majalahdrise.com – Hiruk pikuk piala dunia mengguncang jagat raya. Semua mata tertuju ke negerinya Nelson Mandella. Baik yang di kota maupun di pelosok desa. Gak kenal usia, jenis kelamin, status sosial, atawa status pendidikan. Hajatan empat tahunan ini emang paling ditunggu para bola mania. Nggak heran kalo FIFA rela ngucurin dana sampe $1,1 miliar, sementara Afrika Selatan menghabiskan $5 miliar untuk membangun stadion baru dan jalur transportasi.

Namun dibalik gegap gempita perayaan wordcup di negeri yang sarat dengan kemiskinan dan konflik, banyak yang luput dari perhatian dunia. Pertama, lagu Wavin Flag yang didaulat jadi lagu resmi piala dunia yang didendangkan oleh K’Naan . iriknya ceria dan videonya juga melambangkan euforia dari para pendukung negara peserta. Ternyata lagu itu remix alias hadil modifikasi. Sebenernya lagu asli k’naan menggambarkan keadaan kemiskinan di Afrika, keadaan dimana negara yang sedang dalam bencana, perang tidak berkepanjangan dan negara yang sedang dibodohi oleh negara adidaya. Ini salah satu lirik lagu aslinya: So many wars, settling scores, Bringing us promises, leaving us poor, I heard them say, love is the way, Love is the answer, that’s what they say, But look how they treat us, Make us believers, We fight their battles, then they deceive us, Try to control us, they couldn’t hold us, Cause we just move forward like Buffalo Soldiers. (Begitu banyak perang, penyelesaian akhir, Membawa kami janji, meninggalkan kami kemiskinan, Aku mendengar mereka berkata, cinta adalah jalan selesainya, Cinta adalah jawabannya, itulah yang mereka katakan, Tapi lihatlah bagaimana mereka memperlakukan kita, membuat kita percaya, Kita melawan pertempuran mereka, lalu mereka menyesatkan kami, Coba untuk mengendalikan kita, mereka tidak dapat menahan kami, Karena kami hanya bergerak maju seperti pasukan banteng).

Kedua, keuntungan piala dunia idealnya bisa dinikmati oleh masyarakat dan pemerintah negerinya Kazumi (simbol piala dunia). Kenyataannya, Hanya sedikit keuntungan yang merembes ke bawah. Pedagang makanan yang biasanya memperoleh keuntungan besar dari kegiatan olahraga semacam ini dengan berjualan di luar stadion, ‘diungsikan’ paling tidak 1 kilometer dari arena stadion.  “Ini adalah negara di mana kemakmuran dan kemiskinan berdiri berdampingan,” ujar wartawan olahraga AS, Dave Zirin, seperti dilansirgreenleft.org.au.

Piala Dunia bahkan harus mengorbankan murid sekolah. Lebih dari 1.000 pelajar berdemonstrasi menentang pembangunan Stadion Mbombela. Karena proyek mercusuar tersebut menggusur keberadaan sekolah mereka. Meski pemerintah menjanjikan untuk membangun sekolah pengganti bagi mereka, namun janji itu tak kunjung terrealisasi. Hal ini membuat berang murid-murid sekolah.

Pada akhirnya, pembangunan stadion-stadion megah di Afsel juga dipertanyakan oleh insan sepakbola Afsel. “Apa yang akan kita lakukan dengan stadion berkapasitas 70.000 penonton di Durban, ketika Piala Dunia berakhir?  Durban hanya mempunyai dua tim sepakbola kecil yang hanya menarik ribuan penonton,” ujar Trevor Phillips, mantan direktur Liga Primer Afsel.

Ketiga, bagi umat Islam, piala dunia amat sangat melenakan ummat. Gencarnya tayangan seputar piala dunia memaksa memory dalam kepala umat Islam ngasih space lebih buat nampung info-info gak penting world cup. Krisis di Gaza Palestina, budaya mesum yang kian kental setelah terungkapnya skandal seks selebriti, hingga rencana kenaikan TDL untuk kesekian kalinya luput dari perhatian ummat. Sedih..sedih..sedih.

Driser, hajatan piala dunia atau event olahraga apapun tak pernah luput dari kepentingan para kapitalis. Mereka berbahagia di atas penderitaan rakyat kecil. Mereka turut mensukseskan rencana zionis untuk menguasai dunia yang tertuang dalam Protocols of Zion poin ke 13 yang diterbitkan Prof. Sergyei Nilus di Rusia tahun 1902. Intinya “Zionisme merencanakan hendak mengundang masyarakat melalui surat-surat kabar waktu itu, untuk mengikuti berbagai lomba yang sudah diprogram. Diharapkan kesenangan baru yang diciptakan itu secara perlahan akan melenakan muslim dari konflik- konflik politik kaum muslimin dengan bangsa Yahudi.”. So, tetep waspada dan jangan alihkan perhatian kita dari urusan ummat![341]

di muat di majalah drise edisi #5