“Maaf, saya tidak bisa!” Kata Paus dengan lemah. Dia menunduk menatap lantai marmer di bawahnya. Sementara tubuhnya yang gemetar sudah tidak bisa ditahannya lagi. Uskup Ferdinand dengan susah-payah memeganginya.

 

Khalifah tersenyum kecil dan mengangguk pelan.

 

“Terima kasih banyak atas jawaban anda,” katanya.

 

“Apa yang akan anda lakukan, Khalifah? Tolong kasihani kami, ampuni kami. Tolong jangan ganggu ketenangan kami.” Paus sudah memelas.

 

Khalifah menggeleng perlahan.

 

“Anda jangan berpikir bahwa kami pengganggu. Sebab kami hanya menyampaikan kebenaran, dan kebenaran ini bisa diuji. Kami hanya menyerukan sesuatu yang sudah sama-sama kita ketahui. Jika kita menengok ke belakang, mungkin anda tahu, Kepausanlah yang telah menyebabkan musnahnya jutaan umat manusia. Bahkan bukan cuma para tentara yang berperang, tapi juga orang-orang yang tidak bersalah, rakyat sipil, wanita, anak-anak, orangtua. Kami tidak pernah menemukan toleransi pada setiap tindakan Kepausan. Selama ratusan tahun kami dibantai, selama ratusan tahun pula Kepausan merestui setiap pembunuhan yang dilakukan atas diri kami bahkan hingga sekarang. Dengan kata lain, kedatangan kami kemari adalah untuk menghentikan Kepausan dari semua dosa itu. Sebab semua itu hanyalah hawa nafsu. Kedatangan kami adalah untuk membebaskan umat manusia dari penjajahan hawa nafsu yang membelenggu, menuju penyembahan kepada Allah Tuhan kita semua.”

 

Sunyi-senyap tiba-tiba mengambang. Yang terdengar hanyalah suara pelan kidung-kidung suci di kejauhan. Selama beberapa detik tak ada yang bicara. Semuanya tenggelem dalam alam pikiran masing-masing.

 

“Maaf, Khalifah, kami tidak bisa.” Kata Paus pelan.

 

“Baiklah,” sahut Khalifah. “Apapun yang terjadi, apapun yang anda katakan, jatuhnya kota ini ke tangan kami adalah janji Tuhan dan Rasul kami. Tidak ada kuasa apapun yang bisa menghentikannya. Kami akan mengirimkan angkatan perang kami untuk mengambil alih kota ini. Jika anda melakukan perbuatan-perbuatan yang mengindikasikan perlawanan terhadap kami, maka kami akan menghancurkan anda dan setiap pergerakan itu, tandanya anda telah menghalang-halangi sampainya keagungan Islam kepada umat manusia. Tapi jika anda tidak melakukan semua perbuatan itu, maka diri anda akan terjaga…”

 

Mendengar semua kata-kata Khalifah itu, Paus ambruk ke lantai. Dia jatuh terduduk, tak kuat lagi menopang tubuhnya. Dia menangis tersedu-sedu, dan tiba-tiba dia mengacungkan telunjuknya kepada Khalifah, dan membelalak.

 

“Anda tidak tahu apa yang sedang anda lakukan. Semua tindakan anda ini akan memicu perang besar!”

 

“Justru kami akan membebaskan umat manusia dari tirani kepemimpinan Kepausan yang sejak dulu telah menebarkan malapetaka kepada umat manusia. Baiklah, silakan anda pikirkan lagi semua yang telah kami sampaikan. Jangan salah mengambil keputusan, sebab anda sendiri yang akan menanggung konsekuensinya. Kami pamit!”

 

Khalifah dan Jenderal Ali Khan berbalik kemudian melangkah keluar Basilika Santo Petrus. Menyisakan kegundahan yang amat kental di hati Paus dan semua orang yang ada di ruangan keramat bagi orang Kristen itu.

