Fatimah Az-zahra: Penghulu Wanita Alam Semesta

Fatimah Az-zahra[Drise-#030] Fatimah Azahra, Adalah puti Rasul dari istri Saidina Khodijah. Fatimah adalah putri kesayangannya hingga belaiu bersabda: “Fatimah adalah sebahagian daripadaku. Barang siapa yang membuat dia marah, akan membuat aku marah.” [a-Bukhari, Jilid II, hlm.185] Fatimah dilahirkan pada 20 Jamadil Akhir di Mekah yaitu pada Hari Juma’at, tahun kelima selepas kerasulan Nabi Muhammad S.A.W. Fatima ialah anak yang keempat, adik dari Zainab, Ruqaya, dan Ummi Kalsum.

Kelahiran Fatimah AH amat menggembirakan Rasulullah SAW. Beliau bersabda tentang Fatimah: “Dia adalah daripadaku dan aku mencium bau syurga dari kehadirannya.”[Kasyf al-Qummah, Juzuk 2, hlm.24]. Fatimah as memiliki beberapa sebutan mulia, disamping banyak nama dan sebutan lain yang disematkan pada pribadi agung ini. Di antaranya ialah; Fatimah, Zahra, Muhaddatsah, Mardhiyah, Siddiqah Kubra, Raihanah, Bathul, Rasyidah, Haura Insiyah (bidadari berbentuk manusia), dan Thahirah. Allamah al-Majlisi dalam kitab Bihar al-Anwar menukil sebuah riwayat dari Imam Jakfar Shadiq as, yang menyatakan bahwa “Ia dinamakan Fatimah, karena tidak terdapat keburukan dan kejahatan pada dirinya. Apabila tidak ada Ali as, maka sampai hari kiamat tidak akan ada seorang pun yang sepadan dengannya (untuk menjadi pasangannya)”. (Bihar al-Anwar, jilid 43, hal 10)

Imam Ali as berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, ia dinamakan Fatimah, karena Allah Swt akan menyingkirkan api neraka darinya dan dari keturunannya. Tentu keturunannya yang meninggal dalam keadaan beriman dan meyakini segala sesuatu yang diturunkan kepadaku.” (Bihar al-Anwar, jilid 43, hal 18-19)

Fatimah menjadi saksi di malam Rasululah hijrah, yaitu ketika Ali menggantikan Rasul di tempat tidurnya untuk mengelabui orang-orang kafir qurais yang tengah mengepung rumah Rasul. Saat itu Fatimah tengah menginap di di rumah ayahandanya dan mengetahui semua kejadian tersebut. Fatimah bertahan pada malam itu dengan penuh perjuangan, kesabaran, dan keberanian segala kemungkinan yang akan berlaku kepada mereka.

Dalam peperangan juga Fatimah menjadi saksi terutama ketika Rasul terluka di dahi dan gigi yaitu saat perang uhud. Setelah perang berakhir, Fatimah a.s. menemui ayahandanya Rasulullah S.A.W, dan membersihkan wajah baginda dari luka-luka. Dalam peperangan ini juga, Fatimah a.s. menyaksikan bapa saudara ayahnya, Hamzah syahid di medan perang.

Fatimah as mencintai ayahandanya melebihi cintanya kepada siapa pun. Setelah ibunda kinasihnya, Khadijah as wafat, beliaulah yang merawat ayahnya ketika masih berusia enam tahun. Beliau senantiasa berusaha untuk menggantikan peranan ibundanya bagi ayahnya itu. Pada usianya yang masih belia itu, Fatimah menyertai ayahnya dalam berbagai cobaan dan ujian yang dilancarkan oleh orang-orang musyrikin Makkah terhadapnya. Dialah yang membalut luka-luka sang ayah, dan yang membersihkan kotoran-kotoran yang dilemparkan oleh orang-orang Quraisy ke arah ayahanda tercinta.

Fatimah senantiasa mengajak bicara sang ayah dengan kata-kata dan obrolan yang dapat menggembirakan dan menyenangkan hatinya. Untuk itu, Rasulullah saw memanggilnya dengan julukan Ummu Abiha, yaitu ibu bagi ayahnya, karena kasih sayangnya yang sedemikian tercurah kepada ayahandanya.

Apakah saidina Fatimah di manjakan oleh Rasul karena beliau adalah putri kesayanganya? Ternyata tidak. Pernah suatu ketika Fatimah meminta seseorang agar membantu pekerjaan rumah tangganya. Namun yang di katakan Rasul adalah “Anakku tersayang, aku tak dapat meluangkan seorang pun di antara mereka yang terlibat dalam pengabdian ‘Ashab-e Suffa. Sudah semestinya kau dapat menanggung segala hal yang berat di dunia ini, agar kau mendapat pahalanya di akhirat nanti.” Dan Rasul juga pernah bersabda bahwa jika fatimah mencuri maka ayahnya yang akan memotong tanganya. Itulah ketegasan Rasul.

Fatimah menikah dengan saidina Ali bin Abi Thalib yang dianugerahi lima orang anak, tiga putra: Hasan, Husein, dan Muhsin, dan dua putri: Zainab dan Umi Kalsum. Hasan lahir pada tahun ketiga dan Husein pada tahun keempat Hijrah. Muhsin meninggal dunia waktu masih kecil. Fatimah wafat setelah 8 bulan Rasulullah wafat tepatnya ada yang mengatakan tempat pemakamanya tidak di ketahui karena memang Fatimah pernah berwasiat agar pemakamanya dirahasiakan. Agar tidak banyak orang yang mengetahu. Itulah kisah seorang putri Rasul yang menjadi kesayangan Rasulullah dan menjadi saksi hidup perjalanan Rasul.

Meskipun kehidupan beliau sangat singkat, tetapi beliau telah membawa kebaikan dan berkah bagi alam semesta. Beliau adalah panutan dan cermin bagi segenap kaum wanita. Beliau adalah pemudi teladan, istri tauladan dan figur yang paripurna bagi seorang wanita. Dengan keutamaan dan kesempurnaan yang dimiliki ini, beliau dikenal sebagai “Sayyidatu Nisa’il Alamin”; yakni Penghulu Wanita Alam Semesta. [Ridwan]