aslm. De malam ini bisa kajian kan?” pesan yang diterima  Nisa tak lama dari ia baru meletakan tasnya setelah  Apulang kuliah,.  

“Lan (panggilan kecil Nisa pada Wulan teman satu  kostannya). Kamu dapat sms dari mbak Winda gak?” “sms apa gitu  Sa?” tanya Wulan yang lagi asyik nongkrongin laptopnya,.  

“Itu lho yang ngajak kita kajian, ntar malam kan jadwal  kita kajian” jawab Nisa sambil merebahkan badannya di atas  tempat tidur melepas lelah setelah seharian kuliah.  “Oh itu, iya tadi aku juga dapat smsmnya cuma lum  sempet aku balas, hehe..” jawab Wulan lagi.

Tak terdengar lagi  suara dari arah Nisa. Wulan menoleh ke arah Nisa. “Wahh… Nisa  rupanya dia tepar hoho.. dasar sahabatku,.” Ungkap Wulan sambil  tersenyum melihat sahabatnya tertidur di ruang TV. Tak lama berselang dari percakapan mereka, matahari  pun ikut memejamkan matanya di ujung persembunyian yang  tampak anggun dengan balutan mega yang kemerahan. Terdengar  suara adzan magrib dari televisi, Nisa bangun dan beranjak ke  kamar mandi. Saat ia asyik mandi rupanya dari bawah terdengar  ada yang memanggil-manggil namanya.  

“Sa…Sa..! Ada temen tuh di bawah nungguin..!” teriak  temen kostannya dari lantai bawah. “Oh iya, suruh naik aja gitu,  aku lagi di kamar mandi!” jawab Nisa sambil bergegas keluar dari  kamar mandi. “Assalamu alaikum. De…” ujar mbak Winda sembari  membuka pintu kamar Nisa. Mbak Winda adalah guru ngajinya  Nisa yang juga kakak tingkat di kampusnya yang rutin setiap  minggu mengunjungi Nisa dan Wulan untuk mentoring (kegiatan  kajian rutin tentang Islam).  

“Wa’alaikum salam. Ehh,,, mbak, ayo silakan masuk.  Maaf berantakan. Hehe…” jawab Nisa setelah selesai sholat sambil  membereskan buku-buku yang tergeletak di lantai kamarnya. Nisa  dan Wulan paham benar kedatangan mbak Winda tak lain untuk  kajian islam. Mentoring itu berlangsung selama 2 jam. Terkadang  wajah suntuk keduanya menjadi hal biasa saat mentoring  berlangsung. Setiap materi yang disampaikan mbak Winda hanya  masuk telinga kanan keluar lagi telinga kiri.

Namun, dengan  sabarnya mbak Winda tetap berusaha mengajak keduanya untuk  mau kajian dan memperdalam Islam secara menyeluruh. Tanpa bosan mbak Winda menyampaikan ayat  mengenai kerudung dan jilbab yang udah seharusnya menjadi  pakaian seorang muslimah saat keluar rumah sesuai dengan QS.  An-Nur : 31 dan Al-Ahzab : 59. Nisa yang saat itu masih setengah  hati mengikuti kajian hanya bergumam

“iya mbak Insyaallah nanti  secara bertahap sekarangmah lum siap takut setengah-setengah  ngejalaninya” argumen itu hanya alasan Nisa yang enggan  memakai jilbab dan kerudung secara sempurna, meskipun  keseharian Nisa memang sudah menutup aurat.  Pikirnya, “Kalau aku berjilbab nanti dibilang aneh,  fanatik, ntar teman-teman ngejaga jarak sama aku dan gak bisa  bebas bergaul.” Pikiran-pikiran itu yang membuatnya belum mau  berhijab layaknya seorang wanita muslimah. Nisa belum  menyadari bahwa aturan Allah lah yang terbaik untuknya.

Nisa  selalu aja mencari-mencari alasan untuk gak ikut kajian, padahal  mba Winda udah dengan sabar dan baiknya datang ke kostan tiap  minggu untuk kajian. Kegiatan keseharian Nisa hanya mencakup kampus,  kantin, kostan. Tak ada lain selain itu. Sampai suatu hari ia tergiur  dengan ajakan teman-teman kampusnya untuk pacaran. Nisa  mulai asyik dengan kegiatan barunya, pacaran, jalan-jalan, dan  hura-hura. Kegiatan kajian rutin tiap minggu tak ubahnya seperti  angin lalu, tak berbekas lagi untuknya.  

***

Tak terasa waktu kuliah yang ditempuh selama 2 tahun  di kota hujan segera berakhir. Nisa dan teman-teman mulai  disibukkan dengan menyusun Laporan Akhir hasil Praktik Kerja  Lapangan (PKL) sebagai Tugas Akhir Mahasiswa Diploma. Nisa  terlalu sibuk dengan kegiatannya, mempersiapkan Tugas Akhir.  Hampir separuh waktunya ia habiskan untuk nongkrongin laptop  dan konsultasi dengan dosen pembimbing.   

“Phew…! Cape juga ya Lan seharian ngejar-ngejar dosen.  Mana dosennya rewel harus banyak yang direvisi TA (tugas akhir).  Hmm…!” Ujar Nisa mengawali percakapan dengan Wulan  sepulang bimbingan dari dosen.  

“Sabar aja Sa, lagi nyusun mah emang gini banyak ina  inunya hehe…” jawab Wulan dengan suara terbata-bata.  “Kenapa Lan? Ko keliatannya pucat gitu, lagi sakit yaa??”  ungkap Nisa melanjutkan percakapan dengan Wulan sembari  melihat ke arah sahabatnya yang terlihat pucat.  