 

000

Downing Street Nomor Sepuluh seolah-olah runtuh oleh gelegar kemarahan. Perdana Menteri Italia, Silvio Berlusconi, sedang menghadap Perdana Menteri Inggris, David Cameron. Dan apa yang mereka bicarakan benar-benar membuat mereka tegang.

 

“Kita mesti menyerukan seluruh Eropa untuk mengobarkan perang salib untuk melawan invasi Khilafah ke Roma. Mereka sedang terus mempersiapkan diri untuk menyerang Roma, kita tidak bisa tinggal diam,” Berlusconi bicara dengan menggebu-gebu. “Kalau kita terlambat sedikit saja, Roma akan porak-poranda. Kita sudah tidak punya cara lain selain perang salib. Bapa Suci pun mendorong hal itu.”

 

“Memang sudah seharusnya begitu,” sahut Cameron. “Tapi nampaknya kami sudah tidak bisa memenuhi apa yang anda katakan. Masa-masa perang salib sudah lama berlalu.”

 

Berlusconi serta-merta bangkit dari kursinya dan mencondongkan tubuhnya kepada Cameron. “Apa yang terjadi pada anda? Mengapa anda bicara seperti ini? Apakah anda tidak mencintai agama anda sendiri? Mereka akan menyerang, tahta suci sudah di ambang perang, mengapa anda bicara seperti ini?”

 

“Saya mengerti semua yang anda rasakan.”

 

“Jika anda mengerti sebenarnya anda tidak pantas bicara seperti tadi.”

 

“Pahamilah sesuatu bahwa anda tidak bisa mendapatkan semua yang anda inginkan. Ide anda memang bagus sekali dan memang sudah seharusnya dilakukan, tapi anda tidak bisa memaksa saya untuk menuruti apa yang anda inginkan. Kondisi setiap negara pastilah berbeda-beda, dan saya mengambil keputusan seperti ini karena memandang kondisi Inggris saat ini.”

 

“Memangnya apa yang sedang terjadi pada Inggris? Bukannya Inggris adalah sebuah negara besar yang menguasai berbagai sumberdaya di dunia ini? Mengapa tidak berani keluar berperang melawan orang-orang Islam itu? Apalagi tahta suci sedang terancam, bukankah itu adalah sebuah alasan yang kuat untuk kita mengobarkan perang salib? Masa-masa perang salib telah berlalu adalah suara-suara sumbang yang harus dibuang jauh-juah dari kamus kita.”

 

“Anda tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Inggris sekarang ini, dan anda tidak perlu tahu akan hal itu. Yang pasti Inggris menolak upaya perang salib karena masanya telah berlalu. Yang harus kita pakai sekarang adalah cara-cara beradab dengan diplomasi dan perudingan.”

 

“Bagaimana mungkin kita berunding dengan orang-orang yang tidak menghendaki perundingan sama sekali? Bagaimana mungkin kita memakai cara beradab dengan orang-orang barbar yang hanya menginginkan perang?”

 

“Apapun yang anda katakan, Inggris tetap menolak perang. Itulah keputusan final dari saya, dan anda tidak bisa memaksa saya untuk melaksanakan apapun yang anda katakan.”

 

“Sekarang aku sadar bahwa Inggris memang benar-benar pengecut.”

 

“Terserah anda.”

 

Tanpa bicara apa-apa dan tanpa pamit sedikit pun Berlusconi berlalu dengan geram. Langkahnya gontai ditemani perasaan hatinya yang muram. Cameron hanya bisa menatap punggung Berlusconi yang kian menjauh. Tinggallah dia bergumam sendiri di dalam hati.

 

Kalau kau tahu, jika Inggris menghalang-halangi apa yang ingin dilakukan Khilafah, pastilah fasilitas angkatan perang Inggris akan diledakkan dengan sekali tekan tombolnya. Mereka telah berhasil menanamkan bom dengan teknologi yang kami sanggup jinakkan. Posisi Inggris telah mereka kunci.