Futuh ruumPagi memecah kegelapan, dan sangkakala belum lagi ditiupkan. Seluruh dunia akan kembali menyaksikan betapa janji Allah dan RasulNya akan kembali dibuktikan. Ketika matahari baru saja menyingsing, Angkatan Bersenjata Khilafah Islamiyah telah  bergerak menuju sasaran mereka, Roma. Khilafah akan mengepung kota itu dari darat, laut, dan udara.

Dari Pangkalan Militer Sultan Muhammad al Fatih di Istanbul, pesawat-pesawat tempur dan helikopter-helikopter Khilafah berseliweran cepat menuju Roma, hendak mengepung kota Vatikan. Kapal-kapal angkut yang membawa ribuan prajurit pun mengangkasa. Dari Pelabuhan Galipolli kapal-kapal perang Khilafah melepas sauh, hendak melintasi laut Mediterania dengan satu tujuan, mewujudkan janji Allah dan RasulNya, mengepung Roma. Sepuluh kapal induk yang amat besar seperti pulau mengapung pun dikerahkan untuk tujuan yang sama.

Dunia gentar menyaksikan semua itu. Seluruh posisi negara-negara di dunia telah dikunci, tidak ada yang berani berbuat sesuatu untuk merespon apa yang dilakukan Khilafah Islamiyah. Kemuliaan dan keagungan benar-benar hanya milik Islam dan kaum Muslim. Para wartawan dan jurnalis dari seluruh stasiun berita di dunia meliput pergerakan itu dari jarak yang aman. Mereka ingin mengabadikan apa yang mungkin sebentar lagi akan terjadi.

Khalifah Muhammad Hasanuddin berdiri gagah di salah satu kapal induk Khilafah Islamiyah, yang bernama Heyreddin Barbarossa. Ia melipat tangannya di depan dada sambil merasakan semilir angin pagi yang masih cukup dingin menelisik wajahnya. Di depan matanya hamparan laut yang membiru, Laut Mediterania. Para prajurit dan awak kapal berseliweran di sekitarnya melaksanakan tugas yang dibebankan ke pundak mereka. Khalifah menatap cita-cita di depan matanya, Penaklukan Roma.

Datanglah Jenderal Sayf Ali Khan menghampirinya. Perwira gagah asal Pakistan itu berdiri gagah di Khalifah.

“Bagaimana operasi Futuh Ruum kita?” Tanya Khalifah.

“Sampai sejauh ini semua berjalan lancar,” sahut Ali Khan. “Seluruh unit telah bergerak lewat laut dan udara ke titik-titik yang telah ditentukan. Dalam satu jam ke depan sebagian pasukan kita telah mendarat di sekitar kota Vatikan. Sebagaimana perjanjian, Italia tidak akan berbuat apa-apa.”

“Bagus! Uni Eropa pun kabarnya tidak akan bergerak. Perjanjian-perjanjian yang kita buat memang sangat berguna. Setelah Vatikan di tangan kita, selanjutnya kita bisa bergerak untuk menaklukkan seluruh Eropa.”

“Insyaallah, semoga Allah memudahkan dan melancarkan.”

“Anda tahu, Jenderal, Eropa adalah sarang kemaksiatan? Para pelacur berkeliaran di mana-mana, perempuan-perempuan telanjang dibiarkan, anak-cucu kaum Sodom dan Gomorah pun bebas merajalela, sebuah peradaban yang memuakkan. Dan kita akan bersihkan semua itu dari bumi Allah yang suci ini.”

Jenderal Ali Khan mengangguk dengan teguh. “Peradaban Islam akan menggusur seluruh budaya kufur yang ada, dan menebarkan rahmat kepada seluruh alam.”

Kedua orang besar di dalam jajaran pemerintahan Khilfah Islamiyah itu menatap ke depan, kepada cita-cita besar yang telah sejak ribuan tahun yang lalu telah ditetapkan kepastiannya oleh Rasulullah saw.