“Nggak kok Sa, gak pa-pa. Mungkin cuma kecapean aja.  Istirahat bentar juga sembuh” jawab Wulan yang tengah berbaring  di tempat tidur. “Ya udah istirahat aja Lan, aku mau mandi dulu  bentar lagi pacar aku datang haha…!” ujar Nisa mengakhiri  percakapan.

Keesokan harinya dengan rutinitas yang sama seperti  biasanya, ketika Nisa lagi bimbingan TA, ada kabar kalau Wulan  sakit dan dibawa ke Rumah Sakit terdekat. Nisa sempet panik kala  itu, ia bergegas pulang ke kostan dan cari tahu kabar teranyar  tentang sahabatnya. Sesampai di kostan, temen-temen kostnya  bilang kalau bentar lagi juga Wulan bisa dibawa pulang. Nisa lega  mendengar kabar itu. Tak lama kemudian, Wulan tiba di kostan  dan bilang kaalu dia harus istirahat beberapa hari di rumah dan  memutuskan untuk pulang ke rumahnya di Subang.

***

Selang waktu berganti, detik-detik wisuda yang  ditunggu-tunggu akhrnya tiba juga. Namun belum ada kabar  Wulan pulang ke Bogor padahal waktu wisuda semakin dekat. Nisa  dan teman-temannya terus berusaha menghubungi keluarga  Wulan menanyakan kabar terbaru mengenai keadaan sahabat  mereka. Kabar yang diperoleh dari keluarganya kalau Wulan masih  sakit dan masih butuh istirahat, kemungkinan besar Wulan gak  bisa ikut wisuda.

Nisa dan teman-teman yang lain sedih  mendengar kabar itu, karena di hari yang bisa dibilang bersejarah,  sahabatnya gak bisa ikut menghadiri acara wisuda.  Sepulang dari PKL Wulan memang sering terlihat sakit-sakitan, awalnya teman-temannya hanya mengira mungkin terlalu  kecapean atau sakit Tiphus. Belakangan diketahui kabar kalau  Wulan sakit cukup serius. Nisa dan sahabat-sahabat yang lain  hanya bisa berdoa untuk kesembuhan sahabatnya itu agar bisa  kembali berkumpul di tengah-tengah mereka. Hari yang dinantikan tiba, mereka cukup antusias dan  semangat mengikuti acara wisuda yang di selenggarakan di  kampus S1.

Rasa bangga, senang dan bahagia bercampur  menghiasi perasaan Nisa dan teman-temannya. Namun tak bisa  dipungkiri sedih juga menghampiri mereka karena di hari bahagia  itu, sahabatnya Wulan tak bisa ikut merasakan kebahagian yang  mereka alami. Waktu beranjak mengitari hari. Nisa dan teman-temannya sudah menjalani kehidupan mereka masing-masing  untuk kembali berjuang menjemput masa depan dengan gelar  pertama yang membingkai nama belakang mereka. Iya,… A.Md.  Kini, tak ada lagi sorak sorai maupun canda tawa yang biasa  mewarnai hari-hari mereka selama menempuh pendidikan di  kampus.  

***

“Sa…Wulan meninggal…” kalimat pertama yang  didengar Nisa di telepon dari sabahat kuliahnya, Mia.  “Innalillaahi….kapan..?! Yang benar..?! Dimana Wulan  sekarang..?!” Jawab Nisa sambil berurai air mata.  “Barusan Sa, di RS Bekasi. Mungkin besok baru  dikebumikan.” Jawab Mia sembari tak kuat menahan tangis.”  Padahal sebelumnya udah ada rencana Nisa dan sahabat-sahabatnya mau menjenguk Wulan. Tapi apa daya Allah udah  punya rencara lain yang lebih indah untuk semuanya.

Keesokan harinya, semua sahabat kuliah datang ke acara  pemakaman Wulan. Sebagai penghormatan terakhirnya, mereka  menyolatkan dan mengantar almh. sampai ke tempat  peristirahatan yang terakhir. Hari itu seakan bumi pun menangis  dengan kepergian Wulan, mendung mengiringi duka. Tangis Nisa  dan sahabat-sahabatnya tak henti terurai dari wajah mereka.  

“Bunga kamboja menghiasi pusara sahabatku,,  sekarang aku melihat sahabatku sendiri yang terbaring terkubur  tanah, suatu saat nanti akupun demikian.” Kata-kata itu spontan  terlontar dari mulut Nisa, merenungi apa yang dilihatnya.  Dalam benaknya, terlintas tentang apa yang selama ini ia  jalani, Nisa hanya asyik dengan kesenangannya sendiri jalan-jalan,  pacaran, main udah menjadi sesuatu hal yang tak bisa dilepaskan  dari gaya hidupnya.

Nisa malu dengan dirinya sendiri yang sudah  lalai dengan perintah Allah. Ia teramat sering acuh dengan ajakan  kajian (halaqoh) rutinnya dengan mba Winda, masuk telinga kanan  dan keluar telinga kiri, udah teramat sering pula ia mencari-cari  alasan agar gak ikut kajian islam. Selama ini ia terlenakan dengan  kesenangan sesaat yang membuatnya lupa sama Allah. Ada rasa  jenuh menggelayuti hatinya.

Ia menyadari ada kerinduan dalam  hatinya untuk mengawali kehidupan yang baru, dengan lembaran  baru mengawali hari dengan yang lebih bari dari hari-hari yang  udah dijalaninya kemarin.  Seusai pemakaman berlangsung, satu per satu pelawat  melangkah pergi meninggalkan pemakaman. “Selamat jalan  sahabat…. Semoga engkau tenang di sana….!” ujar Nisa dalam  hati.[] Semoga menjadi inspirasi untuk hamba-hamba Allah yang  lainnya.