DIRTIEST PEOPLE (Tahukah D'Riser zat berbahaya yang dimaksud?) | Majalah Remaja Islam DRise
Friday, September 22nd, 2017
Breaking News
You are here: Home >> Drise Online >> DIRTIEST PEOPLE (Tahukah D’Riser zat berbahaya yang dimaksud?)
DIRTIEST PEOPLE (Tahukah D’Riser zat  berbahaya yang dimaksud?)

DIRTIEST PEOPLE (Tahukah D’Riser zat berbahaya yang dimaksud?)




Majalahdrise.com – Pada abad  16 sampai  18 Masehi,  di tengah-tengah  masyarakat benua  Eropa menyebar ketakutan terhadap suatu  zat yang konon sangat berbahaya bagi  tubuh. Ambroise Pare, tabib raja-raja  Perancis, pada tahun 1568 memperingatkan  masyarakat akan bahaya zat tersebut, yaitu  “bisa membuat badan jadi lembek dan  membuka pori-pori kulit, sehingga bisa  menyebabkan berbagai uap yang berbahaya  memasuki tubuh, yang bisa mengakibatkan  kematian mendadak”.

Senada dengan Pare,  Theophraste Renaudot, yang juga dokter  dari Perancis menjelaskan bahwa zat  berbahaya ini merupakan “musuh dari  jaringan syaraf dan otot, yang bisa  melemahkan badan”. Tahukah D’Riser zat  berbahaya yang dimaksud? Zat itu ialah air! Yup, itulah kepercayaan orang Eropa di  abad pertengahan akan bahaya air bila  menyentuh kulit. Akibatnya, orang-orang  Eropa di masa itu jarang mandi. Frekuensi  mandi mereka rata-rata beberapa kali dalam  setahun, yang paling rajin dan elite adalah sebulan sekali. Yaiks…!

Masyarakat  kelas bawah lebih parah lagi karena  mereka tak pernah mandi sama sekali,  dan hanya mencukupkan diri dengan  mencuci tangan, muka, dan kumur-kumur. Mencuci muka seluruhnya pun  masih dianggap berbahaya karena  dianggap bisa melemahkan  penglihatan, jadi cuci muka pun agak  jarang. Bahkan mereka percaya bahwa  lapisan daki pada kulit justru melindungi tubuh dari penyakit. Hiiy…!  Selain ketakutan terhadap penyakit,  ternyata ada alasan lain yaitu alasan  keagamaan. Sebelum abad pertengahan,  fasilitas pemandian umum sebenarnya  sudah biasa dijumpai, mengingat pada masa  itu masih jarang rumah yang di dalamnya  ada kamar mandi, kecuali di rumah-rumah  para bangsawan dan orang kaya.

Namun  pihak Gereja memberi stigma negatif  terhadap pemandian umum, karena  dianggap menyebabkan perbuatan amoral  dan seks bebas. Dari waktu ke waktu  pembatasan itu semakin banyak, bahkan  sampai ada larangan untuk mandi telanjang.  Stigma negatif terhadap aktivitas mandi  ini juga diyakini oleh kalangan bangsawan  dan aristokrat.  Beberapa penguasa yang  jarang mandi itu diantaranya adalah Raja  Ferdinand dan Ratu Isabella dari Spanyol.  Menurut kedua penganut agama Kristen  fanatik ini, mandi itu dekat dengan  kefasikan, karena orang yang mandi biasanya tidak pakai baju. Ketika duo jarang  mandi ini menaklukkan Andalusia,  penduduk muslim di sana tak hanya dipaksa  pindah agama, mereka juga dilarang untuk  mandi.

Isabella sendiri dengan bangga  menyebutkan bahwa seumur hidupnya ia  hanya mandi dua kali, pada saat dilahirkan  dan ketika menikah. Masih di Spanyol, Putri  Isabella, anak dari raja Felipe II bahkan  pernah bersumpah untuk tidak mengganti  baju hingga pengepungan Ostend (1601 M)  selesai. Namun ternyata pengepungan itu  baru berakhir 3 tahun kemudian.

Wueks…! Para penguasa Prancis pun, walau  dandanannya paling flamboyan, ternyata  kebiasaannya tak jauh beda. Raja Louis XIV  yang dianggap raja Perancis paling agung,  ternyata menurut seorang diplomat Rusia,  bau badannya seperti binatang liar.  Dibanding bangsa Eropa lainnya, frekuensi  mandi orang Rusia masa itu memang agak  lebih sering. Sebagai gantinya mereka dicap  sebagai bangsa yang paling mesum dan  amoral di mata bangsa Eropa lain. Untuk mengatasi masalah bau badan  tanpa harus mandi, para bangsawan Eropa menggunakan parfum dan  bedak wangi untuk  menyembunyikan busuknya bau  badan mereka. Alasan lainnya,  konon istana-istana di Perancis  walaupun mewah, tapi seringkali  dikotori oleh perilaku jorok  penghuninya, yakni sering BAB  sembarangan. Tak jarang  seonggok kotoran manusia  ditemukan di atas karpet di  koridor maupun tangga.

Itulah  kenapa Perancis terkenal dengan  parfumnya, demi menangkal  segala macam bau yang  menusuk hidung.  Selain memakai parfum,  solusi lain adalah dengan sering  mengganti baju dalam sehari.  Sayangnya, harga parfum dan  pakaian sangat mahal, sehingga,  parfum dan pakaian yang putih  bersih merupakan simbol  kekayaan.

Sementara rakyat  jelata harus puas dengan baju  yang tak pernah diganti  bertahun-tahun serta harus  terbiasa dengan berbagai macam bau  menyengat di sekitar mereka. Iya sob,  seakan bau badan saja gak cukup,  lingkungan pun beraroma neraka akibat  gaya hidup yang tidak higienis. Jalanannya  becek dan dipenuhi dengan kotoran dan air  kencing, karena mereka biasa  menumpahkan isi chamber pots (belanga  tempat buang air) mereka ke jalanan.

Ugh…! Kita semua patut bersyukur karena  memeluk agama Islam yang sangat  menghargai kebersihan. Kita tentu hafal  dengan ungkapan “Kebersihan adalah  sebagain dari iman” (an-nadhafatu minal  iman). Meskipun ungkapan ini bukan hadits,  tapi maknanya tidak menyimpang karena  Islam memang menyeru kepada  kebersihan. Ada banyak aturan dalam Islam  terkait dengan kebersihan, misalnya saja  perintah istinjak, perintah menjauhi najis,  perintah membersihkan pakaian, larangan  untuk buang air sembarangan, juga  perintah untuk wudhu dan mandi. Inilah  salah satu ajaran Islam yang mulia.  Tentunya kita bangga dong jadi seorang  muslim. Betul?! [].

Di muat di majalah remaja islam drise edisi 52

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

14 + 20 =