“Jika futuhat kita hari ini berasil, tandanya Allah telah memberi kemuliaan kepada kita untuk mewujudkan janji Rasulullah saw. Sejak ribuan tahun yang lalu, dan sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Allah swt.” Lanjut Khalifah. “Insyallah kitalah umat yang terbaik.”

Seluruh pasukan Khilafah Islamiyah terus melaju menuju satu tujuan, menaklukan Roma, mewujudkan janji Rasulullah saw.

 

000

Pada salah satu jendela di Basilika Santo Petrus, Paus Benedictus XVI menatap keluar dengan gemetar. Uskup Ferdinand selalu menemaninya dan kali ini dia harus memegangi tubuh ringkih Paus karena pemimpin besar Kristen itu gemetar tak tertanggungkan. Apa yang dia lihat di luar membuatnya gemetar hebat seperti itu. Seluruh Vatikan telah dikepung oleh prajurit berseragam putih-putih yang bersiap menerima perintah. Mereka adalah prajurit Khilafah Islamiyah.

ALLAAAHU AKBAR

ALLAAAHU AKBAR

ALLAAAHU AKBAR

Gema takbir menyobek langit Vatikan, menancapkan kalimat suci itu di tempat dimana kalimatullah belum pernah bergema. Dan hari itu, kalimah tayyibah bergema di jantung Kristen dunia. Dan kalimat takbir itu seolah-olah dentuman guruh yang menggedor-gedor telinga dan hati Paus serta seluruh jajaran uskupnya. Apakah hari itu adalah akhir dari agama Kristen?

Seluruh Vatikan penuh dengan hiruk-pikuk. Mereka berusaha menyelamatkan segala sesuatu yang perlu diselamatkan, walau pun mungkin sudah terlambat, sebab tentara Khilafah telah mengepung seluruh dinding Vatikan. Garda Swiss, pasukan resmi Kepausan, yang jumlahnya tak seberapa bersiap di berbagai posisi yang diperkirakan pasukan Khilfah akan masuk dari sana. Mereka bersiap berperang, walau mereka tahu mereka pasti kalah. Tentara Khilafah belum bergerak, karena belum ada perintah. Jika dipantau dari angkasa, terlihat bahwa Vatikan telah dikelilingi oleh lautan manusia berseragam putih. Gemuruh takbir terus digemakan oleh seluruh pasukan Khilafah, seolah akan meruntuhkan langit. Penaklukan hari itu hampir dipastikan akan berhasil.

Sebuah helicopter militer warna hitam melayang di atas Basilika Santo Petrus. Perlahan-lahan helicopter itu mendarat di lapangan depan gerbang Basilika Santo Petrus. Dari sana keluarlah Khalifah dan Jenderal Ali Khan. Mereka berdua melangkah menuju pintu depan basilica. Di sana telah hadir seluruh uskup di Vatikan dengan jubah-jubah mereka yang panjang. Khalifah dan Jenderal Ali Khan tegak dengan gagah di depan para uskup itu. Tak lama kemudian Paus keluar dari Basilika dengan didorong di atas kursi roda oleh uskup Ferdinand.

Tubuh Paus gemetar. Khalifah sampai bisa melihat dengan jelas tubuh ringkih yang gemetar itu. Paus menunduk saja di hadapan Khalifah. Semua uskup terdiam, mereka menatap Khalifah dengan penuh kepedihan. Hari ini mereka telah kalah.

“Serahkan kota ini kepada kami, dan kami akan menjamin kesejahteraan anda semua,” kata Khalifah. “Kami akan menerapkan syariat Islam di sini, dan anda semua akan mendapatkan jaminan keamanan untuk melaksanakan doa dan ibadah kalian. Jangan melawan kami sebab hal itu tidak ada gunanya. Jika anda melawan, kami telah siapkan pasukan kami di luar tembok kota dan akan kami rebut kota ini dengan kekuatan senjata.”

