kurus berwajah kutil itu menghilang begitu saja. Harapan mereka telah pupus, hampir bisa dipastikan mereka tertangkap. Jabal berbalik ke arah mulut gang itu untuk melihat keadaan. Para pengejar itu sudah dekat…

Bersambung

Follow @sayfghazi

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #36