Majalahdrise.com – Nuri, satu nama yang selalu hinggap bertahun-tahun di masa kecilnya, serta satu nama yang selalu terlupa bertahun-tahun sekarang.Thoriq sering bertabrak pandang dengan gadis itu, hanya saling memberi seutas senyum, berlalu, tanpa ada sepatah-katapun mengucur dari mulut. Gadis berambut cepak,yang selalu mengenakan baju terfavorit kaos bergambar batman, bersama merayap naik ke atap rumah.

Segera Thoriq mengambil buku catatan, lembaran yang kosong, merobeknya, meremas hingga membentuk seperti bola. Bidikan tajam.. Pluk!

“Yes, kena!”

Kaca jendela itu terbentur bola kertas yang besar, menyisakan bunyi berdebam. Siluet perempuan hadir, berdiri tegak, dalam kaca jendela dengan cahaya yang temaram. Jendela itu membuka. Wajah Nuri melongok.

“Hai, Nur. Lama nggak jumpa. Lama nggak ngobrol. Kamu bisa keluar sebentar, nggak? Ke depan pagar rumahmu.” Sapa Thoriq agak kikuk.

Nuri mengangguk.

Gadis cilik itu sudah besar. Tak terlihat lagi rambut cepak, terbalut jilbab yang menjulur sampai ke perut. Tak ada lagi kaos bergambar batman, terganti jaket tebal dan rok panjang sampai ke tumit, serta kaos kaki.Mata Nuri menatap ke jalan, sepi. Sedang Thoriq tak berani menatap pada gadis yang duduk mematung berjarak tiga meter dari tempat ia duduk matanya terbang ke langit. Hembusan napasnya bergelung-gelung, lautan bintang yang indah.

Demi langit yang mempunyai gugusan bintang..”2Thoriq berucap lirih, kagum.

Nuri melakukan hal yang sama, menatap dan berucap ke arah langit. “Dan hari yang dijanjikan.”3

Thoriq tersenyum, menyambung potongan-potongan ayat yang indah. “Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan..”4

“Subhanallah,” Komentar Nuri. Mata indah itu berkaca-kaca.

“Baru pertama kali lihat?” Tanya Thoriq mengusap tengkuknya yang sakit, karena terlalu lama menataplangit.

“Iya. Antum?” Nuri melempar balik tanya.

“Sama sih. Oh iya, mau kopi?” Thoriq mengangkat dua cangkir kopi, yang dibawanya dari dapur.

“Boleh..,” Nuri mengambil secangkir, memegang telinga cangkir berwarna putih tulang. “.., jadi.. Bagaimana kabar antum?Rekan panjat atap dan lompat jendela kamar?” Tanyanya mengulum tawa.

Thoriq tertawa, menegak kopi. “Alhamdulillah, baik. Lebih baik. Masa-masa jahiliyah udah lewat, Ukhti.” Ia menatap lautan bintang, “Walaupun kemiskinan ilmu terus-terusan ada.”

“Ana suka liat teman seperti ini, kok. Ciyee.. Sekarang lebih alim, ya?” Ejek Nuri, juga menegak kopi. “Ana sering lihat antum berjamaah di mesjid. Bener-bener sholat ‘kan? Nggak jadi agen nyolong sendal?”

Thoriq membelalakkan mata, “Oi! Jangan su’udzon! Tapi.. Kok anti tau? Hahaha.. Pengalaman jangan dibagi, dong!”

“Hihi. Seneng deh, kumpul-kumpul lagi.” Kata Nuri membuang pandang. “Sayangnya, kita nggak bisa sedekat dulu.”

“He-eh. Serasa reunian, walaupun rumah kita berdekatan dan sering ketemu. Cuma nggak ngobrol, lima tahun..”

Bintang berkedip samar, tak tampak. Semilir angin mendesah lirih.

“Iya, ya. Lima tahun..” Nuri mencoba mengulang kata-kata. Menancapkannya dalam hati. Lima tahun? Selama itu nggak ngobrol sama sahabat yang udah sama-sama dari lahir..

“Ana juga suka liat Nuri si rambut cepakdan kaos gambar batman berubah jadi seorang akhwat yang rapi menutup aurat.Keep istiqomah, yaa..”

“Doakan terus aja. Antum juga. Tetap istiqomah berjamaah di mesjid. Pahala dua puluh tujuh derajat, lumayan menambah amal di timbangan sewaktu di yaumi mizan..”

“Na’am, Kakak Ketua Akhwat..” Thoriq memberi hormat seperti seorang jenderal.

Nuri tertawa, “Siiiip deh, Kakak Ketua Umum..”

Mereka tertawa bersama.

“Apa kabar, ya? Langit sore yang dulu sering kita pandangin sama-sama. Liat matahari terbenam, terus buru-buru turun pake kesandung dan lompat ke tangga di dapur anticepat-cepat mengambil wudhu, dan lomba lari sampai ke mesjid buat sholat maghrib..” Celetuk Thoriq, setelah jeda diam sehabis tawa.

“Antum lupa? Genteng ana sering di ganti, karena kita yang jingkrak-jingkrak di atap rumah.” Kata Nuri membayangkan gentengnya yang kebanyakan penyok dan jadi bocor.

Thoriq terkekeh. “Yah, curhat lagi doi. Hmm, udah dulu, ya. Bentar lagi shubuh. Cuma kita berdua, nanti ketiganya?–”

“–Setaannnnnn!!!”

Langkah mereka berhamburan, berlari ke halaman rumah masing-masing. Di depan pintu, mereka saling pandang dari kejauhan, dalam remang-remang lampu jalan.

“Jangan lupa qiyamul lail-nya.” Nuri mengingatkan, yang disambut dengan dua jempol dari Thoriq.

Mereka masuk ke dalam rumah, dengan dada yang berdebar.

“Dia makin sholehah.” Ucap Thoriq, memegang jantungnya yang berdetak lebih laju.

“Ngapain, Bro? Jam segini diluar.” TanyaBang Umar, mata tajam itu tak lepas dari televisi.

“Nyari angin segar aja, Bang.” Jawab Thoriq.

“Kakak nyari angin? Aku mau kentut, nih. Mau? Nggak usah lagi nyari anginnya diluar.” Suara cempreng si bungsu Jamal langsung dibekap mulut mungil itu oleh Abi.

“Dia makin sholeh.” Tutur Nuri menggelar sajadah. Sedang dengkuran dua adik dan dua orang tuanya mengiringinya untuk memilinkan doa ke atas langit.

Keran terbuka, air deras mengalir. Sealiran dengan air yang berdesir di dadanya, Thoriq tertegun sejenak. Meluruskan niat, pembuktian cinta seorang hamba. Bukan karena satu akhwat yang membuat dada berdebar mengingatkannya sepuluh menit lalu. Aliran air keran menyentuh lantai keramik, melompat-melompat berkecipak. Thoriq mulai berwudhu.

Teriakan keras mengguncang rumah itu: “GOL!!!!!”

Dua cangkir kopi itu terlupa, masih tergeletak sunyi di pinggir jalan. Isi yang tandas.Berampas hitam. Warna seputih tulang. Angin malam membuat dua cangkir kopi berembun, seperti embun yang menyatu dengan bola mata Nuri. (*)

Keterangan:

1:Al-Insaan ayat 26

2-4: Al-Buruj 1-3

di muat di majalah remaja islam drise edisi 48