“Me…me…mengapa anda melakukan semua ini?” Tanya Paus dengan terbata-bata. Wajahnya mendongak kepada Khalifah. Matanya yang keriput dan kuyu menatap penuh Tanya. “Mengapa anda berbuat begini kepada kami? Apa salah kami?”

“Anda telah salah karena menyekutukan Allah. Anda telah menyembunyikan kebenaran, padahal akal anda tidak akan pernah bisa menyangkal agama mana yang benar, namun anda mendustakan kebenaran itu, dan tetap bertahan dengan semua kebohongan ini. Apakah anda tidak ingat, apa yang telah dilakukan Kepausan kepada umat Islam sejak dulu? Islam tidak mengajarkan kami mendendam, namun jika kekuasaan masih ada di tangan anda, anda pasti akan berbuat kezaliman yang nyata. Karena itulah kami wajib membersihkan kezaliman itu.”

Suara takbir terus menggema, semuanya orang di depan pintu basilica santo petrus itu terdiam. Jenderal Ali Khan menatap tajam pada Paus Benedictus. Khalifah mengembuskan napasnya.

“Untuk yang terakhir kali saya sampaikan,” kata Khalifah, tatapan matanya tajam kepada Paus yang ringkih itu, “serahkan kota ini, atau kami akan berjihad untuk mengambil alih  kota ini.”

Tiba-tiba Paus terisak. Dia menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya yang keriput. Setengah dari Uskup yang berdiri di depan basilica itu pun turut menangis. Khalifah mengernyitkan dahinya menatap apa yang terjadi di hadapannya. Jenderal Ali Khan tetap dengan pembawaannya yang dingin. Pelan-pelan tangan kisut Paus bergerak merogoh saku di balik lipatan pakaiannya. Dia mengeluarkan sebuah anak kunci dari emas yang diikat pula dengan kalung dari emas, dan menyodorkannya dengan gemetar kepada Khalifah. Airmatanya berderai.

“Ini adalah kunci kota Vatikan, lambang dari penguasaan kota ini. Aku serahkan kota ini kepadamu. Penuhi semua janjimu.” Suara Paus serak dan parau.

Khalifah mengangkat tangan kanannya, meraih kunci emas itu. Digenggamnya kunci itu kuat-kuat dan dibelitkannya rantainya pada telapak tangannya.

“Anda jangan khawatir. Perintah Tuhan kami sangat jelas, kami pun tidak memerintah dengan hawa nafsu. Anda akan mendapatkan seluruh hak anda berdasarkan syariat.”

Khalifah dan Jenderal Ali Khan berbalik kemudian melangkah pergi. Mereka berjalan dengan gagah menatap kemenangan. Beberapa detik kemudian prajurit negara Khilafah mengalir masuk ke dalam kota Vatikan, tidak bisa dibendung lagi. Pasukan Garda Swiss tidak bisa berbuat apa-apa. Prajurit negara Khilafah segera mengamankan mereka dan memperlakukan mereka dengan baik. Hanya dalam beberapa menit saja hampir seluruh kota Vatikan sudah dipenuhi oleh tentara Muslim dan dimeriahkan dengan pekikan takbir yang membahana di setiap sudut Vatikan. Khalifah berdiri di hadapan pintu besar basilica santo Petrus, di undakan tangga paling atas. Ia mengangkat kunci emas yang ada di tangan kanannya tinggi-tinggi dan takbir lagi-lagi bergemuruh, gemetar. Tatapan matanya menyapu seluruh prajurit Muslim yang telah bersorak riuh di hadapannya, namun tertib dan santun, tak ada pengrusakan sedikit pun yang mereka lakukan.

“Hari ini janji Allah dan RasulNya sudah dibuktikan. Hari ini kemenangan dan keagungan hanyalah milik Islam dan kaum muslim. Semoga Allah merahmati kita, melimpahkan rahmat dan kesejahteraan kepada kita. ALLAAAAHU AKBAR.”

 

Tamat.