DUA ABDULLAH DI MEDAN PERANG | Majalah Remaja Islam DRise
Friday, September 22nd, 2017
Breaking News
You are here: Home >> Drise Online >> DUA ABDULLAH DI MEDAN PERANG
DUA ABDULLAH DI MEDAN PERANG

DUA ABDULLAH DI MEDAN PERANG




Majalahdrise.com – Semasa hidup Rasulullah saw. pernah  terjadi dua buah perang yang di  dalamnya terlibat dua orang bernama  Abdullah. Abdullah yang pertama adalah  Abdullah bin Rawahah, yang kedua,  Abdullah bin Qim’ah. Abdullah pertama  adalah seorang Muslim dan menjadi  pahlawan Islam, sementara Abdullah kedua  adalah seorang musyrik dan telah  memerangi Rasulullah saw., lalu  mendapatkan kematian yang sangat buruk.

Medan perang yang mencatat nama  Abdullah bin Rawahah adalah medan  Perang Mu’tah. Pada perang ini, pasukan  Islam berhadapan dengan pasukan Romawi  Bizantium untuk yang pertama kali. Jumlah pasukan musuh jauh lebih  banyak, dan hal itu cukup menggoyang  nyali pasukan Muslim hingga muncullah  suara-suara untuk meminta pasukan  bantuan kepada Rasulullah saw. Namun  dengan gagah berani Abdullah bin Rawahah  menguatkan kembali tekad dan semangat  jihad di hati pasukan Islam. Sebagaimana  diperintahkan Rasulullah saw., Abdullah bin  Rawahah mengambilalih komando pasukan  setelah Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abi  Thalib gugur di medan perang. Ia berjuang  habis-habisan hingga ia sendiri gugur  sebagai syahid. Di tengah-tengah para  sahabatnya di Madinah, Rasulullah  bersabda: “Mereka bertiga diangkatkan ke  tempatku, di surga.”

Abdullah yang pertama telah  mendapatkan tempat terbaik di surga.  Berbeda halnya dengan Abdullah yang  kedua, Abdullah bin Qim’ah. Mungkin kita jarang sekali mendengar namanya,  walaupun dia pernah melakukan sesuatu  yang amat memilukan. Kisahnya bisa kita  telusuri dari Perang Uhud. Pasukan Islam kalah dalam perang  ini. Sebuah kekalahan yang pertama bagi  pasukan Islam dalam peperangan.  Kekalahan ini terjadi karena kemaksiatan  pasukan panah yang mengabaikan perintah  Rasulullah saw. untuk tetap berada di atas  bukit, apa pun yang terjadi. Pada awalnya  pasukan Islam berhasil menguasai keadaan,  dan ‘terlihat’ menang. Sebagian pasukan  panah yang ditempatkan di atas bukit  tergoda dengan harta rampasan perang  (ghanimah).

Mereka pun turun dari bukit  walaupun pemimpin mereka, Abdullah bin  Jabir, telah memberikan peringatan keras.  Ketika itulah pasukan kavaleri yang dipimpin  Khalid bin Walid (saat itu masih kafir),  mengitari bukit yang sudah tidak terjaga  dan mendadak muncul dari barisan  belakang pasukan Islam. Kekacauan pun  terjadi, pasukan Islam kocar-kacir.  Kemenangan yang tadinya sudah di depan  mata, sirna entah ke mana. Rasulullah saw. menghadapi  keadaan terdesak. Pasukan musuh sudah  mengepungnya, sementara pasukan Islam  sudah berhamburan entah ke mana.  Beberapa orang sahabat mati-matian  membela dan melindungi Rasulullah saw.

Mereka menjadikan diri mereka sendiri  sebagai tameng hidup bagi sang Nabi.  Serangan yang ditujukan kepada diri  Rasulullah saw. amatlah hebat sehingga  beliau pun mendapatkan luka-luka. Salah seorang kafir Quraisy yang  dengan beringas menyerang Rasul adalah jarang sekali mendengar namanya,  walaupun dia pernah melakukan sesuatu  yang amat memilukan. Kisahnya bisa kita  telusuri dari Perang Uhud. Pasukan Islam kalah dalam perang  ini. Sebuah kekalahan yang pertama bagi  pasukan Islam dalam peperangan.  Kekalahan ini terjadi karena kemaksiatan  pasukan panah yang mengabaikan perintah  Rasulullah saw. untuk tetap berada di atas  bukit, apa pun yang terjadi. Pada awalnya  pasukan Islam berhasil menguasai keadaan,  dan ‘terlihat’ menang. Sebagian pasukan  panah yang ditempatkan di atas bukit  tergoda dengan harta rampasan perang  (ghanimah).

Mereka pun turun dari bukit  walaupun pemimpin mereka, Abdullah bin  Jabir, telah memberikan peringatan keras.  Ketika itulah pasukan kavaleri yang dipimpin  Khalid bin Walid (saat itu masih kafir),  mengitari bukit yang sudah tidak terjaga  dan mendadak muncul dari barisan  belakang pasukan Islam. Kekacauan pun  terjadi, pasukan Islam kocar-kacir.  Kemenangan yang tadinya sudah di depan  mata, sirna entah ke mana. Rasulullah saw. menghadapi  keadaan terdesak. Pasukan musuh sudah  mengepungnya, sementara pasukan Islam  sudah berhamburan entah ke mana.  Beberapa orang sahabat mati-matian  membela dan melindungi Rasulullah saw.

Mereka menjadikan diri mereka sendiri  sebagai tameng hidup bagi sang Nabi.  Serangan yang ditujukan kepada diri  Rasulullah saw. amatlah hebat sehingga  beliau pun mendapatkan luka-luka. Salah seorang kafir Quraisy yang  dengan beringas menyerang Rasul adalah Rasulullah saw., dia sesumbar: “Ambillah  gigi itu dariku, aku adalah Abdullah bin  Qim’ah.” Rasulullah saw. menyahut: “Allah  swt. pasti akan menghinakanmu.”

Maka  apa yang kemudian terjadi pada Abdullah  bin Qim’ah adalah tragedi. Abdurrahman bin Zaid bin Jabir  kembali mengisahkan, setelah usai Perang  Uhud, semuanya kembali ke kediamannya  masing-masing, begitu juga Abdullah bin  Qim’ah. Suatu hari, ia kembali  menggembalakan kambing-kambingnya di  puncak sebuah bukit terjal di pinggiran kota  Makkah. Jumlah kambingnya cukup banyak  dan ia berjalan di tengah-tengah  kerumunan kambing-kambingnya.

Tiba-tiba  ada seekor kambing jantan yang marah dan  menanduknya hingga ia tersungkur di  tanah. Si kambing tidak sudi berhenti, dan  terus menyeruduk Abdullah bin Qim’ah  hingga luka-luka, dan si kambing pun  seolah belum puas. Ia terus menyeruduk  hingga Abdullah bin Qim’ah terdorong ke  tepian bukit terjal itu dan terjatuh. Di dasar  bukit itu ia tewas dengan tubuh terkoyak-koyak. Sebuah akhir tragis dari orang yang  melempar wajah Rasulullah saw.[]

 

di muat di majalah remaja islam drise edisi 52




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

twelve − three =