Kalars adalah sebutan untuk kaum Muslim  minoritas keturunan Asia Selatan. Kalars bukan  Ksebutan biasa. Melainkan bermakna ejekan.  Bersifat merendahkan yang telah populer di kalangan  mereka umat Buddha dan yang lainnya.

Bagi mereka,  Muslim di sekitar mereka memang layak untuk dihina  dan tidak pantas untuk hidup. Jadi, membunuh kalars  adalah baik. Itu pikir mereka. Their truly confess. Sebuah kezholiman telah berlangsung. Dan  yang merasakannya adalah saudara kita seiman; se-‘aqidah. Jadi, jika tidak ada sedikit pun kepedulian kita  terhadap kesengsaraan mereka, justru  dipertanyakanlah keimanan kita. Penguasa pun  demikian.

Meski menurut Jubir HTI, Ismail Yusanto  dalam situs resmi HTI menyatakan sikap SBY yang  mengirimkan surat untuk kedubes Myanmar adalah  sebuah kemajuan, tetapi, Muslim Rohingya  sesungguhnya lebih membutuhkan pertolongan yang  real. Karena, jangankan hanya surat kecaman. PBB  saja ditentang oleh pihak pemerintah Myanmar.  Maka, tentu surat nggak akan bawa pengaruh apa  pun untuk pemerintah Myanmar.

Harusnya pasukan  tentara yang dikirim lengkap dengan persenjataannya  tercanggih! Lawan perang dengan perang lagi! Entah sudah berapa puluh ribu saudara kita  yang mati terbunuh etnis Buddha Burma dan  pemerintah Myanmar. Bahkan jumlahnya terus  bertambah hingga ratusan ribu. Lebih dari 300 ribu  orang yang mengungsi dalam kondisi yang  mengerikan di Bangladesh, lalu? Apa hal ini bukan  sebuah masalah yang harus cepat-cepat ditangani?  Bukan sesuatu yang urgent yang perlu dihiraukan???  Mengapa umat Islam dan penguasa negeri-negeri  Islam disekitar Myanmar cenderung membiarkan? Aksi damai dari lebih dari empat ribu aktivis  dan simpatisan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) bersama  ummat di patung Kuda tanggal  5 Agustus 2012  kemarin bukanlah satu-satunya bentuk apresiasi.  

Tanggal 3 Agustus, 8 Agustus, 10 Agustus, aksi  solidaritas di kota-kota besar di seluruh Indonesia pun  menunjukkan rasa empati yang besar terhadap  Muslim Rohingya. Berharap, pemerintah dapat  melakukan sesuatu. Tsaqifa Noorhadi Az-Zahra, Nazzah dan  Khonsaa, tiga anak kelas sepuluh dari SMAIT  Insantama Bogor kena todong drise untuk dimintai  pendapatnya. Mereka bilang, kalau aksi kemarin  begitu Subhanallahu dan seru.

Meski pun sedang  puasa, tapi semangat juang mereka yang peduli terasa  dimana-mana. Menurut mereka, banyak info-info  baru yang didapat dan semakin menyadarkan untuk  lebih peduli lagi. Pokoknya bagi mereka aksi  solidaritas untuk Muslim Rohingya sangat membakar  semangat! Bagi mereka puasa bukanlah halangan  untuk turut memperjuangkan dan membela hak-hak  saudara Muslim yang membutuhkan pembelaan dan  pertolongan. Dengan tegas mereka katakan, bahwa mereka nggak merasa  capek sama sekali melainkan senang luar biasa.

Wow. Kakoi desu. Hal senada juga diungkap Ukhti Fitriana, mahasiswi UNAS PASIM  Bandung. Ia pun menyatakan, “Kaum Muslim ibarat satu tubuh. Harus  merasakan yang dialami saudara se-Muslim meski beda negeri. Kita harus  bisa lebih semangat untuk memperjuangkan Islam tegak agar tidak ada lagi  Kaum Muslim yang dizholimi. Bete berat dengan pemerintah yang tetap  diam. Nggak bertindak apa pun untuk membantu saudara Muslim Rohingya.  Yang ada, terkesan menutupi kejadian yang menimpa Rohingya sehingga  masyarakat umum tidak terprovokasi dengan aksi Hizb.

Dengan aksi ini,  seengaknya masyarakat jadi tau, bahwa masih ada saudara Muslim lain yang  peduli dan ikut memperjuangkan hak-hak mereka.” Agung Affandi, seorang Mahasiswa semester tujuh UNAS PASIM  Bandung mengikuti aksi solidaritas di kedubes Myanmar pada tanggal  sepuluh Agustus lalu. “Ketika kami kemarin melakukan aksi, sayangnya  kedubes Myanmar sedang libur. Tertulis di gerbang depan ‘full month day’  kalau nggak salah, yang kami sendiri tidak tahu artinya apa. Yang jelas  kedubes Myanmar sangat ketakutan hingga meliburkan diri satu bulan  penuh, ketika sekelompok ormas dan Hizb mendatangi kedubes tersebut  untuk memprotes pembantaian Muslim Rohingya. Lihatlah! Baru didatangi  sekelompok ormas saja, mereka sangat ketakutan kesana kemari.

Belum jika  daulah Khilafah tegak, Khalifah langsung akan mengirimkan tentara ke  Myanmar untuk menyerukan jihad fi sabilillah dan mengejar pemimpin  Myanmar beserta pemuka agama hingga ke ujung dunia sekali pun!” Yosh! Begitulah D’Riser. Sekiranya kita sangat bisa menebak bahwa  semua ini terjadi karena ada sekat Nasionalisme yang membatasi. Atas dalih  Nasionalisme, pertolongan yang seharusnya ada, diabaikan. Semua tak acuh  dan lebih memilih untuk angkat tangan?! Inilah akibat Indonesia dan negara-negara di dunia masih betah berlama-lama mengemut ideologi sampah  Kapitalisme-Sekulerisme-Nasionalisme. Kita bisa melihat dengan kekuatan  iman, bahwa semua pembantaian yang terjadi pada Muslim Rohingya, Suriah,  Palestina, Afghanistan, Irak, itu tidak lain solusinya adalah tegaknya instisusi  Khilafah yang akan melindungi umat Islam di seluruh dunia tanpa kecuali.  Masih ragu? Freedom For Rohingya! Save The Kalars With Khilafah! [Hikari]